{éxi}

83 22 14
                                    




Room chat
Ryan

|ric
|hari ini gue ke rumah lo
|ada yang pengen gue omongin
|penting
|Lo ada di rumah kan?

Iya gue di rumah|
Dateng aja|
Read













Pesan itu Eric kirimkan dua jam yang lalu. Ia masih menunggu kedatangan Ryan sekarang. Namun yang ditunggu pun tidak kunjung datang. Ryan tidak mungkin melanggar perkataannya. Jadi sampai sekarang Eric masih setia menunggu.

Dua sepupunya sedang tertidur pulas setelah bertengkar lagi tadi. Ingin sekali Eric punya saudara, namun tidak bisa. Karena suatu hal tentu saja. Ibunya mengidap penyakit flu burung. Maka itulah Eric lahir adalah sebuah karunia.

Eric sangat bosan menunggu. Ya, walaupun dirinya seharusnya tidak begini. Mau bagaimana lagi, Eric sangat penasaran. Jadi jika Ryan tidak kunjung datang juga Eric pun masih menunggu. Baginya itu bukan hanya sekedar omongan, namun juga informasi.

Ah, Eric lelah.

Tapi makin ke sini Eric makin berpikir. Untuk apa "sesuatu" itu mengganggunya? Apakah ia ada salah kepadanya? Padahal selama ini Eric berusaha bersikap baik kepad semua orang. Paling hanya kepada Ryan dan kedua sepupunya ia suka jahil- namun sebenarnya sayang. Selebihnya ia sangat sopan.

Dan yang masih Eric bingungkan adalah sebenarnya yabg mengganggunya itu apa? Manusia? Atau setan? Atau manusia dibantu setan? Atau-manusia setengah setan? Eric tidak tahu.

Sedari tadi Eric hanya mendecak dan menghembuskan napas kemudian mendecak lagi hingga seterusnya. Seperti orang sakit jiwa halusnya. Kasarnya ya gila.

Jujur saja dia frustasi, takut, dan penasaran di saat yang bersamaan.

Ponsel Eric berdering tanda telepon masuk. Buru-buru ia mengangkatnya.


"Halo?"

"Halo, Ric, gue udah di depan rumah lo."

"Oke, otw."


Ia buru-buru menutup teleponnya dan turun ke lantai dasar untuk membukakan pintu.

Rumah Eric sangat besar. Ukuran rumahnya saja 30×30 m. Belum lagi halaman rumah yang berada di sekelilingnya. Jarak dari pintu gerbang dengan pintu rumah pun 10 m. Tidak lupa ia punya lapangan basket sendiri dan kolam renang indoor pribadi-di dalam rumahnya tentu saja. Siapapun yang berkunjung ke rumahnya pasti merasa seperti di istana disney.

Eric memakai sandalnya untuk melangkah ke pintu gerbang. Butuh waktu lima menit untuk turun dari kamarnya ke pintu gerbang. Ya, sebesar itu rumah Eric.

Pintu gerbang berbuka otomatis ketika dirinya menempelkan sidik jarinya ke alat sensor di samping pintu gerbang.

"Eh, Ry. Ayo masuk," ajak Eric yang sedang menongol di daun pintu gerbang.

Ryan mengangguk dan mengikuti Eric di belakangnya.

"Kita ngobrolnya di teras aja ya, Ric," pinta Ryan.

"Oh, oke, tidak masalah."















"Gue mau langsung ke intinya aja, ya?" tanya Ryan.

Eric tahu Ryan kurang suka basa-basi.

"Gue setiap hari ngamatin rumah lo," prolognya. "Dan lo tahu? Gue selalu nyium bau anyir setiap lewat situ." Ryan menunjuk ke arah barat rumah Eric.

Eric mengerjap.

"Dan sayangnya gue gak bisa nemu itu bau dari mana," kata Ryan dengan kecewa. "Dan lo tahu kan kucing lo mati?"

Eric mengangguk.

"Kucing lo dibunuh. Gue ngeliat sendiri dengan mata kepala gue sendiri," Ryan menghela napas. "Kalo gue gak salah liat sih pelakunya wanita. Tapi gue yakin gue gak salah liat."

"Lo tau gak siapa?" tanya Eric yang sedari tadi mendengarkan kini bertanya.

"Sorry, Ric, gue gak kenal siapa wanita itu. Yang jelas dia wanita dewasa. Umurnya sekitar tiga puluh lima tahun," kata Ryan memberikan hipotesis. "Dan satu lagi yang perlu lo tahu."

Ryan memajukan tubuhnya agar dia bisa berbicara dengan suara yang kecil. Eric ikut mendekatkan telinganya.






































"Sepupu lo— sepertinya ada hubungannya sama semua ini."



















Eric membelalakan matanya. "Jangan bohong lo!" tanpa sadar Eric menarik kasar kerah baju Ryan.

"Terserah lo mau nganggep gue bohong atau nggak, tapi gue punya buktinya," ujar Ryan mantap.

Eric mengendurkan cekalan tangannya. "Mana sini gue mau liat!" titahnya.

Ryan mengeluarkan ponselnya. Kemudian memperlihatkan video di dalamnya.

Seorang wanita yang membunuh kucing. Itu saja sudah membuat Eric menutup mulutnya tidak percaya. Kemudian datang seorang laki-laki yang menaruh kucingnya di jalanan di sebelah barat rumah Eric. Ketika itulah Eric tiba-tiba merasa speechless dan geram di saat yang bersamaan.






















































"Zein?"

|Beside The House|



|Beside The House|

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ryan

[✔️] ʙᴇsɪᴅᴇ ᴛʜᴇ ʜᴏᴜsᴇTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang