Titip Dinda

34.4K 2.3K 228
                                    

Yang masih melek sini absen duluuu!!!!

Wkwkwk... Yey.. Finall up😂
menjelang END jadi rajin Up😉

Oh iya.. Kayaknya saya nggak jadi hiatus... Nggak bisa bayangin hari saya tanpa komen2 dan votes kalian😂😂 hambar gaiss😂

Typo2 maklum yess.. Langsuung ketik masih fresh.. Anget2 pantat ayam langsung up😂 (pdhl biasanya juga gini😂)

Wis lah.. Yuk eksekusi

Dinda tersenyum cerah kala usapan tangan mungilnya diperut buncit Secha mendapat respon berupa tendangan kecil dari sang adik yang berada didalam sana.

"Adiknya nendang bun.." ucap Dinda takjub, meskipun ini bukan pertama kalinya, namun tetap saja Dinda selalu merasa begitu takjub dan senang.

"Iya sayang.." kekeh Secha sambil mengusap rambut coklat milik Dinda.

"Dinda main ukulele ya bun buat adik?" tanya Dinda penuh semangat.

"Boleh, biar bunda ambilin dulu ukulele nya."

Dinda segera menahan tangan Secha,"Bunda duduk disini aja, biar Dinda yang ambil sendiri ukulelenya."

Secha menurut, meski penglihatannya tak berfungsi Dinda adalah anak yang gigih, mandiri, dan rajin. Secha merasa heran sekaligus bangga pada Dinda yang kala itu masih berusia enam tahun namun sudah bisa merapihkan tempat tidurnya sendiri, juga memakai dasi dan sepatu sendiri.

Tangan halus Secha mengusap perutnya penuh dengan cinta, dengan segenap hati ia berdoa agar kelak sang jabang bayi memiliki sifat tanggung jawab, mandiri dan rajin seperti sang kakak, Dinda.

Usia kandungan Secha memasuki bulan ke delapan, dan rencananya bulan depan sebelum si kecil lahir, ia dan seto sepakat untuk menitipkan Dinda pada Bagas, sekaligus ajang liburan untuk Dinda. Dan tentu dengan senang hati Dinda pun setuju, bahkan gadis cilik itu sudah tak sabar bertemu kembali dengan sang guru.

Bagaimana mungkin Dinda tidak merindukan Bagas, lelaki itu adalah partenernya dalam bermain alat musik, dan kini ia benar-benar kesepian karena guru les alat musiknya benar-benar menyebalkan. Menurutnya hanya Bagaslah yang terbaik.

Secha tersentak kala petikan senar ukulele berbunyi lumayan nyaring didekatnya.

"Bunda kaget?" tanya Dinda kala mendengar helaan nafas sang Bunda.

"eh sayang.."

"Hehe.. Maaf ya bun." cengir Dinda memamerkan deretan gigi putih dengan satu gingsul didekat gigi taringnya.

"It's okey sayang.. ayo nyanyi buat adik." ujar Secha sambil menarik Dinda agar lebih dekat dengan dirinya.

...

"Nanti kalau sudah sampai rumah om Bagas, Dinda harus nurut ya sama om Bagas. Jadi anak yang baik okey?" pesan Seto pada Dinda yang nampak sibuk dengan sang adik yang masih berada diperut sang bunda, ia sudah tak sabar bisa meraba wajah adik kecilnya.

"Iya ayah.. Dinda kan anak baik."
Jawab Dinda sekenanya, gadis kecil itu masih bermanja-manja diperut sang bunda.

Seto menatap gemas sang putri, membuat Secha terkekeh.

"Ih.. Bunda pasti bakalan rindu berat deh sama kakak." adu Secha pada Dinda sambil mengusap rambut pirang putrinya.

"Dinda kan cuma dua minggu di rumahnya om Bagas bun.. Tapi pasti nanti Dinda juga kangen sama bunda." jawab Dinda sambil menduselkan hidungnya diperut Secha.

"Iya deh yang pada peluk-pelukan.. Ayah nggak diajak nih?"

Secha dan Dinda kompak terkekeh, tanpa hitungan menit kedua wanita beda usia itu kini berada dalam pelukan Seto.

Sore ini Dinda akan berangkat ke Kediri bersama dengan dua orang bodyguard suruhan ayahnya dan Whulandary, seorang suster yang membantu Secha mengurus Dinda sejak bayi.

Dilain tempat, seorang lelaki dewasa nan tampan dan gagah dengan setelan kemeja batik tulis dengan motif parang serta celana hitam kain dan sepatu pantopel hitam mengkilap nampak tersenyum lega, bisinis kayu putihnya kini resmi diekspor ke sebuah perusahaan wewangian di Turki dan Albania.

Selangkah demi selangkah namun pasti. Bisnis orangtua Bagas semakin berkembang pesat, belum sampai satu tahun namun kini nama Bagas mulai masuk dalam jajaran pengusaha lokal yang diperhitungkan dan tak diragukan lagi eksistensinya.

Mulai dari mengisi seminar dan aktif dalam organisasi sosial apalagi dengan status single yang disandangnya, membuat Bagas semakin digandrungi banyak wanita.

Jiwa sosial yang begitu tinggi, sukses, tampan dan terkenal seolah menjadi magnet yang kuat pada diri Bagas.

"Mas Bagas!"

Bagas menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.

Bagas tersenyum sopan menyapa wanita yang tadi memanggilnya.

Dania, salah seorang kolega ibunya yang secara otomatis kini menjadi kolega Bagas juga.

"Bu Dania." sapa Bagas sopan.

"Kebetulan sekali ya mas ketemu disini, saya tebak pasti mas Bagas habis ketemu sama klien?" ujar Dania sambil mengapit tangan Bagas.

"Iya Bu, maaf saya buru-buru." jawab Bagas risih sambil melepaskan apitan tangan Dania.

Buru-buru Bagas masuk kedalam mobilnya.

"Saya duluan Bu Dania." Bagas segera melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran restoran  begitu juga Dania yang menggerutu sebal disana.

"Astaghfirullah... jaman makin edan! Perempuan bukannya jaga diri malah ngasih umpan! Makin susah cari perempuan kaya Bu Secha, anggun,anteng, baik, nurut, jaga sikap, sabar, dewasa, cantik, dan yang paling penting nggak pernah pakai alis segede alis sincan." Rutuk Bagas, jujur dalam hatinya ia menjadikan Secha patokan dalam mencari jodoh.

Ia benar-benar mengidolakan istri sang mantan majikan.

Kring.. Kring..

Bagas menepikan mobilnya, lelaki tampan itu merogoh kantung celananya untuk mengambil ponselnya yang berdering.

Mas Seto

Bagas mengelus dada bidang dan berotot miliknya sambil menetralkan nafas.

Jangan bilang Seto menelfon karena tau kalai Bagas sedang memikirkan Secha(?) Tentu TIDAK! sangat tidak mungkin!

"Halo.. Assalamualaikum mas."

"Walaikumsalam Gas. Anakku wis OTW loh! Ojo lali dijemput." (anakku udah OTW loh, jangan lupa dijemput)

"Nggih mas, ini saya sebentar lagi sampai Bandara."

"Yowis. Nuwun yo Gas." (yaudah. Makasih ya Gas)

"Nggih mas, sami-sami. Assalamualaikum." (ya mas. Sama-sama)

"Walaikumsalam. Eh ojo modus lo dumeh ono Whulan." (jangan modus loh mentang-mentang ada Whulan)

Ejek Seto diiringi kekehan kekehan khas dirinya.

"Mboten mas!" (enggak Mas!)

Bagas tertawa garing, darimana asal-usulnya Bagas modus sama Whulan, yang ada dibikin pepes Bagas sama Whulan yang galaknya melebihi indukan singa.

Lelaki itu kembali melajukan mobilnya dengan perasaan gembira, membayangkan wajah imut nan polos Secha versi kecil yang benar-benar ia sayangi.

Ah ya.. Shabira..

Gadis kecil dengan segudang bakat dan keistimewaan itu telah berhasil mencuri perhatikan dan hati Bagas.

Katakanlah ia gila, namun entahlah.. Bagas pun tak tau sejak kapan perasaan aneh ini mulai tumbuh.. Yang jelas ia mencintai gadis kecilnya.

Cut😙

Yey.. Mau End😂😂

Bagas sama Dinda? Masa sih?

(un)Loved Wife [END/COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang