Apa yang dikatakan Genta untuk berdiam sebentar di rumahnya ternyata hanyalah bualan. Buktinya, hingga Avi tertidur di gendongan Genta pun, pria itu masih tidak menunjukkan gerak-gerik untuk memindahkan Avi ke kamarnya dan pulang. Shera sudah dongkol setengah mati. Ia ingin Genta segera pergi dari rumahnya. Pasca pelukan yang terasa sangat menakutkan bagi Shera, keadaan di rumahnya kini semakin canggung. Shera membiarkan Genta bersenda gurau dengan anaknya, sementara ia berdiam diri dengan teh hangat di hadapannya.
"Ra." Genta memanggilnya dan ia menolehkan kepalanya dengan malas.
"Ini Avi aku bawa ke kamarnya aja?" Shera hanya mengangguk.
Shera menunggu Genta untuk keluar dari kamar anaknya dan ia berharap, tanpa basa-basi apapun lagi, Genta akan langsung meninggalkannya segera. "Ra."Sialnya, Genta malah memilih untuk di samping Shera yang membuat wanita itu membeku di tempatnya. "Gimana kabar kamu, Ra?"
Ayolah lelucon macam apa ini. Seharusnya Genta bisa membaca situasi bahwa Shera benar-benar tidak ingin ia ada di sini. Jadi, untuk apa ia menanyakan kabarnya. Shera sudah terlanjur dongkol untuk menjawab, ia hanya memilih untuk diam.
"Saya masih selalu menyesal kalo inget perbuatan saya ke kamu. Seharusnya waktu Radja nggak ada, saya selalu ada di samping kamu. Bukannya membenci kamu yang tidak becus menjaga Radja dan jadi bertindak kasar sama kamu." Entah mengapa, Genta ingin membahas ini dengan Shera. Seakan pembahasan sebelumnya belum usai."Saya tahu kamu masih sakit setiap ingat perbuatan saya. Saya juga selalu merasa berengsek kalo inget itu," lanjut Genta dengan kepala yang ia tundukkan.
"Iya, saya 'sakit'. Sampai sekarang, Ta." Hati Genta diisi oleh seribu penyesalan dan kekesalan pada dirinya sendiri. "Saya minta maaf. Walaupun saya tahu itu nggak bisa mengubah apapun."
"Saya udah maafin kamu. Tapi, saya udah muak," jawab Shera dengan tegas. Ia sudah memegang prinsip bahwa ia tidak ingin jatuh lagi pada Genta. Pria itu adalah pria yang memperlakukannya dengan manis saat awal mereka dekat dulu, hingga membuat Shera mau menikah dengannya. Jadi, Shera harus berhati-hati kalau Genta akan memberlakukan jurus yang sama untuk kedua kalinya.
Genta menghela napas. "Saya tahu ini udah basi buat kamu denger-tapi, saya rindu kamu, dan saya masih cinta sama kamu." Genta mengucapkan dengan penuh harapan bahwa Shera tahu dirinya masih stuck pada wanita itu.
***
Biar Shera beri tahu alasan dibalik perceraiannya dengan Gentahardja Subroto. Hal itu dimulai ketika ketika Radja meninggal dunia di umur dua bulan karena sakit demam tinggi yang dideritanya. Sepatutnya, tidak ada yang disalahkan karena hal itu. Namun, baik Genta maupun Shera selalu mencari alasan untuk membenci satu sama lain. Pernikahan mereka di tahun keempat tidak berjalan dengan lancar.
Shera salah melakukan sesuatu sedikit saja, Genta sudah melayangkan tamparan di wajah istrinya. Shera salah memilihkan dasi, Genta membentaknya. Shera lupa membuatkan sarapan untuk Genta, pria itu tidak segan untuk memukulnya. Genta memang tempramental-Shera pun sudah tahu itu sejak awal, ia masih bisa menerimanya. Namun, jika sudah mengandalkan tamparan di setiap percekcokan mereka, Shera juga memiliki batas tersendiri.Shera memang sudah muak dengan Genta.
Ditambah lagi, saat ini mereka harus mengerjakan proyek bersama. Perusahaan Garahandara memang perusahaan ternama dan bukan perusahaan biasa-biasa saja, tidak dipungkiri bahwa mereka juga ingin seseorang yang profesional untuk proyek tersebut. Sementara Sheravina pun bukanlah arsitek pemula yang belum mampu memegang proyek besar.
Entah kebetulan dari mana, perusahaannya dan perusahaan mantan suaminya itu akhirnya bekerja sama.
Dan di sinilah Shera, berada di kantor Genta untuk membahas kapan mereka bisa memulai proyek ini. Setelah mengerti dan dirasa semua sudah siap, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan riset dan rancangan awal juga pergi ke Lombok-dimana mereka akan memulai proyek itu-lima hari lagi.
Genta sendiri meminta Shera untuk bertemu dengannya. Pria itu seolah sudah mengatur semuanya. Mulai dari persoalan tentang tim yang akan berangkat ke sana, bagaimana akomodasinya, hingga masalah personal tentang Shera.
"Ada apa?" tanya Shera dengan heran ketika mereka berada di roof top. Semilir angin yang membuat rambut Shera sedikit berterbangan menjadikan pemandangan menarik bagi Genta."Karena kita bakal ada di sana sekitar lima hari, saya udah memikirkan tentang Avi. Lebih baik dia dititipkan di rumah Mama-atau Ibu saya, saya kurang percaya kalo Rita yang akan mengurus dia selama itu." Genta menerangkan. Sebenarnya, Shera tidak habis pikir bahwa pria itu akan memikirkannya terlebih dahulu dibandingkan dengan dia. Shera saja belum kepikiran siapa yang akan mengurus Avi ketika ia harus survei ke Lombok.
"Iya." Hanya itu balasan Shera.
"Untuk keberangkatan kita ke sana, saya akan menjemput kamu. Sekalian juga anter Avi."
Lagi-lagi, Shera hanya mengangguk. Berada dalam satu mobil dengan mantan suaminya bukan hal yang buruk, kan? Tidak akan terjadi apa-apa.Iya, tidak akan.
***
"Nanti minggu depan Mama sama Papa jemput Avi lagi ya. Inget, harus jadi anak baik. Nurut apa kata Nenek dan Kakek." Shera mengelus rambut panjang anaknya dengan sayang. Ia meninggalkan kecupan di dahi Avi sebelum berangkat.
"Ma, aku nitip Avi, ya," ujar Shera pada Ara-Ibunya.
"Iya, ati-ati kamu di sana." Shera mengangguk dan memeluk ibunya. Tak lupa juga ia pamit pada Ayahnya.
"Ra, hati-hati. Nanti telepon Bapak kalo sudah sampe," ujar Faisal Sanjaya pada putri semata wayangnya.
"Genta, Bapak titip anak Bapak, ya. Walaupun udah nggak bareng-bareng lagi, Bapak harap kalian masih bisa kerja sama."
Faisal mungkin adalah ayah terhebat sekaligus mertua paing baik yang pernah dikenal oleh keduanya. Karena sekalipun Genta dan Shera sudah pisah, dia masih memperlakukan Genta dengan baik walaupun ia tahu seburuk apa perlakuan Genta pada anaknya dulu.***
Tim Genta dan Shera yang sudah menunggu kedatangan mereka di bandara dibuat bingung melihat atasan mereka datang bersamaan. Sudah menjadi rahasia umum pula, bahwa perceraian Genta dan Shera tidak berakhir damai. Lantas, kenapa mereka bisa berada di satu mobil yang sama jika mereka tidak pernah bisa akur?
"Pagi," sapa Genta dengan senyum tipis pada sepuluh orang tim yang akan mereka bawa. Walaupun dengan kebingungan yang melanda, orang-orang itu tetap menjawab sapaannya dan tersenyum.
"Ta, bareng siapa lo?" tanya Tandra-asisten Genta dan satu-satunya orang yang bisa leluasa mengobrol dengan Genta dibandingkan karyawan lainnya. Tandra melirik Shera yang sedang mengobrol dengan Lala-salah satu tim yang ia bawa.
Sementara Genta sebenarnya tahu, Tandra hanya ingin menggodanya. "Shera," jawab Genta seraya ikut melirik Shera. Seharusnya lirikan itu tidak bertahan lama, namun Shera mampu menyihir Genta untuk tetap melihat pesonanya. Wanita berumur dua puluh delapan tahun itu hanya memakai jeans biru, kaos putih yang dipadukan dengan cardigan tipis bercorak bunga-bunga. Sesimpel itu Shera menyihir Genta. Membuat Genta lagi-lagi mengutuk dan menyesali keputusannya karena sudah menyerah pada pernikahan mereka secepat itu.
"Pak Genta."
"Pak Genta, maaf." Genta tersadar ketika Tomi-karyawan yang ia pilih untuk ikut dalam survey ini-memanggilnya. Ia baru menyadari semua tim itu menatapnya dengan pandangan tak terbaca-termasuk Shera. "Kenapa?" tanya Genta cukup gugup. Ia tidak tahu harus ditaruh di mana mukanya sekarang.
"Mari, Pak, ini sudah masuk jawal keberangkatan kita."
"Oh iya, mari." Genta mengangguk dan mempersilakan timnya berjalan terlebih dahulu. Ia sendiri mengikuti langkah Shera yang masih mengobrol dengan Lala. Genta hanya bisa memperhatikannya dari belakang.
***
"Iya, Sayang, ini Mama mau berangkat. Udah dulu, ya..." Sayup-sayup Genta mendengar percakapan mantan istrinya dengan anak mereka.
"Papa?" Genta sontak menoleh ketika Shera mengatakan itu. Ia melihat Shera yang menengok ke arahnya dan berjalan mendekatinya. "Avi. Dia mau ngomong sama kamu."
Genta hanya mengangguk dan mengikuti apa yang diminta Shera. Hanya sebentar ia berbicara dengan anaknya, dan ia kembalikan lagi ponsel milik Shera.
"Ayo, Ra." Genta tidak sengaja mengamit tangan Shera untuk mengikutinya. Sementara Shera hanya membeku. Tidak melepaskan tangannya, pun membalas genggaman itu.
***
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
L'amour L'emporte [Complete]
General Fiction"I don't see any reason why we have to be together, still." "But, i still want you. That's the only reason." *** Sheravina Anjani Sanjaya tidak percaya lagi pada suaminya--Gentahardja Revan Subroto setelah semua hal yang telah dilakukan oleh pria it...