Two Love

36 11 3
                                    

Kedua sahabat Karin, Tari dan Poppy telah mendengar semua cerita tentang Karin yang telah bertemu Reivan. Selama semalaman mereka bertiga hanya menceritakan Reivan, sebagai topik utamanya. Karin menceritakan bagaimana Reivan saat ini, awal pertemuannya hingga yang baru saja dilakukannya, panjat tebing bersama. Kali ini Tari dan Poppy hanya bisa menjadi pendengar bagaimana antusias Karin saat menceritakan sosok Reivan. Namun mereka masih menyimpan pertanyaan yang sama, yang tak bisa diungkapkan saat ini. Menanti jika mereka bertatap muka langsung dengan Karin.

"Gimana katanya lo habis ketemuan sama Reivan?" tanya Poppy di kantin saat jam pulang sekolah. Batagor Bi Siti masih menjadi favoritnya saat menunggu jemputan Anjar. "Iyasih gue ketemu sama keluarganya juga," jawab Karin dengan tatapan seolah sedang memikirkan sesuatu yang terlihat memainkan sedotannya.

Timpal Tari, "Rin gue mau tanya sama lo penting?" Tari datang dengan wajah seriusnya. Ditangannya ada 2 es jeruk, dan salah satunya adalah pesanan Poppy.

"Nih Pop, lo bisanya makan doang," bentak Tari menyodorkan minuman Poppy secara kasar.

"Santai dong."

"Sebenernya lo masih suka enggak sih sama Reivan."

Tari yang ingin menginterogasi. Pertanyaan simple tapi langsung menuju point-nya. Dia tak ingin temannya berlarut-larut memikirkan orang yang tak pasti. Sedangkan sekarang ada sesorang yang mengisi kekosongan hati Karin, yang sudah sejak lama kosong karena lama menunggu.

Tak ada jawaban yang terdengar dari mulut Karin. Tatapannya kosong tanpa memperhatikan kedua sahabatnya itu. Pikirannya teringat tentang ucapan Reivan saat di atas saat panjat tebing. Ia merasa ada hal yang ganjal.

"Hmmmm...."

"Mungkin gue enggak bisa ngerasain perasaan cinta mendalam lo selama ini, tapi gue harap perasaan itu bukan perasaan ilusi yang lo buat sendiri," Tari mencoba mengingatkan temannya. Dia tahu kini Karin bimbang dengan perasaannya. Tatapannya kini serius. Bukan Tari yang biasanya selengekan.

Poppy terlihat khawatir dengan keadaan Karin dan memegang pundaknya, " Rin are u okay?"

"Hati lo cuman ada satu dan perasaaan lo hanya untuk satu orang . Ketika lo tetep membuat 2 perasaan berlabuh dihati lo, hati lo bakal sakit. Bukan hanya hati lo yang sakit, tapi mereka bahkan ngeresain lebih," Tari sambil menunjuk hati Karin. Ucapannya membuat Karin tersentak dan teringat janjinya dengan Rangga.

Brrrrraaaaakkkkkkkk....... Semua mata tertuju kearah meja mereka bertiga, Karin saat itu menggeprakkan meja kantin, ia sontak saja keluar tanpa memperdulikan kedua sahabatnya. Tari dan Poppy hanya saling memandang tanpa ada jawaban yang keluar dari Karin.

"Woy, santai dong. Ini kantin bukan punya lo doang," bentak salah satu anak yang kurang nyaman karena gebrakan Karin saat itu.

"Santai aja dong, kayak lo enggak pernah punya masalah aja," Tari tak terima Karin diperlakukan seperti itu, dia memicingkan matanya seperti tanda permusuhan.

Poppy mengelus bahu Tari yang hampir mencaplok, "Udah Tar, enggak usah diladeni." Telunjuknya menyentuh bibir kepada anak tadi agar memaafkan Tari.

"Kenapa tuh anak?" ucap Tari yang masih kesal dengan kejadian tadi.

"Entahlah," bahunya dan kedua tangannya sama-sama diangkat.

Xxxxxxxxxx

"Eh akhir-akhir ini gue liat lo lagi seneng gitu. Kenapa bro? Cerita dong," tanya Asta begitu penasaran.

Sahut Rangga dengan wajah senyum malunya,"Ntar deh gue cerita, yuk lajut." sambil meletakkan minuman kaleng dan menutupkan kembali masker anggarnya.

Dia Datang,., [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang