❝Kenapa harus kamu, perempuan yang pernah berbagi rahim denganku❞
-Renjun.
Ini tentang si pelukis berdarah. Yang punya sejuta misteri mengerikan dan masa lalu kelam. Usia ke-21 tahun, di mana seharusnya ia mati, justru dia bertemu dengan perempuan y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lampu remang dan suara bass yang besar. Tidak terlalu banyak orang namun semua nampak menari mengikuti irama musik. Rania berjalan ragu di belakang Renjun. Dress super minim yang Renjun beli barusan membuatnya sangat tidak nyaman. Tapi jika ia menolak, Renjun akan marah.
Mereka sempat berdebat kecil saat di toko dress tadi, Renjun tidak bicara dengan suara tinggi tapi tatapannya cukup mengerikan untuk Rania.
"Renjun..." panggil Rania yang juga menahan tangan lelaki itu.
"Kenapa, baby?"
"Aku nggak biasa ke tempat kayak gini."
"Harus dibiasakan." Renjun berjalan meninggalkan perempuan itu. Dia memasuki private room VIP yang ia pesan.
Saat kaki Rania ingin melangkah menyusul masuk ke ruangan tersebut dia ditahan oleh penjaga.
"Maaf, nona tidak diperbolehkan masuk."
"Lho? Terus buat apa saya diajak kesini kalau disuruh tunggu di luar?" Rania terlihat bingung.
Rania menyandarkan punggungnya ke dinding, ia menunggu Renjun selesai dengan urusannya yang entah apa itu. Ini sudah gila dia hanya mematung di depan pintu itu. Belum lagi penjaga itu terus memperhatikan tubuh Rania, ia merasa sangat risih dan mencoba untuk menutupi pahanya yang cukup terekspos.
Ini semua karena Renjun, ia harus mengenakan baju super minim seperti itu. Lama-lama si penjaga melihatnya semakin mencurigakan. Dia mulai melangkah mendekati Rania. Perempuan itu mulai merasa takut sekarang.
"Punya pelayan secantik ini kenapa dia diem-diem aja ya?"
"A—apa?"
Plak!
Rania menampar laki-laki itu yang mulai lancang menyentuh pundaknya. Mengapa orang itu berani lancang begini, apa kini dirinya terlihat seperti wanita penghibur? Tanpa disadari Rania mulai menangis.
"Jangan lancang!"
"Lancang? Ah aku juga tahu kamu cuma budak sex nya bos Renjun kan?"
"Apaan sih?!"
"Halah pura-pura aja."
"Jangan sembarang—"
Bukannya menjauh si penjaga tersebut malah menghimpit tubuh Rania ke dinding. Lobby di depan ruang VIP Renjun memang cukup sempit dan amat sepi.
"Tolong!!!" teriak Rania yang merasa laki-laki itu semakin tidak sopan dan mencoba meraba-raba tubuhnya.
Sekuat tenaga Rania mendorong tubuh laki-laki itu.
"Renjun!!! Renjun!!!! Tolooong!!!!"
Sepertinya percuma saja, Renjun tak mendengar oh atau tidak peduli. Memangnya dia siapa? Tentu tidak penting buat Renjun. Rania menangis semakin keras, dia sudah tidak kuat lagi melawan tenaga si penjaga yang sangat kuat.