Halo guys, masih ada nggak ya yang baca work Yocat? Hehehe
Kali ini balik lagi, dengan cerita fiksi yang ketujuh, dan ini lumayan panjang (sekitar 15k). Semoga kalian suka dan betah bacanya, maaf kalau ada typo dan sejenisnya. Jangan ragu buat ninggalin komentar apapun, termasuk mau protes sama gaya penulisan, bahasa, atau yang lain. Silahkan, dengan senang hati diterima. Happy reading, dan terimakasih banyak sudah membaca.
. . . .
Yohan mendengus pelan, setelah menghabiskan waktu sekitar 1 jam, bahkan lebih, untuk berpikir keras..
Ia pikir semuanya sudah berakhir setelah peristiwa nekat yang dilakukan atas keinginannya dua hari yang lalu. Ia pikir, ia tidak akan bisa mendengar detak jam di dinding. Tidak akan pernah lagi melihat bagaimana matahari terbit dan terbenam.
Ia pikir, setelah memutuskan untuk melompat ke sebuah sungai dari jembatan yang tinggi itu, ia tidak akan bisa menghirup udara pagi yang menurutnya sangat memuakkan itu.
Tapi nyatanya, ia masih bisa menatap pemandangan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Hanya saja, kepalanya semakin pening karena hal aneh yang ia alami saat ini.
Bagaimana tidak aneh, jika sekarang ia bisa melihat dirinya sendiri terbaring di sebuah ruang ICU dengan segala alat yang melekat ditubuhnya. Ditambah dengan dirinya yang lain, yang saat ini tidak disadari keberadaannya oleh orang lain. Yang tiba-tiba bisa menembus berbagai benda, yang bisa keluar masuk ruangan tanpa perlu membuka pintu, dan berbagai hal lainnya yang bisa dilakukan oleh roh seseorang yang keluar dari tubuh aslinya. Seperti yang pernah ia tahu dari drama atau film.
Iya benar, Yohan mengalami hal gaib yang menurutnya bahkan sangat tidak masuk akal untuk ada di kehidupannya. Rohnya benar-benar keluar dari tubuhnya.
"Wah, hal bodoh ini ternyata benar-benar ada di dunia nyata," untuk kesekian kalinya Yohan mengerang frustrasi. Ia mengusak rambutnya dengan kasar, merasa sangat marah dengan tamparan realita yang ia hadapi saat ini. Lama Yohan tampak uring-uringan, sebelum akhirnya ia beranjak mendekati tubuhnya yang terbaring di ranjang ICU tersebut. Bunyi alat-alat medis yang melekat ditubuhnya terdengar saling bersahutan, membuat telinganya seakan mau pecah.
"Berapa lama lagi kau akan terbaring disini? Tidak bisakah kau mati saja, hah?! Kalau saja aku bisa menyentuh benda-benda sialan ini, pasti akan kucabut diam-diam. Lagian untuk apa si Kim Jaehwan itu tiba-tiba datang ke rumah sakit dan memohon-mohon kepada dokter untuk memberikanku perawatan disini? Peduli apa dia?" Yohan berucap dingin, decakan sinis terlontar dari bibirnya.
Merasa muak dengan pemandangan di hadapannya, Yohan memutuskan untuk pergi keluar ruangan. Menghempaskan dirinya di lantai, tempat orang-orang lain menunggu keluarganya yang juga dirawat di ICU. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk menetralisir pikiran-pikiran yang terlintas di benaknya.
.
.
"Yaaa Kim Cungha, aku disini. Apa kau benar-benar tidak bisa melihatku? Hiks, tolong aku, apa yang harus aku lakukan agar kau melihatku? Jangan menangis, oppa tidak sanggup melihatmu sedih seperti ini. Ah jebal..." suara isakan tangis yang terdengar di sela-sela teriakan yang menggema cukup keras membuat Yohan jengah dan kembali membuka matanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Time Lapse || Yocat FF - One shoot
FanficHanya sekumpulan short stories yang dipakai sebagai sarana belajar nulis. Haha. Mainly oneshoot, only about Yocat. Mungkin akan ditambah karakter lainnya sesuai kebutuhan masing-masing chapter. Please enjoy and don't hesitate to leave your comment :)