Torment or Threat? (7)

19 4 0
                                    

Leo POV

Kalau saja aku berhasil melupakan penampakan mata hitam itu semalam, aku pasti bakalan bisa tidur dengan nyenyak.

Sayangnya, baru membaca kalimat pertamaku saja, kalian pasti tahu bahwa makna kalimat itu justru sebaliknya. Dan yep, kalian benar sekali. Aku memang tidak bisa tidur semalaman lantaran terbayang-bayang terus.

Asal kalian tahu saja, biasanya aku bukan tipe orang penakut. Dan kalimat tadi bukan sekedar kalimat bualan yang dipenuhi kenarsisan belaka—walaupun biasanya aku memang agak narsis, sih. Apalagi, setelah mempelajari buku-buku fisika dan biologi yang selalu memaparkan alasan logis untuk hal-hal supranatural, aku jadi yakin bahwa hantu itu tidak ada. Tapi, tak dapat kupungkiri, kejadian semalam itu benar-benar tak bisa dijelaskan dengan teori.

Mana boneka teru-teru bokong yang diberikan Chris padaku itu seram banget pula.

Oke, memang aneh bahwa boneka yang dikasih nama 'bokong' bisa seram—apalagi bokong kan aslinya imut, bukan seram. Tapi, serius, deh. Kalian harus percaya padaku. Semalam, boneka bokong itu duduk memandangiku dengan tatapan horor di sudut kamar—tempat terjauh yang bisa kupikirkan untuk meletakkan si bokong putih.

"Apaan lo lihat-lihat?!" bentakku padanya di tengah malam, saat aku terbangun secara tak sengaja lantaran merasa dipandangi—yang kemungkinan besar ulah si bokong itu. Lalu aku tidur lagi.

Dan terbangun lagi.

"Makan tuh bokong lo!" teriakku pada si bokong putih. Namun, yang diteriaki dua kali malah hanya duduk diam seolah-olah dia tak habis melakukan apa-apa.

Dasar bokong sialan.

Itulah mengapa, saat aku terbangun untuk yang ketiga kalinya semalam, aku memutuskan untuk membuang boneka itu ke tong sampah—masih tong sampah kamarku, karena aku takut kalau perkataan Chris soal boneka itu bisa melindungiku ternyata benar. Dan, well, ternyata dia tak lagi menggangguku setelah itu.

Sialnya, gara-gara ketakutan, aku jadi tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun setelah boneka itu kubuang.

Itulah alasan utama mengapa pagi ini aku nongol di sekolah dengan kantung mata melebihi panda dan tubuh loyo yang membuat teman-temanku tertawa terbahak-bahak.

"Minggir! Ada panda ngamuk mau lewat, nih!" teriak salah satu pembuat onar paling berisik di kelasku, Alfred, keras-keras saat aku masuk ke kelas dan bersiap melempar tasku ke atas kursi dengan gaya dramatis—supaya ada setidaknya satu hal keren yang kulakukan walaupun penampilanku kusut banget pagi ini.

"Kakek Panda mau ke mana?" cewek centil menyebalkan bernama Khloe mengejekku begitu melihat kacamataku melorot sampai nyaris meluncur jatuh kalau saja hidungku tidak mancung. Coba dia bukan cewek. Pasti sudah mental tubuh kurusnya itu ke Antartika—siapa tahu dia bisa nongol sedikit di film The Penguins of Madagascar.

Seperti biasa, aku terlalu sebal untuk menggubris perkataan-perkataan sarat sindiran dari teman-temanku itu. Aku hanya diam sambil melirik mereka penuh dendam, kemudian melakukan aksi melempar tas ke atas kursi yang keren itu—sayangnya, mereka malah hanya cekikikan dan melengos (padahal aku berharap mereka bakal kaget dan berteriak, "Ampun, Leo! Ternyata lo keren banget pagi ini! Tapi bakal makin keren kalo kami nggak lo bunuh.")

Yang tambah sial lagi, saat aku berbalik, muka Chris yang masam sudah menantiku.

"Hei," katanya muram. Kantung matanya ternyata lebih spektakuler daripada milikku—membuat wajahnya kelihatan seperti hantu sungguhan.

Aku terlonjak mundur dengan kaget dan nyaris menghantam meja di belakangku dengan mengenaskan.

"Anjrit!" Pekikku, "Dasar tukang bikin serangan jantung!"

[KUMPULAN CERPEN] Stacy's CursesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang