Haii haiii guysss...
Yang nunggu cerita ini absen dulu yukkkk.....
Wkek.. Part terakhir ya ini..
Hepi reading all😍😍😍"Titip Dinda ya Gas."
Bagas mengangguk, "siap mas, dari dulu juga Bhira aman kalau sama aku."
"Mbak nggak pernah meragukan kamu Gas." Timbrung Secha sambil mengelus perut buncitnya.
Ya, hari ini Bagas dan Dinda akan berangkat ke Yogya untuk mengisi waktu liburan Dinda dirumah orangtua Seto.
"Bhira udah siap Om! Berangkat yuk!"
Bagas tersenyum menatap Dinda yang nampak begitu cantik dalam balutan kemeja oversize berwarna biru yang menutupi setengah pahanya.
"Duuhh duhh.. Anak Bunda cantik bangett sih." Puji Secha pada putri sulungnya.
Dinda tersenyum jahil "Dinda mah emang cantik dari bayi mah."
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Bagas memastikan dan langsung diangguki Dinda.
***
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Dinda menyunggingkan senyum di bibir tipis menggoda miliknya.
Tak jauh berbeda dengan Dinda, lelaki tampan yang duduk di bangku kemudi itu juga tersenyum cerah sama halnya yang dilakukan Dinda.
"Mas kangen banget sama kamu." Ujar Bagas sambil mencium punggung tangan Dinda, ya.. Tangan mungil dengan jemari lentik itu tak lepas dari genggamannya sejak tadi.
"I miss you too sayang."balas Dinda menyandarkan kepalanya di lengan Bagas, lelaki yang telah menjalin hubungan dengannya lebih dari dua tahun itu.
Bagas menoleh pada Dinda, gadis cantik dan baik hati yang telah mencuri separuh hatinya sejak lama.
Sebuah kecupan kecil mendarat tepat di pipi kemerah-merahan milik Dinda, Bagas memang tak pernah sekalipun mencium bibir mungil nan menggoda milik Dinda selama mereka menjalin hubungan.
Hal itu akan Bagas jaga sampai tiba saatnya nanti Dinda akan menjadi miliknya seutuhnya.
"Pulang dari liburan, mas lamar kamu ya?"
Wajah Dinda yang semula bahagia kini terganti dengan rauf wajah tak terbaca.
"Bhira nggak pengen buru-buru nikah mas.. Bhira belum siap."
Bagas mengangguk, ini bukan pertama kali Dinda menolaknya dengan alasan yang selalu sama.
"Cuma lamar sayang.. Seenggaknya ayah sama bunda kamu tau dan mau merestui hubungan kita. Mas nggak bisa terlalu lama lagi menyembunyikan ini." Jelas Bagas sesekali melirik Dinda sambil fokus menyetir.
Dinda menghembuskan nafas kasar, dan entah kenapa hal itu menggelitik ego Bagas. Mungkin ia yang terlalu sensitif.
"Terserah." Balas Dinda singkat.
Bagas menghela nafas, stok sabarnya masih terlampau banyak untuk kekasih kecilnya itu.
"Kalau kamu belum siap, mas masih sanggup nunggu kok.. Jangan cemberut gitu dong, kita liburan kan mau have fun." Bujuk Bagas.
"Aku cinta sama mas.." Lirih Dinda yang merasa bersalah.
Bagas tersenyum "Mas tau, dan mas lebih cinta sama kamu."
Beberapa bulan berikutnya
Dinda memegang sebuah benda pipih ditangannya denga perasaan takut, sedih,marah dan kecewa bercampur menjadi satu.
Raut wajah kecewa dari ayah, ibu, kakek, nenek dan..... Bagas terbanyang nyata di otaknya.
Kini ia tak lebih dari seorang gadis murahan yang suka rela menyerahkan harta berharga miliknya kepada lelaki asing yang baru dikenalnya kurang dari dua jam di club malam beberapa bulan lalu.
Hancur sudah.. Semuanya luluh lantah tak tersisa.
"Dinda! Om Bagas udah dateng nih.. Keluar yuk.. Kita makan siang bareng."
Dinda segera menghapus air matanya dan mencuci muka, memoles bedak dan lipstik untuk menutupi kekacauan yang tergambar di wajahnya.
Ia tak bisa diam saja, ia harus melakukan sesuatu! anak di dalam kandungannya harus memiliki ayah.
Dinda keluar dari kamarnya dengan wajah sesantai mungkin, gadis itu mengambil tempat disamping Bagas yang sejak tadi memandangnya dengan senyuman.
Makan siang mereka berjalan normal, semuanya tampak bahagia, belum lagi dengan kehadiran Kean dan Khiell, bayi kembar yang dilahirkan secha sebulan lalu.
Berbeda halnya dengan pikiran Dinda yang sedang carut marut menyusun langkah, ia tak mungkin meminta pertanggungjawaban lelaki bermata hijau yang merupakan ayah biologis anak yanh berada dikandungannya, karena ia sendiri pun tak tau, dimana lelaki itu.
"Om Bagas.. Bhira mau ngomong sebentar boleh?" Bagas menoleh kepada Dinda dan mengamati wajah kekasih nya itu sekejap dan mengangguk.
"Tentu."
"Kita bicara di taman belakang ya om." Lagi-lagi Bagas mengangguk.
"Ayah, Bunda. Dinda permisi dulu ya."
Seto dan Secha kompak mengangguk, keduanya saling melirik, mencium sesuatu yang tak beres dengan putri sulung mereka.
Disisi lain...
"Kamu mau ngomong apa sayang?" Tanya Bagas.
Dinda memilin ujung kaosnya, tiba-tiba saja ia ragu.
Namun logikanya seolah menyerukan idenya.
"Bhira mau mas ngomong ke ayah sama bunda tentang hubungan kita.. Biar sudah siap menikah."
Bagas terkejut bukan main, lelaki itu begitu bahagia saat ini.
Meski mendadak, namum Bagas tak sedikitpun ragu. Lelaki itu sontak memeluk Dinda dengan erat, meluapkan kebahagiaan yang melingkupi hatinya.
"Ya sayang.. Mas bilang ke ayah dan bunda kamu sekaran juga." Ujar Bagas diiringi keharuan.
Dinda menangis dalam diam dipelukan Bagas, ia tau apa yang ia lakukan ini salah. Sangat salah.
Namun Bagas adalah satu-satunya orang yang ia percaya, ia cintai dan yang jelas mencintainya.
End ya...
Abissss...
Seriuss.. Udah abis ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
(un)Loved Wife [END/COMPLETE]
Chick-Lit#1 on WEDDING {25.02.20} #5 on TEARS {25.02.20} #2 kn TEARS {28.07.20} "Aku akui dan sadar betul betapa sombong dan angkuhnya aku dulu, tapi bisakah kau melupakan semuanya? Bisakah kita menjalani rumah tangga kita dengan normal? Karena aku.. Mulai m...