Chapter 43

413 22 7
                                    

Jangan lupa vote dan komen ya..

Bacanya pelan-pelan..

~•~

Sepuluh hari berlalu sejak Angga dan Reza selalu memperebutkan Putri. Banyak yang mereka lakukan untuk mendapat perhatian gadis itu. Sempat sekali Putri bertanya pada Reza bahwa kenapa dia seolah selalu bersaing dengan Angga, padahal mereka bukannya berteman? Tapi akhirnya Reza malah mendadak gagu saat mencoba menjawabnya.

Ya gadis itu masih tidak mengerti apa maksud dari pertengkaran di antara dua sahabat itu.

Pada akhirnya gosip-gosip tentang dirinya perlahan menyebar soal 'hanya karena seorang Putri, dua orang sahabat jadi bertengkar'.

Kini Putri, Mira, dan Seli dengan bersantai di kantin. Sambil mengunyah bakso yang barusan dia lahap, Putri menatap ke sekeliling dan menangkap beberapa orang yang menatapnya sinis.

Mira tau orang-orang memperhatikan mereka, sehingga dia pun juga risih. "Eh Put," panggilnya.

Putri menoleh. "Hm?"

Mira memegang keningnya dengan jari telunjuk. "Hmm, coba tunjukin hadiah dari Angga sama Reza tadi deh," pintanya.

Putri pun merogoh kantongnya dan mengeluarkan dua batang coklat yang sama, dengan merk yang sama, dan warna yang sama. Perbedaanya hanya pada kertas kuning dengan hiasan bunga matahari dari Angga, dan kertas bergambar hati dari Reza.

Putri meletakannya di atas meja, sementara Mira menghela napas berpikir.

"Dan dari keduanya mana yang bakal lo pilih?" tanyanya bersiasat.

Putri menunjuk coklat dengan kertas kuning. "Ini."

Mira manggut-manggut, sementara Seli hanya menyimak sambil memakan baksonya. "Apa alesannya?"

Putri mengambil coklat itu dan menatapnya. "Gue suka bunga matahari, dan Angga tau itu. Terus dia juga tau gue gak suka kata-kata romantis, jadi dia nulis notenya pake kata-kata lucu. Kayaknya gitu sih," jelasnya tak yakin sambil mengangkat kedua alisnya.

Mira menunjuk Putri dengan mata menyipit heran. "Terus lo gak ada mulai rasa-rasa apa gitu?" tuturnya introgasi.

Putri terdiam. "Hmm gimana ya, sebenernya gue lupa rasa suka sama orang itu gimana, tapi--"

"Tapii??" sela Mira.

"Tapi gue selalu merasa aman dan nyaman kalo deket dia," tuturnya setengah berbisik.

Mira dan Seli membuka mulutnya tidak percaya. Sontak Mira langsung menggebrak meja sehingga semuanya pun terkejut. "Berarti lo tuh suka sama dia!" bisiknya berusaha keras.

Putri merengut. "Hah? Kok bisa?" tanyanya heran.

Mira meremas kepalanya sendiri. " Ya ampun Put, nih ya gue tanya lagi. Saat lo sama cowok lain lo merasa takut dan trauma kan?"

Putri mengangguk sekali, sedangkan Seli tampak greget karena Putri belum mengerti juga.

"Tapi kalo deket Angga, lo merasa nyaman kan?" tegasnya lagi dengan ekspresif.

Putri mengangguk lagi.

Mira ikut mengangguk. "Nah!! Berarti lo mulai ada rasa sama dia, ih lemot deh lo!" pungkasnya lagi sambil menoel bahu Putri.

"Ohh gitu." gadis itu manggut-manggut.

"Hm! Nah mulai sekarang, karena lo udah tau gimana perasaan lo sendiri, lo harus tegas sama Angga dan Reza, kalo lo milih Angga, supaya gosip-gosip ini cepet hilang!" sahut Seli ikut menjelaskan.

"Ya udah nih, coklat dari Reza buat kalian aja," jawabnya sambil menyodorkan coklat itu menjauh.

Mira merampas coklat itu. "Akhirnya ngomong panjang lebar ada hasilnya juga," tuturnya sambil mengkuliti bungkusnya.

"Bagi dong," sahut Seli mencoba meraih makanan itu.

"Het bentar!"

~•~

Tepat beberapa saat lalu bel pulang berbunyi. Suara rendah dari orang-orang sudah terdengar sejak gadis itu menampakan wajahnya, membuat suasana aula menjadi ramai. Putri melirik semua orang yang menatapnya bergantian, dia risih akan tatapan-tatapan itu. Apalagi dengan isu yang sudah beredar entah sejak kapan dan dari mana.

Seli dan Mira yang berada di sampingnya ikut menatap sinis orang-orang itu. Begitupun juga Reza yang sejak tadi menguntit kemana Putri pergi dan hal itu membuat Seli merasa kesal karena cowok ini terlalu berlebihan.

Beda dengan Angga yang mengerti perasaan sang pujaan, dia tetap memantau gerak-gerik Reza tetapi dari kejauhan agar gosip ini segera berakhir dan Putri akan merasa nyaman lagi dekat dengannya.

Fion berjalan santai, menyamai langkah Angga. "Lo gak samperin?"

Angga menoleh dan mengangkat kedua bahunya. "Enggak ah, kasian Putri, kalo gue di sana nanti malah memperburuk keadaan," kata cowok itu pasrah.

Fion menggaruk kepalanya. "Jujur gue bingung harus dukung lo atau Reza, soalnya kalian berdua kan temen gue," ujarnya lalu menghela napas.

Sementara diam-diam Putri melirik Reza yang berada sampingnya dengan sinis. Dia sengaja jalan menjauh ke kanan, dan tak lama Reza juga mengikutinya—berusaha dekat dengan dia lagi.

Putri yang sudah emosi akhirnya berhenti berjalan seraya menghentakan kakinya sekali dengan keras. Mira dan Seli ikut berhenti kaget, begitu juga dengan Angga dan Fion dari kejauhan.

"Lo ngapain sih ngikutin gue mulu?!" bentaknya murka, sambil menatap mata Reza dengan membara.

Reza tersentak kaget. Dia tahu bagaimana terkenalnya marahnya Putri. "Kan gue udah bilang beberapa hari yang lalu kalau gue suka sama lo," tuturnya sambil menyeringai.

Mendengar pertengkaran, siswa-siswa SMA Purnama pun akhirnya berkumpul perlahan. Beberapa buru-buru membuka ponselnya untuk mengabadikan berita baru yang pastinya akan membuat heboh.

Putri merengut lalu menunjuk Reza. "Lo tuh annoying tau gak?! Kalau lo bukan temennya Angga, gue udah bakal bilang ini dari kemarin!" pungkas gadis itu dengan wajah memerah.

Hati Reza seaakan tertusuk panah. "Emang lo sama Angga tuh udah sampe mana sih?" tanyanya nanar.

"Hah? Maksud lo apa? Kita itu temenan, gak lebih! Dan lo yang terlalu berlebihan, ganggu tau gak!" teriak gadis itu.

Mira meraih bahu Putri dan memundurkannya sedikit. "Ada Angga di belakang lo Put!" bisiknya sambil menggoncangkan bahu sahabatnya.

Putri menoleh, dan tampak Angga yang berdiri diam ke arahnya. Bukan itu yang dia maksud. "Angga," gumamnya.
















To be continue

MATSA

Hahay, makin seru gak nih?

Ramein kolom komentar ya..(σ≧▽≦)σ

MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang