42.Jangan Pergi

2.8K 144 0
                                    

Keadaan Alif benar benar kacau saat ini. Penampilannya sangat berantakan. Selera makannya juga menghilang. Sudah tiga hari ini istrinya tak sadarkan diri. Malah kondisinya semakin memburuk.

Pria bertubuh jangkung itu mendekati ranjang pesakitan Luna. Digenggamnya tangan mungil itu. Berharap sebentar lagi istri cantiknya akan membuka mata indahnya. Wajah yang biasanya menyemburatkan warna merah merona dipipi, sekarang berwarna putih pucat. Tubuh yang selama ini selalu memberikan pelukan hangat, kini hanya terbaring tak berdaya. Kapan semua akan kembali seperti sedia kala?

Alif menatap lekat setiap inchi pahatan diwajah Luna. Lagi dan lagi air matanya kembali luruh. Ia tak sanggup melihat wanita yang begitu dicintainya dipanggil Sang Maha Kuasa secepat ini.

"Sayang, bangun dong, kamu gak kangen sama aku? kamu gak pingin gendong anak kita?"tanya Alif bermonolog.

Luna masih setia memejamkan matanya. Bernafas dengan tenang dan teratur seakan tak ada beban dalam hidupnya.

"Kamu tahu gak? Anak kita cantik, sama kayak kamu!"ucap Alif dengan buliran bening yang satu persatu menetes.

Suara decitan pintu terdengar, namun tak mampu mengalihkan perhatian Alif dari istrinya. Wanita paruh baya itu masuk, menatap nanar putranya. Seumur hidup Umi Aisyah belum pernah melihat Alif selemah dan serapuh ini. Alif seperti tak punya semangat hidup.

Umi Aisyah mendekati Putranya.Ia turut sedih dan prihatin melihat keadaan Menantunya yang sampai sekarang masih terbaring lemah.

Ia menepuk pelan pundak Alif. Pria itu hanya bergeming ditempatnya. Sebagai seoranh ibu, Umi Aisyah sedih melihat Alif seperti ini.

"Alif, Umi tahu kamu sedih. Umi pun merasakan hal yang sama."ucap Umi Aisyah yang tak ada tanggapan sedikitpun dari putra sulungnya.

"Untuk saat ini yang Luna butuhkan adalah doa kita, bukan tangisan."
Hati Alif terhunus mendengar penerangan dari Uminya. Umi Aisyah benar, yang istrinya butuhkan adalah doa bukan air mata.
Alif baru sadar sekarang kalau selama ini ia menjadi sering meninggalkan sholat sunahnya. Terkadang shokat fardhu juga ia lupa laksanakan karena banyaknya benan dipikirannya. Padahal saat ada masalah seharusnya kita menjadi sering bermunajat kepada Sang Kuasa bukan malah menghindar apalagi menyalahkan takdirnya.
Ia lalai. Tak sebaiknya mencintai seseorang melebihi sang penciptanya. Mungkin ini bentuk teguran dari-Nya. Ia sadar ia salah.

Mencintai dengan sewajarnya.

Astaghfirullah!
Ampuni aku Ya Allah

Alif mengusap wajahnya kasar. Dipandangnya intens wajah sang Umi. Nampak sekali dimatanya bahwa dia juga hancur, sama seperti dirinya. Alif yang terlihat hancur karena Luna dan Umi Aisyah hancur karena melihat putranya seperti ini. Ia memeluk uminya. Pelukan yang selalu menenagkannya dikala risau.

"Lebih baik sekarang sholat Dhuha lalu doakan istrimu agar dia cepat pulih." Titah umi Aisyah.

Alif menurut. Ia meninggalakan Umi Aisyah melangkahkan kakinya menuju mushola yang ada dirumah sakit ini.
Pria itu membasuh sebagian anggota badannya dengan air wudhu. Ia melaksanakan empat rakaat sholat dhuha bersimpuh dihadapan Tuhannya.

"Ya Allah...
Hamba mohon
Berilah kesehatan serta kesembuhan untuk istri hamba
Hamba belum siap untuk kehilangannya...
Beri hamba kesempatan untuk membahagiakannya
Menebus dosa hamba yang telah lalu
Hamba sangat mencintainya...
Kabulkan doa hamba Ya Allah...
Aaminn..."

Ia mengusap wajahnya selesai berdoa. Alif mengambil Al Qur'an lalu melantunkan surah Al Kahfi. Kebetulan hari ini adalah hari Jum'at, banyan faedah bila membaca syrah tersebut.

Alone in Love (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang