Torment or Threat (8)

22 4 0
                                    

Christian POV

Kutorehkan tinta untuk melengkapi segel terakhir yang harus kubuat.

Saat ini rumahku sudah benar-benar dipenuhi kertas mantra dan segel pertahanan. Untung saja, hari ini orang tuaku pergi ke pernikahan teman mereka, jadi aku tak perlu berkompromi agar mereka tak merusak segel-segel yang sudah kubuat susah payah, setidaknya untuk dua sampai tiga jam ke depan. Fakta bahwa hantu itu hanya tertarik padaku dan Leo juga sedikit melegakanku. 

Aku sudah menyusun rencana, sih, kalau mereka pulang dan harus masuk melalui pintu depan, aku akan melempari air suci secara berkala ke sana agar hantu itu tidak berani masuk ke dalam. Atau aku bisa menambahkan garam ke dalam rencana itu, serta memaksa orang tuaku mengalungi bawang putih untuk berjaga-jaga. Atau mereka bisa pergi menginap dulu malam ini, toh mereka bukan targetnya.

Oke, aku terdengar sangat paranoid, tapi kenyataannya aku memang setakut itu sekarang. 

Peristiwa Lemon kemarin malam benar-benar membuatku bergidik ngeri. Memang, sih, selama ini aku sering diganggu makhluk astral, tapi biasanya Yurigame selalu mengusir mereka sehingga aku tidak perlu merasa risau sedikit pun. Namun, urusan kali ini sepertinya bukan perkara biasa dilihat dari reaksi Yurigame kemarin.

Dan si keparat itu malah menyalahkanku.

Dasar orang goblok yang nggak tau diuntung! Aku sama sekali tak menyangka kalau Leo sebenarnya adalah tipe penakut yang ketika ketakutan akan menyalahkan orang-orang atas segalanya–seperti yang baru saja ia lakukan padaku–padahal kami sudah berteman lebih dari tujuh tahun. Dan sialnya lagi, aku tak sempat membalas tinjuannya yang membuat hidungku berdarah karena Pak Sardi sudah buru-buru menerjang masuk ke dalam kelas.

Tapi biar sajalah.

Lagipula si kampret itu sudah mendapatkan hukuman menata buku perpustakaan yang luar biasa berantakan. Belum lagi, ia harus merasakan panasnya udara dan bau buku lama selama berjam-jam di ruangan itu.

Ah, untuk apa aku memikirkan si kampret itu? Lebih baik, aku memikirkan rencana B kalau-kalau hantu yang katanya kuat itu berhasil menembus segel-segel yang sudah kubuat pada pintu dan jendela sejak berjam-jam yang lalu.

Ya, memang biasanya hantu memilih untuk masuk lewat jendela atau pintu yang terbuka karena memerlukan kekuatan yang lebih sedikit. Kalau kalian pernah lihat di film-film mereka menembus tembok, itu hanyalah untuk hantu-hantu pro dengan kekuatan lebih yang ingin mereka buang-buang karena akan sangat melelahkan untuk menembus sebuah tembok. Beberapa hantu cerdas lebih memilih menerobos pintu depan saat ada orang keluar-masuk, atau masuk lewat jendela seperti maling. Dan pada kasus kali ini, jika seandainya dia berani menerjang tembok dan menguras tenaganya, aku dan Yurigame akan dapat langsung menangkap sekaligus menyegelnya selamanya.

Suara adzan maghrib pun sudah terdengar, menandakan sudah saatnya bagiku untuk pergi ke loteng guna mengamankan diri dari serangan hantu aneh yang sejak kemarin mengejarku, setidaknya sampai besok pagi.

Kuambil sejumput garam lalu kutaburkan di bawah tangga satu per satu hingga ke loteng. Kertas-kertas berisi segel dan mantra juga kuletakkan di anak-anak tangganya. Semuanya harus kupersiapkan sebaik mungkin, tanpa cacat sedikit pun.

Ini semua sudah menyangkut masalah hidup dan mati.

Baru saja kuhempaskan pantat di dalam segel perlindungan, sebuah bisikan halus nan lirih menyuarakan namaku. 

"Ada apa Yurigame-san?" tanyaku sambil menyahut koran yang sudah kusiapkan untuk sedikit menyapu debu di dalam lingkaran.

"Kali ini kau keterlaluan." sahutnya.

[KUMPULAN CERPEN] Stacy's CursesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang