"Tidak, Jennie aku tidak mencintaimu"
"Hanbin kau mencintaiku, kau sangat mencintaiku"
Satu yang sangat Hanbin butuhkan dalam hidup, waktu. Iya waktu agar dia bisa lebih lama mencintai Jennie.
Dan satu yang Jennie sesali bahwa dia tidak pernah mau m...
Selamat membaca bagi para readers baru dan readers lama. Semoga kalian suka cerita ini - - Terima kasih yang sudah memberi vote ☆. - - Menerima kritik dan saran. Dan jika ada yang ingin ditanyakan kolom komentar 💌 terbuka untuk semua, terima kasih.
SELAMAT MEMBACA🤗 ☆ ☆
Jennie terus memandang kearah dua orang yang sedang berdiri tak jauh darinya entah apa maksudnya memandang 2 orang tersebut secara diam diam walau dia tau setelah melihat itu hatinya akan hancur.
"Awalnya kukira bahwa kau berbohong padaku tapi itu benar kau sudah memiliki seorang istri"
****
"Aku pulang" ucap Jennie setalah kakinya masuk kedalam rumahnya.
"Kakak tau tidak, tadi disekolah aku memenangkan lomba basket" ucap Haruto antusias Jennie tersenyum.
"Waw bagus selamat ya.. dulu kupikir kau tidak pernah mau bermain basket karna selalu takut dimarahi nenek"
"Sekarang tidak ini semua berkat Hanbin... dia baik sekali dia membuat banyak perubahan dikeluarga kita iya kan Mah?" Haruto mendekat kearah Sandara lalu memeluknya, Sandara mengelus rambut putranya.
"Kau benar dia adalah pembawa kebahagiaan bagi keluarga kita... dia menyatukan kembali hubungan antara menantu dan mertua dan dia juga menyatukan seorang nenek yang tak pernah mau menganggap cucunya... aku harap dia selalu bahagia" Dara tersenyum sambil mengingat semua kebaikkan yang Hanbin laakukan untuk keluarganya.
Tapi Jennie dia malah diam mematung ditempatnya.
"Kakak kau jadikan Hanbin pacarmu saja agar dia bisa selalu bersama kita" ucap Haruto, Jennie tersadar dari lamunanya dia langsung menatap Haruto dengan tatapan linglung.
"Ha apa?"
"Aku bilang kakak jadikan Hanbin pacarmu saja" ucap Haruto
"Hmm andai saja aku bertemu dengannya sejak dulu mungkin masih ada kesempatan untuk aku memilikinya" Jennie berbicara seperti itu dengan tatapan kosong sekosong hatinya saat ini. Dara dan Haruto saling melempar pandang mereka tak mengerti dengan apa yang dikatakan Jennie.
"Maksudmu?"
"Ah sudahlah aku mau mandi dulu"
Jennie langsung lari keatas tangga dan masuk kedalam kamarnya.
"Mah, ada apa mengapa dia bicara seperti itu?" Tanya Haruto, Dara hanya menggidikan bahunya.
****
"Kenapa kau tak bilang?" Tanya Bobby dengan kesal.
"Kau sudah menikah! Kenapa tidak bilang dari awal? Lihatlah! Jennie begitu sedih saat mengetahui semuanya"
"Lalu bagaimana dengan dirimu?"
"Diriku apa maksudmu? Kau pikir aku akan sedih karna kau sudah menikah? Tentu tidak kau pikir aku juga mencintaimu? Kau kan tau aku menyukai Jennie" cerocos Bobby, Hanbin hanya memutar bola matanya malas lalu menepuk jidatnya.
"Sinting, maksudku apa kabar dengan hatimu? Harusnya kau senang kan karna aku sudah menikah dengan begitu kau bisa mendekati Jennie dan mendapatkan kesempatan untuk memilikinya" ucap Hanbin santai lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Mendekati Jennie? Bahkan aku sudah dekat dengannya sejak 3 tahun lalu, tapi perasaanya padaku tetap sama tak ada yang berubah! Malah justru aku yang baper padanya"
"Hmm terus maumu sekarang apa?"
"Entahlah aku juga bingung, yang jelas aku tak bisa melihat Jennie bersedih, kau temui dia yaaa" mohon Bobby.
"Ck, dasar bodoh gunakan ini sebagai kesempatan untukmu semakin mengenalnya lebih jauh yaa aku tau kau sudah lama dekat dengannya tapi kan apa salahnya mencoba semakin dekat dengan begitu dia akan semakin terbiasa denganmu dan melupakan aku"
"Kau memang benar, tapi yang namanya cinta itu tak bisa dipaksakan, apalagi Jennie adalah tipikal gadis yang sulit jatuh cinta.. jika berniat mungkin dia sudah membalas perasaanku sejak dulu" ucap Bobby sambil menenguk Coffe latte miliknya.
"Padahal aku rela memberikannya untukmu asal dia bisa tersenyum dengan bahagia, tapi bodoh kenapa kau sudah menikah?! Lebih baik kau ceraikan saja istrimu itu dan bahagiakan Jennieku demiku"
"Ck, semudah itu kau menyerah dan merelakan Jennie?"
"Bukan begitu tapi itu namanya pengorbanan cinta, bahkan aku rela memberikan hati atau bahkan nayawaku padanya" jelas Bobby. Hanbin menatap Bobby dengan tatapn yang sulit diartikan.
Mendengar kata 'rela memberikan hati' membuatnya sedikit terguncang.
*****
Mata Jennie membulat sempurna saat melihat dua orang yang salah satunya Jennie kenal.
"Apa ini? Istri.. itu istri Hanbin.. kenapa? Apa dia menyelingkuhi Hanbin... oh tuhan apa yang harus kulakukan" gumamnya.
Ya orang yang Jennie lihat adalah Lisa dan seorang pria berpipi tirus mereka berdua terlihat begitu romantis.
"Aku tidak bisa membiarkan ini aku harus melabrak wanita itu kasihan Hanbin jika harus dipermainkan seperti ini" dengan langkah berani Jennie berjalan kearah dua orang itu.
"Ah Jennie ya Hanbin sering bercerita tentangmu padaku" ucap Lisa sambil tersenyum.
"Kenapa kau tidak pergi bersama Hanbin? Kenapa kau bersama pria lain?"
"Pria lain? Aku maksudmu?" Tanya seorang pria yang berdiri disamping Lisa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ii..iya siapa lagi, kau kan sudah menikah tapi kenapa kau jalan dengan pria lain?" Tanya Jennie kesal.
"Menikah? Oh Lis akau sudah menikah mengapa tak mengundangku?" Tanya pria itu, Lisa menyikut perut pria tersebut.
"Ezra sudah diam! Tidak ini saja sudah cukup untukku" ucap Lisa smabil tersenyum.
"Kau kan istri Hanbin"
"Hanbin? Tidak dia bukan suamiku, suamiku adalah Ezra, Hanbin adalah sahabat sekaligus pasienku"
"Pasien?"
"Iya pasien.......
"
Next? Kukasih double Up
Kuyakin pasti kalian akan ngira kalo story ini bakal berakhir sad ya kan? Tapi tenang aja aku memutar balik otak agar membuat bagaimanapun caranya cerita ini happy ending seperti yang readers minta jadi tenang yaaa.