Lebih kurang lima tahun yang lalu.
Kiki sedang duduk dikursi yang ada diteras rumah keluarga Aprianda. Rumah yang berada diseberang rumah Pamannya, Om Aryo. Lebih tepatnya rumah Lia, gadis yang kini sedang didekatinya.
Karena sering kali mendatangi rumah Pamannya membuat Kiki sering melihat Lia tanpa sengaja. Hingga muncul ketertarikannya kepada Lia.
Kiki dan Lia berkenalan hingga sering jalan berdua. Tapi Kiki masih belum menyatakan perasaannya, karena belum yakin sepenuhnya dengan perasaan Lia padanya.
Kiki dan Lia duduk sambil berbincang-bincang, sementara Raksa masih sibuk dengan laptop dipangkuannya. Sesekali kepala Raksa terangkat untuk melihat kearah rumah diseberang.
Awalnya Kiki begitu keberatan dengan kehadiran Raksa. Karena laki-laki itu, pendekatannya dengan Lia harus disertai dengan keberadaan orang ketiga.
Tapi mau bagaimana lagi?
Raksa mengikuti Kiki bukan tanpa alasan. Kiki tau bahwa Raksa hanya ingin melihat Vivian, adik sepupu Kiki yang sudah resmi naik ke kelas dua sekolah menengah atas setelah beberapa hari lalu mengambil buku rapor.
Sejak pertemuan Raksa dengan Vivian beberapa tahun lalu, ada ketertarikan yang dilihat Kiki dari Raksa untuk Vivian. Raksa sering menanyai tentang Vivian kepadanya.
Awalnya Kiki marah, dengan perasaan Raksa kepada Vivian. Adiknya itu masih kecil saat itu, belum genap empat belas tahun. Sementara umur Raksa sudah hampir dua puluh tahun.
Tapi Raksa sama sekali tidak berbuat yang aneh-aneh. Tidak pernah menemui Vivian secara langsung, selain sengaja melihat gadis itu dari jauh seperti sekarang. Walaupun sering mengirimi hadiah untuk gadis itu.
"Kalau lo sudah benar-benar mapan nantinya, gue dukung dan bantu lo untuk nikahin adik gue ketika dia sudah dewasa nanti. Tapi sekarang biarkan dia dengan kehidupan remajanya dulu."
Ucapan Kiki dulu ternyata membuat Raksa begitu semangat untuk menyiapkan masa depan yang baik untuk Vivian.
Saat masih kuliah pun Raksa sudah mulai menjalankan bisnis, kesana kemari mencari investor. Tidak mudah memang, karena hanya yang benar-benar berduit yang mau menginvestasikan uangnya untuk bisnis yang dijalankan oleh seorang laki-laki yang masih berstatus mahasiswa tahun akhir. Terkadang, Raksa juga mendapatkan bantuan dari Papanya.
Apalagi sekarang ini disaat mereka sudah selesai kuliah. Satu hotel Raksa sedang tahap pembangunan. Sepertinya Raksa benar-benar ingin menagih janji Kiki kepadanya.
Sayangnya, gadis yang belum genap tujuh belas tahun, yang ditunggu-tunggu Raksa belum menampakkan diri. Tadi Kiki sempat menghubungi Vivian, ternyata dihari sabtu seperti ini, gadis itu sedang berada disekolahnya. Persiapan untuk orientasi murid baru.
"Bang Kiki, sudah lihat Vivian sampai dirumah belum?"
Restu keluar dari rumah dengan tampilan acak-acak, seperti baru bangun tidur. Tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti bangun tidur.
"Belum, memangnya kenapa?" tanya Kiki penasaran.
Raksa yang mendengar nama Vivian disebut, langsung mengangkat kepala untuk melihat Restu.
"Tadi gue di hubungi teman, katanya nyuruh bujukin Vivian. Dia lagi ngambek sama panitia orientasi. Heran deh sama adek lo itu Bang, ngambek kenapa lagi sih dia?" ucap Restu sambil mengacak rambutnya. "Padahal gue lagi asyik main game nih."
Keempat pasang mata itu tertuju kepada seorang gadis yang turun dari sebuah motor, setelah bunyi motor mengalihkan perhatian mereka. Vivian terlihat membayar ongkos ojek yang dia naiki.

KAMU SEDANG MEMBACA
Taken by Him [Tamat]
RomanceTaken by Him merupakan cerita lengkap dari 'Taken by Him (Oneshoot)' Ketika sampai dirumah, Vivian dikejutkan dengan berita pernikahannya yang akan digelar seminggu dari kepulangannya itu. Jika bisa menunda, mungkin Vivian lebih memilih menundanya d...