"Lo nikahan tapi gak ngasih tau gue, Vi?"
Aku menyumpal mulut Nela dengan tanganku. Sehingga kalimat yang diucapkannya tidak terlalu keras dan jelas, tapi masih mudah aku mengerti. Mengabaikan beberapa mahasiswa yang melihat kami yang sedikit heboh dikantin fakultas.
"Gimana gue bisa ngasih tau lo, Nel. Ponsel aja disita sama Revan. Dia bilang gak mau gue punya rencana gagalin pernikahan."
Aku sudah menceritakan mengenai penyebab kepulanganku yang mendadak itu hingga berujung dengan pernikahan seminggu setelahnya. Itu karena desakan Nela yang pagi tadi kaget karena mendapati Mas Raksa yang mengantarku ke kampus.
Bukannya mengucapkan selamat atas seminar proposalku yang berjalan lancar tadi, melainkan pertanyaan bertubi-tubi mengenai lelaki tampan yang bersamaku pagi tadi.
"Berarti gue benarkan? Cincin yang lo pake itu cincin tunangan. Lo sih gak percaya."
"Iya. Gue gak pernah mikir sejauh itu. Waktu bicara sama Ibu baru gue tau."
Nela bertepuk tangan. "Lo beruntung banget, Vi. Gak pernah pacaran, eh tiba-tiba dapat suami modelnya kayak laki lo. Aduh, gue ngiri."
Aku mengiyakan dalam hati. Memang beruntung mendapatkan suami seperti Mas Raksa. Mas Raksa memperlakukanku dengan sangat lembut. Tindakannya itu membuatku meleleh. Semoga seterusnya Mas Raksa akan seperti itu.
"Semoga pernikahan lo samawa ya. Lo harus jadi istri yang baik. Btw, lo udah gak perawan kan ya?"
Wajahku memanas. "Doa, doa aja cukup. Gak perlu lo nanya yang gak-gak deh."
"Tanpa lo jawab, gue udah tau juga sih jawabannya. Wajah lo memerah tuh," ucap Nela. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Oh iya, gue keluar dari kos. Habis ini kayaknya gue akan berkemas ke kos. Mas Raksa yang minta."
Nela mendesah kecewa. "Jarang ketemu lo dong? Yakin mau bolak balik dari rumah ke kampus? Jauh loh!"
"Masih bisa lah, minggu sampai selasa atau mungkin rabu gue tetap di kota ini kok. Cuma nginapnya gak di kos. Kita bisa ketemuan karena Mas Raksa juga kerja. Nanti bantu anterin gue balik ya, biar tau dimana gue nginep. Rasanya gak jauh dari rumah lo kok."
"Gampang itu mah. Ngomong-ngomong gimana Hamdi ya pas nanti dia dengar lo sudah nikah?" tanya Nela tiba-tiba. Pikirannya seperti menerawang. "Dia pasti patah hati banget gak sih?"
"Mana gue tau, lagian gue nikah atau gak bukan urusan dia juga. Palingan dia juga udah tau tuh, soalnya Restu pasti udah dengar kalau gue nikah. Mereka kan teman."
Nela menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo benar-benar kejam, Vi. Gak peka banget," ucap Nela dramatis. Aku hanya mengangkat bahu sebagai respon.
Setelah aku dan Nela makan siang, kami kembali ke kosku. Nela membantu mengemasi barang-barangku yang sebentar lagi akan dijemput oleh orang suruhan Mas Raksa. Rencananya mau diantarkan langsung ke rumah Mas Raksa, rumah kami maksudnya.
"Sisanya mau lo tinggal?"
Nela menunjuk barang-barang seperti lemari, tempat tidur dan beberapa peralatan lainnya. Aku mengangguk. "Dibawa pun takutnya nanti gak digunakan. Tinggalin disini aja lah biar nanti ada yang pakai. Lagian ibu kos juga udah ngasih ijin."
Setelah barang-barang ku dibawa dengan mobil pengangkut barang, aku berpamitan dengan ibu kos dan teman-teman serta adik-adik satu kos. Kemudian aku diantar Nela kembali ke hotel.
Nela yang tadi di hubungi oleh Mama nya ketika dijalan langsung balik ke rumah setelah menuruni ku didepan hotel.
"Selamat ya bu, maaf kami gak bisa datang waktu resepsi."
Aku tersenyum menanggapi ucapan selamat dari Mbak resepsionis. Rencananya mau minta kunci cadangan kamar, karena lupa tadi pagi mengambil kuncinya yang ditinggal Mas Raksa diatas nakas. Bukannya terima kunci langsung, malah terima ucapan selamat lebih dulu.
Mas Raksa masih belum bisa di hubungi sejak tadi. Mungkin karena Mas Raksa ada pekerjaan yang mendesak sehingga dia tak sadar bahwa ponselnya mati.
"Terima kasih Mbak, gak papa kok Mbak. Panggil Vivi aja Mbak, gak enak masih muda begini sudah di panggil Ibu," ucapku disertai kekehan yang membuat ketiga Mbak resepsionisnya tertawa.
"Pak Raksa ada rapat dadakan, Mbak. Jika Mbak Vivi gak bisa hubungi Pak Raksa, itu memang sudah kebijakan hotel untuk menonaktifkan ponsel selama rapat. Ini kunci kamarnya."
Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung meninggalkan lobi. Berhubung sudah masuk waktu sholat Ashar, mungkin aku hanya santai-santai ditempat tidur setelah sholat. Gak baik untuk kesehatan soalnya tidur pada waktu petang, apalagi setelah sholat Ashar.
Aku berbaring diatas tempat tidur. Dengan ponsel ditangan, aku membuka akun grup di chat. Dan sudah banyak notifikasi pesan yang masuk. Semuanya ucapan selamat yang aku terima atas pernikahanku.
Siapa lagi kalau bukan kerjaan Nela yang memberi pemberitahuan di grup mengenai pernikahanku yang sudah terlaksana.
Aku membuka private chat untuk mengingatkan Nela, agar tidak perlu memberi tahu sampai tingkat fakultas apalagi nanti di grup KKN* Universitas yang isinya hampir semua Mahasiswa yang seangkatan denganku. Toh, mereka kan gak kenal aku juga.
Nela : Nanti tiba-tiba ada yang lihat lo di hotel gimana? Ntar timbul fitnah. Mending diinfoin aja 😏
Me: Kan udah infoin di grup angkatan. Grup jurusan juga. Cukup disana aja, jangan lo umumin juga di grup fakultas 🙄
Nela : iya deh Ny. Raksa 😅 Gak bakal gue umumin disana. Btw, suami lo kaya banget. Ortu gue smpai kaget tau lo nikah sama pengusaha muda 😉
Pengusaha muda ya?
Sayangnya sekarang pun aku gak tau kerja pasti Mas Raksa apa selain bahwa dia memang bekerja di hotel ini. Sering tanya pun, takutnya membuat Mas Raksa gak nyaman. Aku juga pasti kelihatan nyinyir jika bertanya terus-terusan.
Aku menghidupkan laptop dan menonton film yang sudah lama ku download tapi belum sempat di tonton sama sekali. Film Asia yang mengambil lokasi di New York dan Singapura.
Film yang menceritakan si gadis keturunan Asia yang pacaran dan dibawa ke kampung halaman laki-laki kaya raya. Gak terlalu banyak konflik sih selain sang gadis harus hadapi orang yang tidak menyukainya termasuk keluarga pacarnya.
Sambil menelungkup diatas tempat tidur, aku mengikuti alur cerita film ini. Hanya saja, semakin lama aku semakin tidak fokus.
Hingga aku tidak tau sampai bagian mana aku sudah menontonnya. Nyamannya tempat tidur membuat mataku perlahan-lahan mulai menutup.
***
*KKN = kuliah kerja nyata, salah satu mata kuliah yang mahasiswa nya turun langsung kedalam masyarakat. Biasanya ke daerah-daerah pedalaman. Menetap disana selama 40 hari untuk melakukan berbagai kegiatan, membantu masyarakat dan menyelesaikan program kerja yang sudah dirancang.
Jadi untuk memudahkan berbagi info, kadang ada yang buat grup KKN universitas yang anggota grupnya merupakan semua mahasiswa yang ikut KKN ditahun itu.Aku gak akan bosan untuk ingetin, jaga kesehatan semua. Banyak-banyak minum air, makan makanan bergizi dan jaga kesehatan. Kalau keluar rumah karena perlu banget pakai Masker.
Semoga Suka 🤗
Salam Sayang 😘
~fansdeviyy,P.S you can call me Dev 😉

KAMU SEDANG MEMBACA
Taken by Him [Tamat]
RomanceTaken by Him merupakan cerita lengkap dari 'Taken by Him (Oneshoot)' Ketika sampai dirumah, Vivian dikejutkan dengan berita pernikahannya yang akan digelar seminggu dari kepulangannya itu. Jika bisa menunda, mungkin Vivian lebih memilih menundanya d...