Chapter 45

422 21 7
                                    

Jangan lupa vote dan komen ya..

Bacanya pelan-pelan..

~•~

Pagi-pagi sekali Putri sudah siap dengan seragamnya. Setelah memakai sepatu dan menggendong ransel, tangan kanan gadis itu membuka kenop pintu kamar yang sejak tadi belum dia buka. Kakinya melangkah sekali lalu kembali menutup daun pintu sampai rapat.

Matanya tiba-tiba teralih pada totebag kecil berwarna dan sebuah surat yang tergantung di talinya. Putri merengut, lalu meraihnya. Dia membaca surat itu.

Nih uang jajan buat kamu, papa abis gajian.

Tulis kalimat itu singkat.

"Lah, tumben?" gumamnya.

Putri merengut dan merogoh dalam-dalam totebag itu. Terasa beberapa lembar kertas di dalamnya. Gadis itu menariknya perlahan dan tampak kira-kira sepuluh lembar uang berwarna merah yang kini ada di tangannya.

"Wih banyak banget!" tuturnya syok.

Dia langsung mengepalnya seperti anak kecil yang ingin pergi jajan. Gadis itu buru-buru menuruni tangga dengan langkah kaki yang seperti kilat.

Tak butuh waktu lama dia berlari sembari berteriak memanggil Evelyn heboh.

"Mama!!" panggilnya.

Evelyn yang sedang memakan roti tawarnya pun mendongak kaget. "Apa?" tanyanya keheranan.

"Mah." gadis itu berhenti di depannya.

"Hmm?"

Putri menyodorkan uang berlembar-lembar itu. "Mah, masa papa ngasih aku ini," ungkapnya syok sendiri.

Evelyn tertawa. "Haha kirain apa, ya terus kenapa? Kan kamu anaknya," kekehnya lalu wanita itu mengangkat cangkir teh di samping dan meminumnya.

Gadis itu menyatukan alisnya. "Tapi ini banyak bange--"

"Udah jajan aja sepuas kamu, beli buku sama makanan tuh, kamu kan paling demen makan sama baca," sela wanita itu tertawa renyah.

Putri merubah ekspresinya, wajah cantik itu akhirnya memasang wajah penuh rencana. "Mwehehe, iya ya makanan~" gumamnya sambil melamun.

Evelyn menggeleng-geleng. "Eh cepetan berangkat, nanti telat lagi!" serunya tersenyum.

Gadis itu kembali tersadar. "Eh iya ma, ya udah aku berangkat ya ma!" Putri mendekatkan badannya kemudian mencium punggung tangan Evelyn.

"Pake mobil mama aja," perintah wanita itu sambil mengelus kepala Putri.

Putri mengangguk. "Oke ma, babay!" lalu gadis itu berlari ke pintu depan.

~•~

Sesampainya di sekolah Putri langsung bergabung duduk bersama Mira dan Seli di kelas. Beberapa orang di kelasnya sibuk membuka buku dan membaca secara terburu-buru, sementara yang lainnya bersantai sambil bermain gitar di kelas karena mereka tahu kalau di hari jum'at, pelajaran pertama dan kedua pasti jam kosong.

MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang