Aku terbangun dengan tubuh yang sudah terasa lebih baik dibandingkan subuh tadi. Walaupun masih terasa pegal dibeberapa bagian.
Tubuh bagian bawahku masih terasa perih akibat 'bermain' dengan Mas Raksa semalam. Padahal malam tadi adalah pertama kalinya untuk kami, tapi tidak cukup baginya cuma satu kali.
Setelah sholat subuh tadi, aku melanjutkan tidurku kembali. Sementara Mas Raksa keluar kamar, katanya untuk menemui kedua orang tua kami atau keluarga lainnya yang mungkin sedang sarapan bersama.
Yang jelas aku tidak bisa ikut sarapan bersama, biar saja Mas Raksa yang bicara dengan Bapak. Sebagai tanggung jawabnya membuatku begitu lelah pagi ini. Padahal Bapak tidak suka melihat keluarganya kembali tidur setelah sholat subuh.
Aku membalikkan badan dan menemukan Mas Raksa yang duduk menyandar disebelahku. Menatapku dengan senyuman yang membuatnya terlihat semakin tampan. Aku bahkan tak menyadari bahwa tangannya mengelus kepalaku.
"Sayang, ponsel kamu dari tadi bergetar. Tapi Mas gak tega bangunin kamu."
Ya, Mas Raksa kini memanggilku dengan panggilan sayang. Panggilan yang katanya lebih disukainya dari pada memanggil namaku. Tapi terdengar menggairahkan ketika dia menggabungkan keduanya saat pelepasan semalam.
Ya ampun, bahkan kini kejadian semalam kembali terbayang olehku. Kenapa aku bisa mesum sekali?
"Sayang? Gak mau dijawab dulu?"
Aku tersenyum dan mengambil ponselku dari tangan Mas Raksa. Bangkit dari tidurku dan ikut menyandar seperti yang dilakukannya.
"Lo kemana aja sih Vi? Seminggu pergi dan gue hubungi gak bisa?"
Belum sempat mengucapkan salam, terdengar teriakan Nela langsung terdengar, yang membuatku menjauhkan ponsel dari telinga. Mas Raksa mengernyit, mungkin mendengar teriakan itu.
"Gue dirumah, Nel. Ponsel gue disita sama Revan, baru dibalikin ini."
Aku melingkarkan sebelah tanganku ke pinggang Mas Raksa ketika dia menarik tubuhku kedalam pelukannya. Karena posisi tubuhku yang terasa belum nyaman, aku bergerak dan meletakkan tubuhku diantara kedua kakinya.
"Besok lo seminar proposal Vi. Jadwal lo udah keluar sejak selasa kemaren, tapi gue hubungi lo gak bisa. Gue pengen nyusul lo, tapi gue gak tau alamat lo. Mana lo pelit dulu, gak mau ngasih nomor adik lo ke gue. Mau hubungi siapa lagi coba?"
Aku menepuk keningku. Karena kesibukan dan kegalauan hati seminggu yang lalu membuatku melupakan hal ini.
"Aduh, gue lupa kalau udah daftar seminar. Gue berangkat hari ini deh, biar besok gak telat nyampe kampus."
Jelas aku panik sekarang. Baru kemaren menikah dan kini lagi sayang-sayangan sama suami, eh harus menghadapi dunia perkuliahan lagi. Teringat bahwa aku masih belum lulus kuliah dan ada tugas akhir yang bahkan belum setengahnya selesai.
"Iya, lo hati-hati baliknya. Ada apa-apa, kabarin gue."
Setelah mengucapkan terima kasih dan salam, aku menoleh kepada Mas Raksa yang terlihat sedang berpikir. "Mas, gimana ini?" tanyaku sambil melihat jam di ponselku. Pukul sembilan pagi.
"Mas yang antar kamu tapi kamu nginap di hotel sama Mas. Besok pagi Mas antar ke kos, baru setelah itu ke kampus."
Aku menganggukkan kepala. Segera aku membereskan pakaianku dan Mas Raksa yang memang tak banyak karena rencana awalnya hanya menginap disini selama dua malam.
"Oalah, kalau gitu berangkat hari ini aja. Kalau besok takutnya kamu terlambat," ucap Mama ketika aku meminta ijin untuk pergi bersama Mas Raksa.
"Iya Ma. Nanti habis Zuhur kami berangkat. Gak papa kan kalau Raksa sama Vivi pergi gitu aja?" tanya Raksa sekaligus melihat kepada Bapak dan Ibu.
"Gak papa. Semoga lancar ya seminarnya. Bapak doakan dapat hasil yang terbaik," ucap Bapak sambil sambil mengelus kepalaku.
Setelah Sholat Zuhur dan makan siang, aku dan Mas Raksa sedang di perjalanan menuju kota tempat ku berkuliah. Paling lama tiga jam perjalanan jika tidak macet.
"Sayang, kamu gak keberatan kan nanti tinggalnya pisah dari Bapak sama Ibu?"
Mobil yang semula hanya dipenuhi dengan nyanyian, seketika menjadi sunyi ketika Mas Raksa berbicara. Sengaja aku matikan, karena kami memang butuh membicarakan ini.
"Aku gak keberatan kok Mas, memangnya nanti tinggal dimana?" tanyaku sambil merubah posisi. Duduk miring dengan posisi menghadap Mas Raksa.
"Mas udah menyiapkan rumah, gak terlalu jauh dari rumah Bapak dan Papa. Kita nginap di rumah bapak dulu, Mas yang akan bicara sama bapak kapan kita pindahan"
Aku menganggukkan kepala ketika Mas Raksa melirikku sekilas sebelum kembali fokus menjalankan mobil. "Tapi aku masih skripsian Mas, penelitian sama bimbingan gimana?"
"Revan bilang kamu rutin bimbingan senin siang?" Aku mengiyakan. Senin siang adalah waktu bimbingan yang ditentukan Bu Mini. Kalau sudah dikejar deadline seperti kemaren, baru hampir setiap hari bimbingan.
"Kita berangkat minggu siang, balik kerumah selasa sore atau rabu pagi. Biar kamu hari selasa nya bisa penelitian "
Aku membelalakkan mata. "Aku gak mungkin bawa Mas tidur di kosan. Lagian Mas gak capek apa? Terus kerjaan Mas gimana?"
Mas Raksa terkekeh. "Kita tidur dihotel ya, kamu keluar aja dari kosan. Mas malah senang bisa sama kamu terus-terusan, sayang."
Aku menuruti perkataan Mas Raksa, toh terserah Mas Raksa saja lah, aku sebagai istri hanya mematuhi. Pahala untuk seorang istri yang mematuhi suaminya.
"Aku gak tau kamu kerja apaan Mas? bapak gak mau ngasih tau soalnya" kataku kepada Mas Raksa.
"Nanti kamu bakalan tau sayang. Yang pasti, Mas gak akan biarkan kamu hidup kekurangan."
Aku mendesah kecewa. Tanya sama bapak dan Mas Raksa sama saja, tidak dapat jawaban pasti. Mungkin karena itu kali ya mereka terlihat cocok sebagai mertua dan menantu?
Mas Raksa menghentikan mobilnya disalah satu hotel mewah yang jika aku perkirakan lebih kurang satu jam perjalanan jaraknya dengan kampusku. Lagi-lagi Mas Raksa memilih hotel yang aku yakini sewanya mungkin lebih mahal daripada hotel tempat kami resepsi kemarin.
Dua orang pria langsung mendekat, menyapa lalu mulai mengeluarkan koper dari bagasi mobil. Salah satu diantaranya, menerima kunci mobil yang diberikan oleh Mas Raksa.
Aku menatap Mas Raksa dengan pandangan menuntut penjelasan. Sebenarnya siapa sih laki-laki yang sudah menjadi suami ku ini? Sementara Mas Raksa hanya tersenyum, mengacak rambut sekilas dan menarik pinggangku mengikutinya berjalan.
Tanpa menemui resepsionis dahulu yang kini tengah menatap kami, lebih tepatnya Mas Raksa dengan tatapan berbinar, Mas Raksa langsung menyeret pinggangku memasuki lift. Menekan tombol yang dituju, masuk kedalam kamar yang sudah ada barang kami didalamnya, seakan sudah terbiasa.
"Kamu kerja disini Mas?" tanyaku ketika Mas Raksa hendak bersiap-siap ke kamar mandi. Teringat bahwa kami belum sholat Ashar.
"Iya, sayang."
***
Sengaja double up karena dua bagian ini hampir semuanya ada di oneshoot.
Semoga Suka 🤗
Salam Sayang 😘
~fansdeviyy,P.S you can call me Dev 😉

KAMU SEDANG MEMBACA
Taken by Him [Tamat]
RomanceTaken by Him merupakan cerita lengkap dari 'Taken by Him (Oneshoot)' Ketika sampai dirumah, Vivian dikejutkan dengan berita pernikahannya yang akan digelar seminggu dari kepulangannya itu. Jika bisa menunda, mungkin Vivian lebih memilih menundanya d...