Jangan lupa vote dan komen ya..
Bacanya pelan-pelan
~•~
Dengan mata memerah Angel langsung naik ke meja dan meraih pistol yang terpajang di dinding ruang tamunya. Melihat itu Rani dan Adel melotot.
Rani menahan tangan Angel. "Jel, lo mau ngapain Jel!" tanyanya panik.
Adel ikut menahan tangan Angel. "Jangan Jel!"
Mira dan Seli langsung berhenti di tempat, mereka berdua ketakutan ketika melihat Angel yang sudah memegang pistol dengan wajah menyeramkan.
"Diam!" pekik Angel, lalu mendorong Adel dan Rani dengan keras.
Keduanya terkejut, saat tahu ternyata Angel semengerikan ini jika murka.
Angel turun dari meja lalu membuka lemari pajangan peluru yang berjejer rapi di sana. Meraihnya dengan sembarangan lalu memasukan peluru itu ke dalam pistol seperti seorang ahli. Dia sering melihat ayahnya melakukan itu, sehingga tak asing lagi bagi Angel tahu cara menggunakannya.
Rani dan Adel berlari lalu menahan Angel yang tengah memasukan besi itu ke dalam pistol.
"Eh!! Bapanya mana sih itu?!!" Mira panik, bertanya-tanya pada orang-orang yang malah diam saja.
"Satpam Mir, panggil satpam!" bisik Seli ikutan panik.
Namun sayang, Angel selesai melakukannya kemudian tanpa ragu gadis itu menodong Rani dan Adel, termasuk orang-orang yang ada di sana.
Kedua sahabatnya membeku. "Jel, jangan," lirih Rani menggeleng mohon.
"Jangan ada yang halangin gue!! Kalo gak kalian gue tembak!" murkanya dengan mata memerah dan rambut acak-acakan.
Tidak ada yang menjawab, seolah semuanya sudah menjadi patung. Angel perlahan berjalan ke arah luar pintu sambil menodong semuanya.
"Jel--" Adel menangis.
"Diam!" sela Angel membuat semuanya kaget.
Mendengar ribut-ribut, beberapa satpam pun buru-buru masuk ke ruang tamu untuk mengecek dan melindungi Angel kalau ada apa-apa karena kini dia hanya sendiri di rumah.
Tetapi saat melihat apa yang terjadi satpam-satpam itu hanya terdiam. Angel menatap merela layaknya hewan buas sambil menodong mereka juga.
"Kalian juga! Jangan ganggu apa yang gue lakuin!" ancamnya.
Para satpam mengangguk gagu. "I-iya non," balas salah satunya.
Sedetik kemudian, dengan gontai penuh amarah Angel berlari keluar rumah sambil membawa pistol yang entah berapa isi pelurunya.
~•~
Angga terus menarik tangan Putri menuju parkiran. Halaman rumah Angel yang luas membuat Putri kelelahan sampai napasnya tidak kuat lagi.
Mereka akhirnya berhenti. "Hah hah, gue capek!" keluh gadis itu sambil menumpu badannya ke lutut. "terus sekarang kita mau ngapain?" lanjutnya.
Angga terkekeh. "Pulang yuk, gue anterin," ajaknya sambil tersenyum.
"Ayo, tapi jangan lari lagi, gue capek," ungkap gadis itu apa adanya.
"Iya."
Mereka berjalan berdua dengan santai menuju parkiran yang masih cukup jauh. Angin malam mengelus wajah mereka dengan lembut, membuat Angga perlahan menoleh pada gadis di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum.

KAMU SEDANG MEMBACA
MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶
Teen FictionHanya cerita si cewek yang mati rasa bernama Putri. Sudah berkali-kali dikecewakan oleh cowok-cowok yang selalu mempermainkan dirinya, membuat Putri menutup diri dan tidak peduli lagi dengan apapun yang berhubungan dengan laki-laki, apalagi ternyata...