lebih dekat pt.2

35 3 0
                                    

Buset! Nih orang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar mandi. Bikin gw kaget setengah mati aja. Untung jantung gw kagak copot.

"Lo ngapain disitu Din?" tanya gw penuh selidik. Gw takut Dinar mergokin gw ketawa sendirian di kamar mandi. Bisa dikira gila gw nanti.

"Pengen pipis lah, yakali pengen ngepet."

"Bilik yang lain kosong kenapa dah lo berdiri di depan pintu gw."

"Lebih enak yang ngantri slur. Citarasanya lebih terasa."

"Bisa ae lu."

Gw balik lagi ke aula. Mereka bertiga asik bercanda. Entahlah, lihat Kak Surya ketawa aja gw udah seneng banget. Kayaknya gw udah dibikin bucin banget sama dia.

"Nah, Icha udah balik. Ayo kita mulai," ucap Kak Ivana yang ikut dalam kelompok kami.

Anjir gw baru sadar kalau kelompok gw pada cakep-cakep bener. Gw jadi meras kentang. Anjir jiwa insecure tiba-tiba muncul di hati ini.

"Ayo kita mulai. Kira-kira apa yang kita kasih di baksos?" Kak Surya mulai pembicaraan, jiwa pemimpin beneran terasa dalam jiwa dia.

"Lebih simple uang bang." Ide Kamal ada benernya juga.

"Gw pengen kasih yang lebih berkesan di hati Sur, jadi nggak sekedar uang yang habis dipake dah nggak ada kesannya lagi." Gw setuju sih sama pendapat Kak Ivana, auk ah gw makin bingung antara setuju sama Kak Ivana atau Kamal.

"Kamu gimana Cha?" Kak Surya tanya ke gw. Seketika Kak Ivana sama Kamal ikutan lihatin gw. Aww gw jadi malu. Sksksk.

"Emang hasil baksosnya mau dikasih ke siapa?" Tanya gw.

"Nah itu, kira-kira hasil baksosnya dikasih ke siapa?" Timpal Kak Surya.

"Gimana kalau anak yatim bang?"

"Selama baksos, selalu dikasih ke anak yatim. Kalau kita kasih ke orang kurang mampu disekitar sini gimana?"

Lagi-lagi Kak Ivana sama Kamal beda pendapat. Selama ini gw cm kasih uang buat baksos tapi nggak pernah ikutan bagiin hasilnya. Jadi gw kurang ngerti masalah gituan.

Lagi-lagi semua mata mengarah ke gw. Apa gw terlalu pasif ya. Rasanya agak malu kalau mau berpendapat, gw juga takut salah. Di depan Kak Surya, gw harus baik-baik jaga image. Salah dikit, bisa ancur usaha gw buat lebih dekat ke Kak Surya.

"Di deket sini ada perkampungan kumuh, mungkin disana juga ada beberapa anak yatim. Jadi kita bisa kasih ke orang kurang mampu juga anak yatim."

"Nah itu gw setuju," jawab Kak Ivana dengan semangat.

"Kamal kamu gimana?" Kak Surya tanya ke Kamal.

"Gw setuju aja bang. Tapi gw sendiri nggak tau daerah sana. Apa nggak sebaiknya kita survey lokasi dulu. Gimana keadaan kampung itu dan penduduknya."

"Iya bener juga. Mending kita survey dulu." Baru kali ini Kak Ivana sependapat sama Kamal.

"Tapi masak kita berempat berangkat semua? Yakin masyarakat sana nggak terganggu?" Tanya Kak Surya.

"Umm, gimana kalau kita survey-nya dua kali. Jadi yang pertama, dua diantara kita yang kesana. Sama satu motor aja biar nggak ganggu, karena disana banyak anak kecil terus jalan kampungnya juga sempit. Gw takut terjadi hal yang nggak diinginkan. Terus kalau udah fiks kampung itu yang kita kasih hasil baksos, dua orang yang lain pergi ke sana buat izin ke Pak RT." Akhirnya gw punya keberanian buat bicara. Bodo ah pakai gw lu bukan aku kamu. Gw lebih nyaman gitu, semoga ae Kak Surya nggak ilfeel.

"Gw setuju sama Icha. Kalau kalian gimana?" Akhirnya Kak Surya jadi orang pertama yang setuju sama pendapat gw.

"Gw juga setuju kalau Abang setuju." Anak yang satu ini ngikut Surya terus perasaan. Ngalah-ngalahin gw.

"Pendapat Icha bagus, gw setuju."

Setelahnya kami bahas hal-hal lain. Lama banget kami mau buat keputusan. Kak Ivana cukup rewel. Dia pengen apapun keputusan yang diambil harus bener-bener terjamin. Nggak sekedar keputusan yang diambil karena tergesa-gesa.

Keputusan akhir kami, survei pertama, Kak Ivana sama Kamal yang pergi. Naik motor Kak Ivana tapi Kamal yang nyetir. Terus survei kedua, gw sama Kak Surya. Pakai motor gw dan Kak Surya yang nyetir. Lalu baksos yang kita minta ke temen-temen berupa uang dan pakaian bekas. Nanti uangnya dibelanjakan sembako, juga peralatan sekolah. Kalau uangnya lebih, bisa kita kasih ke yayasan anak yatim.

Nggak kerasa pembahasan kami memakan waktu yang cukup lama. Gw lihat jam tangan gw sekilas, bentar lagi udah jam istirahat. Guru-guru juga belum selesai rapatnya. Kami kembali ke ruang osis buat diskusikan rencana masing-masing kelompok.

Rapat osis selesai waktu bel istirahat bunyi. Kak Surya ngajakin gw makan bareng di kantin sama Kamal. Akhirnya gw mau, sekalian ngajak Dinar.

"Cha, kalau kita perginya minggu depan gimana?" tanya Kak Surya.

"Icha sih terserah Kak Surya aja. Kapanpun Icha bisa."

Kak Surya makannya pelan banget. Nggak tau cuma perasaan gw atau emang bener, tapi Kak Surya kayak lihatin gw terus karena itu makannya jadi lambat. Cuma ya gw nggak berani berekspektasi lagi karena selama ini kalau gw berekspektasi hasilnya malah gw yang kecewa.

Dinar malah lebih aneh lagi, daritadi makanannya cuma diaduk. Mata dia juga sibuk lihatin seisi kantin, kayak lagi cari seseorang. Ada apa sih sama orang-orang ini, kenapa bikin gw pusing.

"Oy kamal, gimana rasanya tinggal di Indonesia?" Daripada gabut karena makanan gw udah mau habis sedangkan makanan Kak Surya sama Dinar masih banyak banget, jadi gw ngobrol aja sama kamal.

"Di Indonesia seru, karena gw bisa barbar. Kalau disana kagak bisa."

Jawaban dia lucu banget. Tapi emang sih orang Indonesia rata-rata barbar semua. Mungkin kamal ada benernya juga.

"Gw manggilnya gimana? Kam atau mal? Bingung gw tuh."

"Bingung kayak orang nggak punya duit aja. Panggil aja ganteng."

Anjir. Gw kira dia orangnya kalem. Ternyata mulutnya lemes juga. Gapapa, gw suka yang modelan begituan.

"Mal, makanan gw dah habis nih. Gw balik duluan ya." Akhirnya gw pamit aja. Bakal lama kalau nungguin dua orang itu.

"Eh iya Kak, ati-ati. Umur gaada yang tau."

"Sembarangan."

Gw jadi pengen ketawa terus kalau di deket kamal. Awalnya gw kira dia kalem, ternyata jauh dari kata itu.

"Kak Surya, Dinar gw balik dulu. Kalian habisin dulu makanannya, sayang kalau nggak dimakan." Akhirnya gw pamit juga ke dua orang itu. Kan nggak enak kalau gw pergi tanpa pamit.

"Eh iya Cha." Hah? Segitu doang jawaban Dinar. Nggak beres ini anak.

"Loh, kok cepet banget kamu makannya Cha?" Jawaban Kak Surya masih agak panjang. Okee I stan you kak.

"Bukan aku yang cepet, Kak Surya aja yang lama kalau makan." Sekali-kali gapapa dong ngatain gebetan.

Kak Surya ketawa, matanya jadi sipit gitu. Makin gemes gw lihatnya. Lesung pipinya juga makin kelihatan dalam kalau dia ketawa. Ganteng banget sih gebetan gw yang satu ini.

"Yaudah sana balik ke kelas."

Habis itu gw langsung keluar dari kantin yang udah mulai sepi.

Tiba-tiba ada yang lempari gw kertas dari atas. Eh buset, siapa dah. Pas gw nengok ke atas nggak ada orang sama sekali. Yakali ada kertas jatuh dari langit. Atau jangan-jangan sedang ada fenomena alam, hujan kertas. Ah, kalau hujan kertas mah harusnya hujan uang kertas, nggak cuma kertas sobekan buku gini. Kan  nggak asik, nggak bisa bikin kaya pula.

Kepingan Tiga Enam Lima •+×+ Lokal Verse•Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang