Bagian 14

50.1K 3.5K 133
                                    

Setelah selesai mengumpulkan data untuk tugas akhir ku disalah satu perusahaan pembuatan ban untuk yang kedua kali setelah selasa lalu juga melakukan hal yang sama, aku dan Nela kini bersantai dikamar Nela.

Mas Raksa pagi tadi pergi keluar kota. Setelah mencari informasi di hotel dengan bertanya-tanya kepada Mbak Resepsionis setelah melepas kepergian Mas Raksa, aku mendapatkan informasi penting. Mas Raksa bisa dikatakan sebagai pemilik hotel yang kami tempati.

Walaupun jumlah Investor yang menerima keuntungan karena telah menginvestasikan uangnya untuk hotel itu tidak sedikit, tetap saja aku tidak menyangka tentang kebenaran pekerjaan Mas Raksa.

Lebih mengejutkannya lagi, hotel yang dijadikan tempat resepsi dulu merupakan cabang pertamanya. Bodohnya aku tidak pernah heran ataupun menduga-duga kesamaan nama antara kedua hotel itu.

Dan kepergian Mas Raksa ke luar kota adalah dalam rangka peninjauan pembersihan lahan untuk cabang hotelnya yang baru. Aku hanya mengelus dada setelah mendengarnya.

"Lo keseringan ya diajak Mas Raksa begadang untuk buat calon anak kalian sampai mata lo sebelas dua belas kayak mata panda begini?"

Aku melempar satu potongan mentimun yang siap untuk dikenakan di mata. "Omongannya dijaga, Nel. Gue kebanyakan begadang untuk ngerjain tugas akhir," sekaligus juga tidak bisa tidur karena mencoba-coba mengingat kapan pertemuanku dengan Mas Raksa dulu.

Akhir-akhir ini semenjak sudah resmi menikah, omongan sekaligus candaan orang-orang terdekatku selalu yang menjurus kepada hal yang sangat sensitif untuk didengar anak-anak. Bang Kiki, Restu dan sekarang Nela.

Mengingat ketiga nama itu, tiba-tiba menimbulkan sebuah rencana. Nela kayaknya bisa deh aku jodohkan dengan salah satunya. Tapi kayaknya lebih baik Bang Kiki karena Om dan Tante sudah sering mendesaknya untuk menikah.

"Nel, kalo gue jodohin lo sama Abang gue, mau gak? Kayaknya lo serasi deh sama Abang gue."

Aku sama sekali tidak melihat bagaimana raut wajah Nela sebab kedua mataku sudah terpejam dengan mentimun yang menutupi keduanya. Sambil berbaring ditempat tidur, aku tau Nela masih memasang masker wajahnya.

"Lo tau gue sukanya berondong, Vi. Kalau lo jodohin gue sama Revan, ayo gue mau-mau aja."

"Dasar lo, Nel. Revan masih kecil, masih kekanak-kanakan. Bagusnya sama Bang Kiki biar bisa bimbing lo ke jalan yang benar."

Walaupun kadang-kadang omongan Bang Kiki ceplas ceplos, tapi perilakunya baik. Gak pernah mainin perempuan. Sekali cinta, susah banget move on nya.

Dulu Bang Kiki belum mau berkomitmen untuk berumah tangga, yang menjadi salah satu penyebab putusnya Bang Kiki dengan Kak Lia. Tapi sekarang, sejak sering bicara bersama Bapak dan Mas Raksa, Bang Kiki mulai memikirkan hal itu. Sayangnya belum ada perempuan yang sesuai menurutnya.

"Gak mau ah! Kalau udah bosan suka berondong, baru gue cari yang lebih dewasa."

Aku merasakan kasur sebelahku bergoyang, mungkin Nela ikut berbaring disebelahku.

"Lo yakin gak mau maskeran? Lumayan biar makin kinclong tu wajah."

"Mentimun aja cukup. Gue harus hilangin mata panda ini."

Beberapa menit dilanda keheningan, aku segera berdiri. Melepaskan kedua potongan mentimun dari mataku agar memudahkan untuk mengambil ponselku yang berbunyi. Ternyata panggilan dari Mas Raksa.

"Assalamualaikum, Mas?"

"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu kenapa belum balik ke hotel?"

Taken by Him [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang