Twenty Six

394 32 0
                                    

Lidya kini tengah menyandarkan kepalanya di pundak Zhiro. Ia sedikit terpejam menunggu kedatangan Zhiro dan Dimas yang belum juga pulang sedangkan Restu kini telah berada di kediaman Guarda untuk beristirahat.

"Bagaimana perjalananmu? Pastilah sangat menyenangkan tanpaku. Kau merasa senang bersama suamimu dan meninggalkanku dengam rasa rindu," sesal Oxy sembari menghela nafas menunggu pintu yang belum dibuka.

"Maafkanku," gumam Lidya. Ada penyesalan dalam hatinya karena telah sedikit berlebihan dengan merahasiakan kepergiannya dari saudaranya sendiri.

"Tidak apa-apa.  Aku telah terbiasa atas masa yang termakan waktu. Mungkin saja menunggu kedatanganmu adalah kebiasaan baru bagiku," gumam Oxy lagi. Ia telah lama memendam segala kalimat keluh yang tidak pernah ia ungkap selama ini.

"Andaikan...."

"Andaikan kau terlahir bukan sebagai putri Lathfierg pasti kau tidak akan seperti ini, seakan menyelamatkan nyawa setiap hari namun itu sia-sia. Bisa saja suatu saat kau akan menghilang, bukan kau saja tetapi juga aku, Gio ataupun Aluna," potong Oxy tanpa membiarkan Lidya melanjutkan kalimatnya.

"Tetapi jika aku bukan putri dari Lathfierg, maka aku bukan saudaramu," gumam Lidya yang memberikan alasan yang terkesan logis.

"Biarkanlah seperti itu daripada kau terlahir hanya untuk mati di tangan para manusia yang haus akan harta serta kekuasaan," gumam Oxy dengan mengelus rambut Lidya.

Tanpa sadar air mata Lidya menetes. Oxy melirik ke arah tetesan air yang baru saja menetes. "Kau menangis?"

Oxy mengangkat dagu Lidya agar wanita itu menatap matanya. "Maafkan aku, aku telah menyakitimu."

Oxy menghapus titik air sendu yang berhasil membuat hatinya terenyuh. "Jangan menangis lagi, jika Zhiro melihatnya aku memastikan jika dia akan mengutukku berulang kali."

Oxy tersenyum berharap wanita itu juga mengikuti senyumannya. Caranya berhasil, Lidya tersenyum walaupun ada kepahitan di setiap sudut bibirnya. "Aku tau jika kau selalu menahan rindumu. Aku melihat itu dari kamera pengintai yang aku pasang di rumah El dan di atap Gio. Kau terlihat begitu merindukanku."

"Tetapi berhari-hari waktu telah mengetukku dan membuatku paham jika Zhiro hanya ingin kau selalu selamat. Entah berapa luka dan kantong darah yang ia korbankan. Harusnya aku percaya dengan Zhiro, kemampuan lelaki itu tidak harus selalu diragukan," sesal Oxy dengan wajah yang sedikit berseri.

"Kalian tidak ingin memakan sesuatu?" tanya Aluna sembari membawa sepiring makanan dari dapur.

"Aku tidak lapar," sanggah Oxy dengan lekas.

"Tetapi kau harus makan, aku tidak ingin keponakanku kekurangan gizinya dan menjadi tidak sekuat orang tuanya," pinta Oxy dengan merebut piring Aluna dan menghantarnya tepat di hadapan Lidya.

Aluna hanya mendengus kesal. "Bisakah kau menjadi kreatif untuk mengambil makanan untuk kakakku bukan merebut makananku."

Lidya terkekeh mendengar ocehan Aluna. Ia mengambil piring dari tangan Oxy dan memberikannya kembali ke Aluna. "Kau makan saja, aku hanya ingin makan jika Zhiro telah kembali."

"Bagaimana jika Zhiro belum pulang malam ini? Kau akan jatuh sakit dan bagaimana keadaan janinmu ketika kau sakit. Ayolah Zhiro masih lama datang."

"Ada apa kalian menyebut namaku? Sepertinya aku tengah dibicarakan dalam pembicaraan yang serius," gumam Zhiro yang baru saja datang dan duduk di sebelah Lidya sembari mencium pipinya.

"Dia belum ingin makan jika kau belum kembali. Aku tengah membujuknya namun dia terlalu keras kepala," hela Oxy seakan mengadu untuk adiknya sendiri.

"Mengapa kau belum makan? Bagaimana dengan anak kita?" Zhiro hanya menyipitkan mata seakan dia kini tengah merasa kesal, namun sedetik dari itu lelaki itu tersenyum. Dia sangat paham jika kesedihannya juga berpengaruh dengan perasaan hati istrinya.

"Bagus, kini kau tengah mempedulikan istrimu dan memamjakannya.  Sedangkan aku?" sindir Dimas sembari melangkah memasuki rumah tersebut.

"Banyak alasan dari apa yang aku lakukan kini. Pertama, Lidya adalah orang yang sangat aku sayangi. Kedua, aku mencintainya. Ketiga, aku sangat merindukannya... "

"Merindukannya? Kau baru saja beberapa jam ini tidak bertemu dengannya. Kau teramat berlebihan," potong Dimas dengan lekas.

"Kau belum menikah. Keempat, dia istriku dan pasti dia merindukanku. Dan yang terpenting adalah Lidya kini tengah mengandung anakku," gumam Zhiro melanjutkan alasannya.

"Dan kau hanya sebagai keluargaku, jika kau adalah istriku maka kau akan mendapatkan prioritasku," sambung Zhiro yang membuat Dimas hanya menatapnya datar.

"Kau terluka?" tanya Lidya ketika ia melihat sebagian luka yang memenuhi lengan Dimas.

"Apakah kalian mendapatkan serangan? Kesini, aku akan mengobati lukamu," tawar Lidya dengan lekas.

"Aku rasa itu tidak perlu kau lakukan, dia lelaki dan aku yakin dia bukan wanita. Kau yang harus segera makan dan suamimu telah kembali untuk memanjakanmu." Tanpa berkata apapun, Zhiro mengangkat Lidya ke meja makan.

"Turunkan aku, bagaimana jika aku nanti terjatuh?" gumam Lidya dengan sedikit membantah, ia sedikit meronta dari genggaman lengan Zhiro.

"Kau harus diam dan tenang, jikapun kau jatuh maka aku akan menangkapmu dengan cepat dan memelukmu dengan erat agar kau tetap merasa tenang. Aku suamimu dan lihat para Macan tengah memasang mata yang begitu tajam, kau ingin agarku diterkam oleh mereka dengan ganasnya?" gumam Zhiro dengan berhenti dan seakan memberikan sedikit pengertian kepada Lidya.

"Bisakah aku meminta sesuatu?" tanya Lidya dengan penuh harap. Zhiro sepertinya tidak merasa lelah sedikitpun, ia masih tetap menempatkan Lidya pada gendongannya.

"Apa yang ingin kau minta?" tanya Zhiro di depan Oxy, Aluna dan Dimas. Mereka bertiga hanya menjadi pendengar yang baik.

"Kau juga makan bersamaku," gumam Lidya dengan menatap Zhiro dalam.

"Aku akan makan bersamamu, aku akan makan sesuatu hanya dari tanganmu. Semuanya hanya darimu, jikapun aku terluka, aku hanya ingin diobati oleh tanganmu. Kau telah cukup memenuhi segala kebutuhanku dan aku menemukan segalanya dalam dirimu. Kau begitu senang melihat anakku menunggu untuk disuapi, aku yakin dia pasti merindukan tanganku." Lidya hanya tersenyum lega mendengar kalimat yang Zhiro lontarkan, ia selalu merasa tenang jika Zhiro telah menenangkan hatinya.

"Mengapa kau menatapku?" Lidya mengerjapkan matanya, Zhiro menatapnya tanpa berkedip.

"Aku ingin waktu berhenti sebelumnya, agar aku hanya bisa melihatmu tertawa dan tersenyum. Hanya itu yang ingin aku abadikan, hidup dan memanjakan mataku dengan senyumanmu itu sangat membahagiakan. Namun, aku tidak akan membiarkanmu mengulur waktu untuk mengubah niatku," gumam Zhiro lalu melanjutkan langkahnya ke arah dapur.

Mereka bertiga yang sedari tadi menjelma menjadi pendengar yang baik, kini juga terenyuh dengan percakapan yang mereka lontarkan.

"Bisakah aku meminta sesuatu padamu? Tolong jaga adikku, aku tidak ingin kehilangannya."

Dimas melirik ke arah Oxy. "Kami begitu menyayangi Lidya, mustahil jika kami tidak menjaganya. Tetapi, kami tidak bisa menjanjikan keselamatannya sebab nyawa kami pun terancam. Hanya satu orang yang berani menjamin keselamatan Lidya, dia adalah Zhiro. Aku merasa yakin, jika Lidya tidak ada maka Zhiro juga tidak ada lagi."

Leave The World with Yourlove [Lathfierg Series] [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang