Eric mengunjungi rumah Ryan hari ini. Ia ingin sekali memberitahu tentang percakapan Zein dengan wanita itu tadi malam. Ia juga ingin menanyakan perkembangan penyelidikan rumahnya yang dilakukan oleh teman Ryan.
Sekitar pukul delapan pagi, Eric izin kepada orang rumah untuk berkunjung ke rumah Ryan. Karena hari itu ibu sedang di rumah, ibu pun mengizinkan Eric.
Oh iya ngomong-ngomong, dua minggu ini adalah hari libur akhir tahun, makanya Zein dan Zain bisa ke rumah Eric.
Rumah Zein dan Zain sangat sederhana, makanya jika mereka datang ke rumah Eric mereka akan terkagum-kagum dan memuji-muji.
Zein dan Zain tidak punya ayah alias yatim. Eric juga belum pernah tahu kapan ayah sepupu kembarnya itu meninggalkan mereka. Eric pernah bertanya sekali kepada ibunya, namun ibunya hanya menggeleng.
Zein, Zain, dan Eric juga memiliki beberapa kemiripan, yaitu bibir mereka. Mungkin karena gen mereka sama, jadi tidak mungkin tidak ada kemiripan di antara mereka walaupun sedikit.
Zain adalah orang tertutup. Ia awalnya sangat pemalu dan pendiam, namun Zein dan Eric membantunya agar ia terlihat lebih percaya diri. Dulu ia tidak banyak bicara. Menjawab pun hanya seperlunya saja. Seperti "ya" dan "nggak". Sekarang walaupun ia masih seperti itu tetapi ia sudah mulai gila dengan kepercayaan dirinya.
Zein adalah kebalikan Zain. Ia sangat terbuka dan percaya diri. Ia juga sangat ramah kepada setiap orang dan mudah bergaul. Tidak heran jika siapapun yang berinteraksi dengannya akan merasa nyaman, termasuk Eric.
Namun sekarang ia memandang Zein dengan pandangan yang berbeda. Dengan pandangan yang mungkin— memiliki sedikit kebencian. Entahlah.
Yang pasti sekarang Eric sudah tidak menganggap Zein orang yang ramah. Tidak.
Rumah Ryan sepi seperti biasanya. Untuk jam sekarang, si tuan rumah biasanya sedang membersihkan kamarnya.
Hm, rajin sekali ya kawan.
Karena rumah Ryan sama besarnya dengan rumah Eric, jadi jika ia memanggil dari pintu gerbang pasti tidak akan terdengar. Maka di sinilah fungsinya bel.
Eric menekan bel dengan hati-hati.
Ia pernah kesetrum dulu saat bel rumah Ryan belum diperbaiki karena korsleting. Jadi tentu saja ia trauma dengan bel ini.
Tetapi syukurlah kali ini belnya sehat-sehat saja.
Beberapa menit kemudian, Ryan muncul di pintu gerbang dan menyuruh Eric untuk masuk.
Jujur saja, rumah Ryan jauh lebih rapi daripada miliknya. Semua anggota keluarganya menyukai kebersihan dan kerapihan. Berbeda dengan dirinya yang hobi berlari-lari di dalam maupun halaman rumahnya.
Ryan mempersilakan Eric untuk duduk. Ia pergi ke dapur untuk membawakan dua gelas susu.
Satu poin lagi tentang Ryan, ia adalah atlit lari, jadi ia harus rajin minum susu untuk kesehatan tulangnya.
"Ayo mau ngasih tau apa?" tanya Ryan yang sudah duduk manis di seberang Eric.
Wah, seperti membuka sesi curhat ya.
Lalu Eric pun menceritakan tentang pendengarannya semalam. Tentang Zein yang bertemu dengan wanita sepersekongkolannya di luar jendela kamar Eric dan juga percakapan mereka berdua.
"Gue rasa Zein udah tau lo tau tentangnya," ujar Ryan kemudian.
"Hah?" kata-kata Ryan sulit dipahami di telinganya.
"Iya, jadi Zein udah curiga lo tau dan lo berusaha buat cari tau," kata Ryan memperjelas kalimatnya.
"Hah, apa sih? Gue gak ngerti sumpah," tanya Eric yang masih kebingungan.
"Intinya Zein udah mulai curiga sama lo."
Eric mengerjapkan matanya. "Tau dari mana?" tanyanya.
"Soalnya dia juga indigo, Ric. Dia juga bisa minta bantuan pelindungnya buat nyari tau semuanya."
"Dia indigo?!" heboh Eric.
"Gak sepenuhnya, sih. Dia, ya, bagaimana cara menjelaskannya," Ryan berpikir. "Minta bantuan kepada orang yang bisa buat mempertajam indra keenamnya."
"Ck, sialan!" umpat Eric. "Eh, btw lo tau dari mana?"
"Dari pelindung gue," kata Ryan sambil menyeringai misterius.
Gila.
Orang-orang di sekelilignya sungguh gila. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bisa saja ia bilang mimpi, namun ternyata ada juga hal seperti ini di dunia nyata.
Tidak Ryan, tidak Zein, mereka berdua membuat Eric sulit mencerna kehidupan mereka.
Oke Eric percaya Ryan memang bisa.
Tapi Zein?
Ini semakin rumit bagi Eric. Bukan rumit karena mereka punya bakat. Namun rumit karena itu berarti ia akan sulit menyelesaikannya. Ia tidak ingin terlalu membebankan Ryan, ia juga ingin berusaha.
Gue bisa, bukan?
|Beside The House|

KAMU SEDANG MEMBACA
[✔️] ʙᴇsɪᴅᴇ ᴛʜᴇ ʜᴏᴜsᴇ
Misteri / Thriller[[COMPLETED]] "Gue selalu nyium bau anyir setiap lewat situ." ©hanshzz, 2020