"Sejak dulu, pohon pinus merupakan pohon cinta bagi orang Korea. Bentuk pohonnya yang lurus dan kokoh melambangkan sebuah kesetiaan bahwa cinta tidak bisa dibagi. Daunnya yang selalu berwarna hijau tak peduli musim berganti, melambangkan cinta yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Lo abis diapain Changbin sih?” ujar Jihoon sambil meletakan mung berisikan coklat panas dihadapan Yena. Gadis itu katanya engan untuk pulang, ia butuh teman untuk bercerita. Rambut basahnya dibiarkan saja, gadis itu telah berganti dengan baju kebesaran Jihoon dan selimut hangat juga tersampir dikedua bahunya.
“Menurut lo kalo cowok ngajak break maksudnya gimana? Emang ada alasan yang tepat ato mau putus tapi pikir-pikir dulu?” tanya Yena lesu, ditangkupnya mung berisikan coklat panas itu agar tangannya yang dingin cepat menhangat.
Jihoon menghela nafas, “Changbin bukan orang yang kek gitu kok, cowok kan beda-beda. Gak semua cowok itu sama aja. Mereka punya pendirian dan prinsip masing-masing. Gue percaya kalo Changbin bener-bener pengen fakus sama UN. Lo harusnya juga paham, UN bentar lagi, lo belum tentuin mau masuk mana juga kan?” Yena hanya menunduk, kalau dipikir-pikir benar juga kata Jihoon.
“Udah, kan? Jangan galau mulu dong bek. Mau gue ambilin kaca apa biar sadar kalo cemberut terus muka lo makin jelek kek bebek beneran!” Yena melirik tajam, Jihoon hanya terkekeh pelan.
“Yaa maap nyai, jangan marah dong!”
***
Chan dan keluarga lagi kumpul diruang keluarga sambil nonton tv, Chan sama Eunbi duduk disofa sementara Hyunjin, Yujin, dan Jeongin lesehan dikarpet sambil ngemil bola-bola telur bikinan Eunbi tadi.
“Mah ceritain kisah mama sama papa kenapa mama sama papa dulu bisa nikah, dong?” Yujin tiba-tiba berceletuk, Eunbi dan Chan lantas menatap dirinya heran.
“Udah deh, Jin. Ntar papa ke-nista lagi.” Ujar Chan, Yujin malah nahan tawa.
“Ayen juga penasaran, heheheh.” Jeongin dan Hyunjin ikutan manghadap kedua orang tuanya.
“Hm, mulai darimana dulu yaaa?” tanya Eunbi sambil mengetuk-ketukan jari telunjuknya didagu seperti berpose berpikir. Chan sih pasrah aja.
“Papa kalian ini dulu orangnya sederhana banget, sampek-sampek pas mau nembak mama waktu itu cuma pekek sendal jepit sama kaos oblong didepan rumah mama. Hahaha.” Tawa Eunbi pecah.
“Lha kok bisa? Terus mama terima?”
“Gak tau kenapa bisa gitu, hahaha. Dan waktu itu ya mama tolak lah, hahaha.”
“Pas itu tuh papa buru-buru, denger kabar kalo si Seungwoo mau ngelamar mamah kalian ya papa buru-buru nembak mama lah,”
“Ya gak gitu juga pa, astagaaaa. Sampek pakek motor pespa lagi, hahahah.”
Pas lagi asyik-asyiknya ketawa, Chaeyeon pulang dengan muka sembab. Eunbi langsung berdiri, niatnya ingin bertanya ada apa. Tapi Chaeyeon segera melenggang darisana. Disusulnya Chaeyeon ke kamar, gadis itu malah menguncinya dan sama sekali tak mendengarkan ketukan pintu kekhawatiran dari sang mama.