Chapter 35

442 28 17
                                    

Jangan lupa vote dan komen ya..

Bacanya pelan-pelan..

~•~

Matanya melotot lalu berdecak. "Ya elah, muncul mulu tuh orang kayak setan," gumamnya lalu berbalik menatap setir.

Gadis itu memijit keningnya seraya menunduk dalam-dalam. Kali ini dia tidak boleh bertemu dengan cowok itu lagi.

"Ayo guys, turun," ajak Mira lalu membuka handle pintu mobil lalu menurunkan satu kakinya.

Begitu pun juga Seli yang akhirnya beranjak turun menyusul Mira, sementara Putri bergusar lalu memakai masker penyamarannya kemudian terpaksa keluar bersama mereka.

Saat melihat Putri, kedua gadis itu langsung merengut kaget. "Heh, lo ngapain make masker?" tanya Seli lalu terkekeh.

"Enggak, hehe di sini agak berdebu," tutur Putri bohong sambil mengipaskan tangannya di depan wajah.

"Masa sih?" Mira menatap sekeliling sambil merengut tidak percaya.

Terdengar derap kaki berlari menghampiri mereka lalu menepuk bahu Putri. Gadis itu pun menoleh lalu sedetik kemudian terdiam pasrah.

"Eh ketemu lagi, kayaknya pertanda jodoh nih," sindir cowok itu sambil terkikik bangga.

"Heh Angga, lo tuh kenapa sih muncul di mana-mana? Gue ke sana muncul, ke sini muncul. Heran gue!" ujar Putri kesal sambil mendongak—menatap Angga yang lebih tinggi darinya dengan bibir cemberut.

Bukannya marah Angga malah mencubit pipi gadis itu yang tampak merona. "Kemarin gimana? Kenyang 'kan gembul?" tuturnya lembut sambil mendekatkan wajahnya ke arah Putri.

Ekspresi Putri sontak berubah sehingga akhirnya gadis itu tidak bisa bereaksi, dia sudah pasrah dengan sikap Angga yang selalu membuatnya membeku.

Tiba-tiba dari belakang Angga, muncul dua orang temannya. Tampak Reza yang membopong Fion yang terlihat sempoyongan dengan mata setengah terbuka.

"Eh kenapa tuh?" tanya Mira sambil menunjuk keduanya dengan dagu.

"Woy! Lo ngapain pake pengharum mobil rasa jeruk sih ah," keluh Fion pada Angga sambil menyisir rambutnya ke belakang.

"Jangan ngomong, bau muntah anj*r !" imbuh Reza sewot seraya menampol wajah Fion dan menjauhkan wajahnya.

Angga melepaskan tangannya dari wajah gadis itu lalu terbahak melihat Fion yang hampir sekarat. Sementara ketiga cewek di sana langsung menutup hidung ketika Fion mendekati mereka.

"Hahaha! Ya udah nanti buang aja pengharumnya," usul Angga masih sambil tertawa.

"Kayak neraka berjalan, kampr*t !" ketus Fion masih dendam. Cowok itu akhirnya berusaha berdiri sendiri kemudian meminum air putih yang ada di tangan kirinya.

Ocehan Fion barusan membuat Seli dan Mira ikut tertawa, sedangkan Putri mulai mengangkat sudut bibirnya.

Angga langsung terpaku pada senyuman kecil itu, membuat tangannya sontak mengacak rambut Putri.

"Cantik banget sih?" ujarnya terang-terangan lalu mengacak sayang rambut gadis itu. Membuat Putri langsung terdiam untuk yang kedua kalinya.

Reza memutar matanya lalu menurunkan tangan Angga dari kepala Putri dengan kasar. "Lebay!" ketusnya lalu membuang muka.

Putri langsung terkejut melihatnya, sementara Seli menegakan badannya tidak percaya bahwa Reza akan terang-terangan seperti itu.

"Dih, jomblo iri ya?" balas Angga menganggapnya bercanda.

Sementara Reza menanggapinya dengan wajah tidak bersahabat. Tapi Angga tidak peduli tentang hal itu, dia hanya mengira bahwa semuanya baik-baik saja.

"Ya udah, ayo cepet masuk. Kasihan tuh anak orang mau mati," kata Mira bersuara sambil melirik Fion yang seperti orang tidak berdaya—bersender di kap mobil milik Putri.

~•~

Tepat setengah jam lagi matahari berada di puncaknya. Semuanya tampak bersemangat kecuali Reza yang terlihat kesal saat sesekali Angga mengoceh tentang pikirannya pada Putri dengan bebas walau gadis itu jarang menanggapi.

Langkah Putri tiba-tiba terhenti di kios mall yang menjual barang-barang pajangan seperti bunga-bunga kering dan beberapa boneka binatang. Semuanya ikut berhenti mengikuti gadis itu, termasuk Angga yang menatapnya bingung.

Putri mengambil satu tangkai bunga matahari kering lalu menatapnya dengan mata berbinar, lalu mendongak—matanya tertarik pada boneka hijau yang terpajang di rak gantung.

"Lo ngapain?" tanya Angga.

Putri tidak menjawabnya lalu memanggil penjaga toko. "Mba saya beli ini ya, sama boneka dinosaurus hijau yang itu," tuturnya sambil menunjuk rak putih yang menempel di dinding.

"Iya kak, sebentar ya," jawab penjaga toko dengan ramah lalu mengambil boneka itu dan memberikannya pada Putri.

Gadis itu menyerahkan kartu kredit miliknya pada penjaga. Beberapa detik kemudian penjaga toko memberikan kartu itu lagi sambil tersenyum ramah. "Makasih kak."

"Iya sama-sama," balas Putri seraya membalas senyum sang penjaga.

Putri membalikan badan ke arah Angga lalu menyodorkan boneka dinosaurus itu pada Angga dengan ketus. "Karena lo tinggi, nyebelin, dan bau. Nih buat lo sebagai balas budi," ujarnya sambil mengangkat ujung bibirnya kaku.

Angga tersenyum menang. "Makasih, tapi bay the way gue gak ngarepin balasan kayak gini dari lo," ucap cowok itu sambil menatap dalam iris cewek di hadapannya.

"Hih, udah di beliin juga!" protes gadis itu sambil menyambungkan alis tidak terima.

"Yang gue butuh cuma balasan hati dari lo," ujar Angga jujur sambil tersenyum manis pada Putri.

Putri juga manusia yang bisa tersenyum. Gadis itu pun membuang muka—menyembunyikan wajahnya yang merona sambil menggenggam bunga favoritnya dengan erat.

Seli, Mira, dan Fion menatap keduanya tidak percaya. Sementara Reza semakin panas dibuatnya. Cowok itu sontak menggenggam pergelangan tangan Seli diam-diam dan menariknya mundur.

Seli pun berusaha melepaskan genggaman itu tanpa suara. "Ih apaan sih, di sini kita pura-pura gak kenal ya!" pekiknya berbisik.













To be continue

MATSA

Uhuuy part ini banyak bikin spot jantung, wkwk.

Ramein kolom komentar yaa (σ≧▽≦)σ

Follow authornya boleh kali ya, hehe

MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang