Pernahkah kamu merasa bahwa ada satu hari di satu minggumu yang hanya berisi kesialan? Tanpa sama sekali kebahagiaan di dalamnya?
Untuk Aaliyah Senja Purnama, hari itu bernama Minggu.
Benar, aneh, mungkin. Orang-orang menganggap hari minggu adalah hari dimana mereka bisa bersantai setelah menghadapi hari senin dan teman-temannya yang mengikuti. Tapi bagi perempuan yang kerap dipanggil Senja tersebut, hari Minggu seperti hari yang terkutuk dalam satu minggunya.
Meski pernah dengan kebetulan hari ulang tahunnya jatuh di hari Minggu, hari itu ia tetap mendapat sial. Katakanlah, hari itu Senja berbagi tawa dengan teman-teman dekatnya di satu pusat perbelanjaan, lalu tak sampai jam kemudian, ia menemukan bumper depan mobilnya tidak utuh lagi. Entah karena apa. Senja tebak, karena ulah pengendara yang tidak bisa memarkir sekaligus bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat pada mobilnya.
Hari Minggu juga selalu menjadi saksi kejadian buruk yang menimpanya. Berikut sedikit bukti yang paling melekat di otak remaja 17 tahun itu.
Pertama, Senja meninggalkan Kota Pontianak, kota kelahirannya, di hari Minggu. Sakit yang Senja dapat hari itu, belum bisa terobati sampai sekarang. Dan kejadian ini seperti awal dimana kutukannya bermula.
Kedua,di hari Minggu, orang tuanya selalu kembali ke Jakarta, kota dimana Ayah Senja bekerja, setelah menghabiskan weekend di Yogyakarta.
Dari dua alasan itu saja, Senja rasa lengkap sudah kutukan yang ia dapat di penghujung minggu itu. Meninggalkan dan ditinggalkan.
Namun ada satu kejadian di hari Minggu yang membuat dirinya terbebas dari kesialan yang telah terjadi di setiap hari Minggu selama lima tahun belakangan ini. Kejadian itu seolah menjadi akhir dari serentetan kutukan yang Senja dapat di hari terakhir dalam seminggu itu, untuk seterusnya.
Diawali dengan suara bel pintu rumahnya di saat ia sedang sendirian pada hari Minggu siang. Senja yang awalnya sedang menonton series favoritnya pun beranjak dari sofa menuju pintu depan dengan malas, mengira mungkin inilah awal dari kesialan yang rutin ia dapat.
Tapi betapa terkejutnya ia saat malah menemukan seorang laki-laki berambut strike coklat yang ia kenal sekaligus sangat ia rindukan.
"Asep! Ngapain lo di sini?" tanya Senja kepada laki-laki itu.
Laki-laki yang Senja panggil Asep itu tidak langsung menjawab, namun malah tertawa kecil melihat reaksi Senja.
"Kangen sama mantan."
Sontak Senja pun ikut tertawa malu.
Biar Senja perkenalkan, nama asli Asep itu Septian James Harrison. Seorang laki-laki berdarah campuran Australia-Jawa yang merupakan teman Senja saat SMP sekaligus mantan pertamanya. Hubungan jarak jauh mereka berdua kandas karena orang tua Septian yang entah punya alasan apa.
"Gue mau ngajak lo keluar, boleh nggak?" tanya Septian saat tawanya mereda.
Lalu sekitar satu jam setelahnya, mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang bergerak menuju salah satu restoran cepat saji terdekat, berhubung keduanya belum mengisi perut di siang hari.
Selama menikmati makan siang, Senja dan Septian bertukar cerita satu sama lain. Septian dengan segala keluh kesah tentang orang tuanya yang semakin hari semakin menuntutnya untuk menjadi nomor satu di berbagai persoalan termasuk di sekolah. Dan Senja tentang kerinduannya kepada kota kelahirannya dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Di tengah diam yang sempat menginterupsi mereka, Senja tiba-tiba bertanya setelah memperhatikan Septian diam-diam, "kok rambut lo lebih banyak itemnya sih, sekarang?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Minggu
Short Story"Going back to old relationship is like reading your favorite book and expecting a different ending to happen," they said. But what if this time, instead of re-reading the ending, we write our own ending? Sounds good, doesn't it? What do you think...