{énteka}

56 16 19
                                    

Tidak main terkejutnya Eric mendengar pernyataan dari Zain. Bahkan Zain saja tahu walaupun ia tidak bersekongkol. Mendengar penuturan singkat dari Zain, Eric jadi ingin mendengar lebih banyak lagi.

Namun ketika ia ingin bertanya dengan segala macam pertanyaan yang sudah ia siapkan dalam sekejap, Eric mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Tentu saja akhirnya ia tidak jadi bertanya kepada Zain.

"Emmm, lo mau cemilan gak, Zain?" tanya Eric mengalihkan topik.

"Ya, boleh," jawab Zain sambil tersenyum.

Kemudian Zain bergegas ke dapur dan membuka kulkas. Ada sebungkus keripik kentang dan dua botol jus mangga. Ia pun mengambilnya dan segera menuju ruang keluarga.

"Ni," Eric menyodorkan jus mangga kepada Zain yang masih menonton televisi. Kemudian ia duduk di sebelah Zain lalu membuka bungkusan kripik kentang dan menaruhnya di antara mereka.

"Gue tau lo takut, Ric," Zain tiba-tiba berbisik. "Tapi yakin sama gue, Zein itu tipe orang yang mudah dihadapi."

Eric hanya membisu.

Mengapa persoalan ini kadang sulit dan kadang mudah?
































"Kata temen gue, wanita itu sering banget mantau rumah lo," kata suara di seberang telepon, Ryan.

"Seberapa sering?" tanya Eric.

"Setiap hari," jawab Ryan.

"Serius?" Eric tidak percaya.

"Iya, bahkan dia pagi dan sore, Ric."

"Lo tau dia ngapain aja di deket rumah gue?"

"Kata temen gue, sih, seringnya mondar-mandir aja, gak tau ngapain."

"Oke deh."

"Eh, btw lo nggak berusaha cari tau kenapa Zein ngelakuin itu semua ke lo?"

Yang ditanya pun menghela napas. "Tadi gue nanya ke Zain—"

"LO GILA YA?!" teriak Ryan di telepon.

"Ck, dengerin dulu," Eric mendengus sebal.

"Oh, iya iya."

"Gue nanya ke Zain apakah dia tau tentang rencana Zein, dan dia jawab dia tau."

Hening.

"Terus dia ngomong lagi—"

"Ngomong apa?" Ryan memotong kalimat Eric.

"Ish, bisa gak lo diem dengerin aja, jangan motong omongan orang."

"Iya, maaf."

"Dia bilang Zein juga berniat nyelakain ibu gue. Dan di saat itu gue berniat gimana pun caranya agar dia gagal ngelakuin semua itu."

"Bajingan gila!" umpat Ryan.

"Tapi jujur, Ry, gue gak berniat buat ngapa-ngapain dia sampe dibawa ke kasus hukum. Gue cuma mau dia sadar aja dan apa alesan dia ngelakuin itu semua ke gue. Itu aja cukup buat gue."

"Tapi, Ric, gue juga mau ngasih tau lo jangan terlalu baik bisa?"

"Zein dan Zain udah gue anggep saudara kandung sendiri, Ry. Susah buat nggak baik sama mereka."

"Ya udahlah kalo lo maunya begitu. Tapi gue ingetin, hati-hati."

"Oke lah, Ry, makasih banyak," tutup Eric.

"Yo."



Eric menghela napas setelah menutup telepon. Dia sungguh murung sekarang. Dia berpikir tindakannya belum tepat.

Sambil menyisir rambutnya dengan tangan, Eric memandang langit sore di depannya. Sungguh Indah dan membuat hati menjadi sejuk. Dulu saat masih kecil ia sering sekali memandang langit senja seperti ini bersama ayahnya.

Ah, Eric jadi kangen ayah.

Ia pun menelpon ayahnya. Ingin berbicara sebentar. Tidak ingin membahas masalahnya.


"Halo, Ayah!" sapa Eric memulai pembicaraan.

"Halo, Ric, kenapa?" tanya ayahnya di seberang telepon.

"Nggak apa-apa, Yah, cuma pengen ngobrol aja," jawab Eric sambil senyum-senyum.

"Ohh, hehehe. Kamu lagi apa, nak?" tanya ayah.

"Eric lagi menatap langit sore, Yah. Ayah lagi apa?"

"Jiaaaa memandang langit sore," goda ayahnya terkekeh. "Ayah lagi makan, nih."

"Wah, makanannya pasti enak ya, Yah?"

"Enak, dong, orang masakan hotel," pamer sang ayah.

"Ih pamer!" dengus Eric. "Oh iya, Yah, jangan lupa nanti bawa oleh-oleh yang banyak ya pas pulang."

"Oh, siaaapp. Kalau perlu, satu mobil bisa penuh tuh sama oleh-oleh," canda ayahnya.

Eric tertawa mendengar gurauan renyah ayahnya. "Jaga kesehatan ya, Yah."

"Oh, siap itu mah, kamu sama ibu juga, ya."

"Oke, Yah."

"Ngomong-ngomong, ayah mau lanjut makan dulu, nih, udah diliatin sama temen sekantor, malu."

"Hahaha, iya, Yah. Aku tutup dulu, ya."

"Oke, nak, nanti kita telepon lagi, ya?"

"Iya, Yah, selamat makan, hehehe."

Sambungan telepon pun ditutup. 

Eric benar-benar merindukan ayahnya sekarang. Tanpa kehadiran ayahnya, kesehariannya terasa hampa. Ayah yang biasanya melawak, menjernihkan suasana, dan suka menggoda Eric. Eric rindu.

Akhirnya Eric memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan tidur. Mungkin masih sore hari, namun sepertinya enak bagi orang yang sedang merindu —aw.

Namun saat ingin menutup pintu balkon, Eric menangkap siluet seseorang bergerak di samping rumahnya. Berada di dalam halaman rumah dan mengendap-endap seperti mencari sesuatu.

Wanita itu, batin Eric.

Buru-buru ia membuka kamera pada ponselnya dan memotret wajah wanita tersebut. Tidak terlalu jelas memang. Namun mengapa wajahnya familiar? Apakah ia pernah bertemu sebelumnya?












Ting!










Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Eric.







Room chat
Ryan

|ric
|gue dapet kabar baru dari temen gue
|wanita yang ngawasin rumah lo bukan cuma satu orang
|tapi dua











|Beside The House|

[✔️] ʙᴇsɪᴅᴇ ᴛʜᴇ ʜᴏᴜsᴇTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang