Aku terbangun ketika sudah sepenuhnya terlelap, mendengar suara air yang berasal dari dalam kamar mandi, yang terdengar mendominasi. Dan juga samar-samar suara tetesan air yang turun karena hujan yang masih menyisakan gerimis.
Mataku melirik kesisi ranjang yang kosong. Kemudian beralih kepada jam di dinding. Sekarang masih pukul sebelas malam dan ternyata Mas Raksa masih dikamar mandi.
Tanpa terasa sudah dua minggu pernikahanku dan Mas Raksa. Sedikit banyak aku sudah mengenal suamiku itu. Bahkan aku sudah hafal berapa lama Mas Raksa menghabiskan waktu di kamar mandi jika untuk sekedar buang air dan berwudu'.
Karena itu lah, aku sedikit cemas ketika Mas Raksa masih belum keluar juga setelah aku menunggu cukup lama.
"Mas," panggilku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
"Mas, ngapain? Kenapa dikamar mandinya lama?" tanyaku.Tak butuh waktu lama, Mas Raksa keluar kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Membuatku terkejut ketika melihatnya.
"Kok mandi tengah malam Mas?" tanyaku panik. Segera aku mengambilkan pakaian dalam dan baju tidur hangat untuk Mas Raksa kenakan. di
Mas Raksa tersenyum kikuk sambil berjalan melewatiku. Mas Raksa terlihat kedinginan. "Gerah sayang. Kamu kebangun ya?" ucapnya seperti aku akan percaya saja.
Gerah apanya padahal udara dingin begini?
"Cepat pakai pakaian Mas, dingin banget ini loh," ucapku sambil memberikan pakaiannya.
Setelah Mas Raksa mengambil pakaian itu dan mulai mengenakannya, aku masuk kedalam kamar mandi. Menuntaskan panggilan alam yang seketika juga datang.
Dingin-dingin begini memang membuat rasa ingin buang air kecil lebih cepat datang.
Lalu entah kenapa, ketika aku menatap pantulanku di cermin seketika aku tersentak kaget. Seperti kepalaku disiram air untuk menyadarkanku.
Meneliti pakaian tidurku yang semenjak menikah berganti. Dari piama tidur bermotif yang tebal dengan panjangnya menutupi tubuhku menjadi piama dengan panjangnya sampai setengah paha. Bagian atas yang terbuka dengan tali spagetinya, bahkan aku tidak mengenakan bra sama sekali didalamnya.
Hadiah yang aku terima dari keluargaku dan juga keluarga Mas Raksa kebanyakan baju tidur seperti ini. Bahkan ada yang lebih parah lagi, lingerie. Yang sampai sekarang tidak berani aku kenakan sama sekali.
Hampir setiap malam ketika aku setengah sadar, Mas Raksa memang berada dikamar mandi. Baik saat aku sedang halangan ataupun ketika masih tidur dirumah Bapak.
Namun karena begitu mengantuk, aku sama sekali tidak mengindahkan Mas Raksa yang belum juga kembali ketempat tidur. Aku pikir mungkin Mas Raksa sedang buang air besar.
Bodohnya aku karena berpikir setiap malam Mas Raksa akan buang air besar.
Mungkinkah karena aku Mas Raksa rela mengguyur badannya dengan air dingin ditengah malam? Bahkan disaat hujan deras seperti sekarang ini, Mas Raksa tetap mandi dan mengatakan padaku bahwa dia kegerahan.
Sejak malam pertama kami, Mas Raksa belum pernah bercinta denganku kembali. Bahkan setelah menggodanya saat itu pun, akhirnya aku mengeluhkan kedatangan tamu bulanan.
Lalu kami tinggal dirumah Bapak, dan Mas Raksa tentu harus menahan diri lebih lama. Kamar Revan berada tepat disebelah kamarku. Bahkan hanya berbicara saja, terkadang sampai terdengar kekamar sebelah.
Ketika kami hampir kelepasan dirumah ini pun, kami kembali harus terhenti karena sadar bahwa keadaannya yang tidak tepat untuk memadu kasih.
Bahkan tadi setelah sholat isya, aku langsung merebahkan badanku karena kelelahan setelah acara syukuran dan bersih-bersih rumah. Mengabaikan Mas Raksa yang menatapku intens dan mendamba ketika dia berbaring disebelahku.
Mas Raksa bahkan sempat melempar kode bahwa memadu kasih di dinginnya malam mungkin akan terasa menyenangkan. Apalagi Mas Raksa bisa dikatakan sudah berpuasa sekian lama. Aku hanya membalas ucapannya dengan pelukan erat.
Ya ampun, istri macam apa aku sampai tidak paham dengan kebutuhan suamiku?
Aku langsung berlari keluar kamar mandi. Menemukan Mas Raksa yang setengah menyandar di tempat tidur. Aku langsung merebahkan tubuhku keatas tubuh Mas Raksa dan memeluknya erat. Matanya yang semula terpejam itu, langsung terbuka cepat.
"Mas, maaf."
Aku dapat merasakan milik Mas Raksa yang mengeras karena posisi tubuhku yang menelungkup ditubuhnya. Benar bukan, hanya dengan satu pelukan, aku bisa tau Mas Raksa sedang bergairah.
Aku menenggelamkan wajahku dengan erat kelehernya. Tanpa sadar air mataku mengalir.
"Hei, sayang? Kenapa hmm?"
Mas Raksa memeluk tubuhku erat. Mengusap punggungku dengan kedua tangannya sebagai cara untuk menenangiku. Walaupun dia membiarkan aku menangis sampai berhenti sendiri hingga membasahi lehernya.
"Mas, jangan lakukan itu lagi. Jangan siksa tubuh Mas seperti tadi. Aku ngerasa gagal jadi seorang istri yang tidak bisa memenuhi kebutuhan suaminya. Jika Mas ingin katakan! Aku kadang jadi orang menyebalkan yang tidak peka Mas."
Aku menduduki perut Mas Raksa, tidak sepenuhnya melepaskan beban badanku. Mas Raksa tersenyum membersihkan jejak air mata yang masih ada diwajahku dengan tangannya.
"Mas tau kamu kelelahan, makanya Mas gak meminta sayang. Mas gak mau memaksakan diri terhadap kamu."
Aku mendekatkan wajahku kepada Mas Raksa. Menempelkan kening kami satu sama lain. Menatap matanya lekat-lekat.
"Berjanjilah Mas untuk tidak mencoba menahan diri lagi. Aku gak mau merasa gagal lagi. Selagi aku gak berhalangan, Mas bisa memintanya kapanpun Mas mau."
Setelah Mas Raksa mengangguk, dia menempelkan bibirnya tepat dibibirku. Mulai dari kecupan-kecupan kecil sampai dengan lumatan panjang dan panas. Aku terkesiap ketika Mas Raksa dengan sengaja menggigit bibir bawahku.
Mas Raksa memanfaatkan bibirku yang terbuka dengan memasukkan lidahnya. Mengapit lidahku, bermain-main dan mengabsen rongga mulutku.
Aku membalas dengan cara yang ku bisa. Dan aku yakin, Mas Raksa menyukainya karena terdengar erangan di mulutnya. Aku menikmatinya, bahkan sampai tak sadar bahwa aku sudah terbaring dengan Mas Raksa di atasku.
"Mas cinta kamu sayang," kata Mas Raksa sambil menatap mataku dalam. Senyum tulus juga terbit dibibirnya.
Aku tersenyum bahagia. "Aku juga cinta kamu, Mas."
Tak butuh lama, aku sudah mencintai suamiku. Dan aku makin mencintainya seutuhnya setelah aku mengingatnya.
Setelah aku tau bagaimana kerasnya usaha Mas Raksa untuk menjadi seperti sekarang hanya demi bisa memiliki dan membahagiakanku seperti impiannya. Terima kasih kepada Mama yang mau menceritakan bagaimana perjuangan Mas Raksa demi menagih janji Bang Kiki.
Aku membiarkan Mas Raksa mendapatkan haknya. Apapun untuk suamiku akan ku berikan. Menyenangkan suami bukankah memberikan pahala untuk sang istri?
***
Akhirnya kata cinta sudah terucap 😍
Makin semangat deh Mas Raksa untuk memadu kasih 🙊🙊🙊
Semoga Suka 🤗
Salam Sayang 😘
~fansdeviyy,
P.S you can call me Dev 😉

KAMU SEDANG MEMBACA
Taken by Him [Tamat]
RomansaTaken by Him merupakan cerita lengkap dari 'Taken by Him (Oneshoot)' Ketika sampai dirumah, Vivian dikejutkan dengan berita pernikahannya yang akan digelar seminggu dari kepulangannya itu. Jika bisa menunda, mungkin Vivian lebih memilih menundanya d...