Tangannya yang seputih tepung hanya mengaduk-aduk cereal warna-warni yang memenuhi semangkuk susu di hadapannya. Tidak sesuap pun masuk ke mulutnya. Suasananya benar-benar canggung. Biasanya di pagi hari ia sudah mengomel tentang ini dan itu. Sudah seperti suatu kebiasaan di pagi hari baginya untuk menatap dengan tajam setiap hal yang tidak sesuai kehendaknya disusul dengan kritikan dan sedikit keluhan sarkastik atau ironis.
Terkadang, Edward berharap adiknya itu berhenti mengomel. Namun, siapa yang tahu? Ryan yang cuma berdiam diri ternyata lebih mengusik suasana pagi yang cerah. Edward, yang telah menemaninya selama masa keremajaanya dan sudah tahu kalau-kalau ada yang aneh dengan adiknya, tentu saja khawatir.
"Okay... Aku cukup yakin ada sesuatu yang janggal. Are you okay there lil' buddy? Puberty hit you hard again?" Singgung Edward dibarengi sedikit candaan, namun tidak dihiraukan oleh adiknya.
Edward meringis namun tersenyum. Ia bukan tipe orang yang bisa merelakan ketika diacuhkan seseorang. Ia meraih buah apel yang terletak di dalam keranjang rotan tepat di tengah-tengah meja makan, menggigit sisinya, dan tanpa diduga-duga, menyemburkan satu gigitan apel ke arah Ryan. Head shot! tepat di ubun-ubun Ryan.
"Son of a..." pekik Ryan terkejut, "Apa masalahmu?" Ucapnya sedikit gusar sambil mengusap bekas gigitan yang mendarat di keningnya.
Edward menyeringai bangga dengan akurasinya sendiri, "Masalah?..." Ucapnya tanpa meminta maaf karena sudah melontarkan bongkahan buah ke adiknya, "Nah, aku tidak punya masalah apa pun. But you, you look kinda pale today. Apakah ada yang menganggumu, sobat?"
"Bukan apa-apa." Tanggap Ryan acuh tak acuh. Ia membuang pandangannya dari Edward; memilih untuk mengamati bongkahan apel yang tadi membentur kepalanya.
Hening sejenak, dan buah kedua hinggap di kepala Ryan. Kali ini buah anggur kemerah-merahan.
Ryan bersungut kesal. Edward melipat tangannya, masih dengan senyum arogan di wajahnya. Ketika Ryan bertemu pandang dengan kakaknya, Edward mengangkat sebelah alis matanya yang berwarna gelap keemasan.
Sikap Edward seolah-olah menantang. Kalau masih tidak ingin memberitahuku, yang berikutnya buah nanas! Dan isyarat itu diterima oleh Ryan saat ia mendapati ada buah nanas di dekat Edward.
Ryan mengesah, "Baiklah, akan kuceritakan. Kau tahu gadis kecil yang menolong kita saat dikepung oleh pasukan Scream and The Shouts?"
"Maksudmu Chloe?" Ya, tentu. Ada apa dengannya?"
"Well... Kemarin ia memberiku ini." Ryan menyerahkan sepucuk surat yang diberikan Chloe di panti asuhan.
Edward membuka lipatan di surat itu sambil meneguk segelas susu yang kemudian membuatnya batuk akibat susu itu nyaris naik sampai ke hidungnya. Ia tersedak susu karena terkejut saat membaca surat itu sampai akhir.
"What can I say!? Adik kecilku sudah berhasil memikat seorang gadis!..." Edward tersenyum lebar. Timbul rasa bangga pada adiknya dan perasaan itu tampak jelas dari ekspresinya, "And not a bad one too." Lanjut Edward sembari menggoda Ryan."
"Bukannya hanya itu saja. Kemarin, saat Father Wayne mengantarku pulang, kami mampir sebentar di St. Monica Church, dan... Fr. Wayne memberitahu padaku sesuatu."
"Oh tidak!" Tanggap Edward spontan. Ia terlihat gugup. Mungkin, dia tahu apa yang sedang dibicarakan Ryan.
"Ada apa?" Tanya Ryan.
"Aku bersumpah! Aku sudah mencari ke mana-mana, namun aku tidak bisa menemukan palu yang kupinjam! My bad, okay."
Ryan menepuk dahinya, "Bukan itu, dasar bodoh!"

KAMU SEDANG MEMBACA
[HIATUS]Deus Caritas Est (DCE)
Action"You see Ryan, when you put the word 'God' and 'Love' together, You'll find the true meaning of life." He smiles at him and said, "That is what you called 'Deus Caritas Est'." Ryan dan Edward adalah kakak-beradik yatim-piatu namun menikmati kehidu...