Haru membuka pintu ketika bel berbunyi dengan tidak sabar. Dan mendapati Saiki yang menatap Haru tak percaya.
"Sensei! Kenapa Sensei berhenti?" Saiki meraih jemari Haru dan menatap Haru dengan sedih.
"Saiki-san?" Haru kaget sampai hanya bisa memanggil nama Saiki.
"Sensei, Sensei sudah menyelamatkanku, Sensei tau berapa besar jasa Sensei untukku? Dan bagaimana perasaanku sekarang mendengar Sensei berhenti. Sensei, jangan berhenti. Aku mohon..." Saiki menatap Haru sambil meremas pelan jemari Haru.
"Saiki-san, ayo masuk dulu." Haru mengajak Saiki masuk dan menutup pintu. "Silahkan duduk."
"Aku tidak bertamu, aku mau bicara dengan Sensei," kata Saiki.
"Iya, duduklah dulu. Bagaimana kamu bisa tau alamat rumahku?"
Saiki duduk sambil terus menatap Haru. "Dari Reishi- Senpai."
"Kamu pergi sendiri saja? Tidak dengan Arisawa-Sensei?"
"Tidak, kenapa jadi Sensei yang bertanya padaku? Sensei, aku bicara serius. Sensei harus kembali ke rumah sakit. Banyak yang membutuhkan Sensei. Yang ingin sembuh oleh Sensei."
Haru menghela nafas dan bersandar ke sofa. "Aku tidak ingin membicarakan itu sekarang sebenarnya."
"Sensei, Sensei tau bagaimana perjuanganku untuk tetap kuliah kan? Dengan kemampuan mengingatku yang parah, aku terus berjuang sampai sekarang. Impianku adalah menjadi dokter sepertimu. Walau sempat ingin berhenti, tapi jiwaku tidak ingin berhenti. Aku yakin aku sudah ditakdirkan menjadi dokter nantinya walau keadaanku tidak seperti dulu lagi. Aku sangat kesusahan sampai harus membawa catatan kemana-mana dan reminder yang tiap sebentar berbunyi dari ponselku. Bahkan selalu menyusahkan Keita dengan tersesat dan lupa mau kemana," kata Saiki sambil memandang Haru yang menatapnya dengan sendu.
"Rasanya sangat berat Sensei tapi aku bisa melewatinya. Sensei yang diberkahi dengan semuanya tanpa ada kekurangan kenapa ingin berhenti karena satu kegagalan yang bukan Sensei yang melakukannya? Sensei, kalau bukan karena Sensei aku tidak akan berada di sini. Tidak akan bertemu orang-orang yang kusayang lagi." Mata Saiki tiba-tiba berkaca-kaca.
"Aku sangat berterima kasih pada Sensei, dan tidak akan bisa membalas apapun yang sudah Sensei lakukan padaku. Begitu juga dengan orang-orang yang sudah Sensei selamatkan. Aku yakin Sensei pasti berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya. Tapi kalau memang itu takdirnya, kenapa Sensei harus merasa bersalah? Kenapa Sensei harus merasa bertanggung jawab. Peran Sensei hanya menolongnya, bukan menjanjikan hidup dan matinya. Sensei, kamu mengerti kan?"
"Saiki-san..." ucap Haru dengan tenggorokan yang terasa tercekat. Hampir tidak bisa menahan diri mendengar kata-kata Saiki.
"Sensei, kembalilah. ku mohon," pinta Saiki.
Haru menunduk sambil mengulang-ulang kalimat Saiki di kepalanya. "Apakah aku masih punya hak untuk menolong mereka kalau aku sudah gagal seperti ini?"
"Sensei, tidak ada yang gagal. Semuanya sudah diatur. Sensei jangan putus asa seperti ini."
"Aku sudah tidak percaya diri lagi. Tidak percaya lagi dengan tanganku ini." Ucap Haru pelan sambil menatap kedua tangannya.
"Tapi aku percaya padamu. Sampai kapanpun itu."
Haru menoleh pada Saiki dan tersenyum. "Saiki-san... terima kasih. Terima kasih banyak."
###
"Aki-kun, kamu serius? Kenapa kamu membatalkannya?" Tanya Chihiro pada Aki yang baru saja membatalkan kontrak drama romantis yang akan dia perankan.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Time I Have For You (Yaoi) [Completed]
RomanceHaru dikejutkan oleh pasien kritis yang datang tengah malam ke Instalasi darurat. Kemudian ketika pasien itu diputuskan untuk dirawat, Haru diperintahkan menjadi dokter penanggung jawabnya. Namun pasien bernama Aki, yang menderita penyakit kelainan...