Chapter 52

475 25 4
                                    

Jangan lupa vote dan komen ya

Bacanya pelan-pelan..

~•~

Samar-samar terdengar seseorang yang memanggilnya. Suara itu menerobos masuk ke dalam mimpi sehingga mimpi-mimpi itu mulai kabur. Matanya perlahan terbuka, suara panggilannya pun semakin jelas.

"Bangun nak, ayo bangun dulu, udah pagi," suaranya terdengar lembut.

Tampak Ibu-ibu seumuran Evelyn sambil menenteng tas kulit hitam menggoncangkan bahu gadis itu, dan juga seorang lelaki di sampingnya.

Mata gadis itu menyipit menyesuaikan cahaya. Badannya terasa pegal karena terus bersender di lekukan kursi besi.

Dia tidak mengenal siapa wanita berambut pendek ini, sehingga akhirnya gadis itu menegakan badannya. "Tante siapa?" tanyanya.

"Saya mamanya Angga, ini papanya Angga." sambil menunjuk Wendi di sampingnya.

Badan Putri makin menegak, wajahnya merengut merasa bersalah. "Ah, maaf tante gara-gara aku--"

"Enggak, saya udah tau cerita semuanya dari Fion," sela Wendi dari belakang Vivin sambil tersenyum meyakinkan gadis baik ini.

Vivin mengangguk lalu mengelus kepala gadis itu. "Makasih ya, kamu dari semalam nungguin Angga operasi sampe ketiduran," tutur wanita itu.

Putri menoleh cepat ke arah pintu putih ruang UGD yang kini terbuka sedikit. "Terus Angga gimana tante?" tanyanya khawatir.

Vivin tersenyum sendu. "Operasinya berhasil, tapi belum sadar, dia di pindahin ke ruang rawat inap," jawabnya perlahan.

"Ya udah yuk, kita ke sana," ajak Wendi.

Putri mendongak lalu bangkit, makin menunjukan noda darah yang sudah mengering cukup banyak di sana. Melihat itu, Vivin dan Wendi agak terkejut. Vivin mendekati gadis itu dan memegang hoodienya.

Putri sedikit terkejut. "Aku gak pa-pa tante--"

"Nanti kamu ganti baju pake baju Angga ya, kebetulan tante bawa buat salinan Angga. Gak pa-pa kan kalo kegedean?" tutur Vivin dengan mata berbinar.

Hal itu membuat Putri agak terkejut akan sikap mereka yang begitu baik, padahal Angga seperti ini karena ingin melindungi dirinya.

Mereka gak marah sama gue? - benak Putri dalam hati.

"Ya udah ayo," kata Wendi sambil merangkul Vivin yang ada di sampingnya.

Putri mengangguk kikuk, lalu kemudian mengikuti langkah mereka berdua dari belakang.

~•~

Vivin dan Wendi masuk duluan ketika mereka sampai di ruangan VIP rawat inap, tempat Angga sekarang. Mata Putri mencari cowok itu, lalu menangkap malaikatnya itu sedang terbaring tak sadarkan diri dengan selang infus dan oksigen yang terpasang di badannya.

Putri menutup mulutnya menahan tangis namun air matanya tidak mampu bertahan di dalam. Vivin dan Wendi tersenyum sendu ke arah anaknya.

"Anak kita kuat banget ya pa," tutur Vivin sambil mengelus kepala Angga.

Wendi mengangguk. "Iya dong, laki-laki sejati," balasnya dengan mata berlinang.

Hati mereka berdua tidak bisa bohong dengan perasaan khawatir yang sebenarnya menjalar dari tadi.

Putri tersenyum ke arah Angga dengan air mata yang menetes sekali. Tangannya perlahan memegang ujung kaki Angga, meminta agar cowok itu cepat sadar dalam hati.

MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang