Aku bagaikan memori yang isinya
Tersimpan rapi tanpa terformat
Setiap hal yang telah kita lewati
Dan kamu bagaikan pilihan format
Yang memaksaku untuk menghapus
Semua kenangan yang telah ada
Berbagai kisah telah kita ukir
Bagiku kisah itu adalah hal terindah
Yang selalu akan aku rindukan
Namun, bagimu kisah kita hanyalah
Sebuah kisah tanpa arti yang berarti
Tanpa merasa bahwa engkau salah
Kau terus tertawa, diatas hati yang patah
Hati ini akan lelah jika terus terabaikan
Menyakitiku adalah kesenanganmu, bukan?
Aku telah mencapai titik jenuh
Teruslah tertawa, semoga apa yang aku rasa
Tidak engkau rasa.
Terimakasih atas rasa sakit ini, dan
Jangan berjumpa kembali, sampai hati tak
Menginginkan untuk menyapa kembali.
YOU ARE READING
KATAM
NonfiksiAda rasa yang tak mampu menyuara, bibir menahan segala kata hingga memilih bungkam. Kebungkaman menjadi siksa maka jari-jemari yang menentukan pilihan, ia berteriak lantang melalui kalimat dengan penuh makna~~
