Chapter 54

488 29 8
                                    

Jangan lupa vote dan komen ya, biar gue semangaatt

Bacanya pelan-pelan

~•~

Matahari sudah setengah tenggelam. Cahaya jingganya menerangi gedung-gedung tinggi yang terlihat dari balik jendela rumah sakit. Mira, Seli, dan Fion pun bangkit dari sofa.

"Kita pulang dulu ya tante," tutur Mira sopan, sementara lainnya menyahut dengan anggukan.

Putri dan Vivin ikut bangkit, lalu Vivin tersenyum. "Iya, makasih ya udah nengokin."

Mira mengangguk lalu beralih pada Putri. "Put lo gak balik?" tanyanya.

Putri terdiam lalu kemudian tersenyum kikuk. "Gue gak enak ninggalin Angga, kan karena gue--"

"Ah iya iya iya, gue paham. Ya udah kita pulang dulu ya tante?" izinya lalu menyalami wanita itu, disusul Seli dan Fion.

"Iya, hati-hati ya. Oh iya Fion pulangnya sama siapa? Kan Reza tadi pulang duluan?" wanita itu menatap Fion bingung.

Sejak tadi, Fion baru terpikirkan hal itu sekarang. Cowok itu menggaruk tengkuknya, sambil mengutuk Reza dalam hati karena sahabatnya itu selalu menolak jika diajak dengan mobilnya. Fion mendongak sambil cengar-cengir ke arah Mira.

"Ra, nebeng ya hehe," pintanya cengengesan.

Mira melempar kunci mobilnya pada Fion. "Tuh, lu yang nyetir," singkatnya.

Fion sontak gelagapan, mencoba mengambil kunci mobil dengan gantungan foto oppa-oppa korea itu.

"Duluan ya tante," tutur Seli sambil melambai.

Vivin tersenyum sambil membalas lambaian gadis itu, sebelum akhirnya mereka bertiga keluar dari kamar rawat Angga.

Kini hanya ada Putri dan Vivin. Mereka kompak duduk, saling sunyi. Vivin bersender di sofa, sementara Putri duduk di kursi kecil di samping ranjang. Putri menoleh ke arah Angga yang masih menutup matanya rapat-rapat, kemudian menatap Vivin dengan mata sedih.

"Tante," panggilnya.

"Iya? Kenapa Put?" balas Vivin sambil mengangkat alisnya.

Putri menatap Angga kembali. "Angga kok belum bangun sih tante, emang dia gak laper seharian gak makan?" tanya gadis itu polos.

Pertanyaan logis itu membuat Vivin merengut, baru menyadari. "Iya ya, emang dia gak laper?" tanya Vivin balik sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

"Angga gak pa-pa kan tante?" keluh gadis itu, dirinya khawatir plus merasa takut bila terjadi apa-apa pada Angga sebab salahnya.

Vivin menghela napas. "Sebenernya tante khawatir, kok nih anak belom bangun. Padahal kata dokter, seharusnya dia udah bisa bangun dari siang. Tapi kondisi orang kan beda-beda, Put," ujar wanita itu seraya memandang putera satu-satunya itu.

"Hmm," Putri juga menghela napas, lalu kepalanya bersender di pinggir kasur.

~•~

Jam sudah menunjukan jam 08.00 malam. Vivin kini sudah tertidur di sofa, mungkin wanita itu kelelahan. Sementara sejak tadi Putri terus memandangi Angga yang masih juga belum bangun. Perlahan tangannya meraih tangan cowok itu, lalu kemudian menggenggamnya erat-erat.

Keadaan yang sunyi ini mengingatkannya kembali bagaimana Angga mulai masuk ke kehidupannya yang monoton. Perasaan takut dan kecewa membuatnya seolah tidak ingin menikah di masa depan. Tetapi ketika Angga memaksa masuk ke kehidupannya, perlahan rasa-rasa pahit itu mulai hilang. Perasaan mati rasa itu mulai terasa lagi.

Awalnya mengganggu, sangat menganggu. Perlakuan Angga yang selalu melindungi dirinya pun terkadang membuat dirinya terlihat lemah, dan dia tidak mau itu. Namun ternyata mempunyai seseorang untuk pulang itu rasanya lebih dari cukup membuatnya berpikir dua kali untuk mengunci hati.

Putri mengelus tangan dingin itu, kemudian mulai bersender di tepi kasur. Meletakan tangan Angga di pipinya, berharap tangan kuat itu bergerak lagi dan kembali memeluknya. Air matanya menggenang di sudut mata, kemudian dengan pelan menetes menghalangi pandangan.

Hati ini rasanya berdenyut ketika setiap kali melihat Angga yang selalu memandang dirinya dalam-dalam. Dia bingung, apa ini yang disebut-sebut cinta oleh orang-orang?

Matanya perlahan tertutup, mulai tenggelam di pikirannya yang perlahan semakin tertata, bukan bagai benang kusut lagi.

.
.
.


Suara sunyi tiba-tiba menusuk telinganya. Hanya ada suara detikan jarum jam yang menunjukan pukul 10.46 malam dan bisingnya mesin AC yang terdengar. Aroma obat-obatan menyeruak di penciumannya.

Matanya perlahan terbuka, langsung menyipit ketika pupil matanya menghadapi cahaya terang dari lampu yang kontras saat dia menutup mata. Hal pertama yang ia lihat adalah Vivin yang terlihat lelah, tertidur di sofa sambil memeluk bantal hijau yang serasi.

Rasa sakit dari punggung menuju perut membuat cowok itu meringis perih, membuat refleks tangannya ingin tergerak, tetapi terasa tertahan.

Angga merengut dan menoleh ke arah tangannya yang terasa berat. Saat melihat apa yang terjadi, sudut bibirnya terangkat. Terlihat Putri yang tengah tertidur pulas sambil menggenggam tangannya erat-erat.

Hangat rasanya.

Dengan sedikit kekuatan yang ada, cowok itu mencoba mengelus kepala Putri dengan penuh perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Gadis ini selalu membuatnya berkali-kali jatuh cinta setiap kali melihatnya. Dia tahu kalau Putri takut akan keseriusannya, dan dia juga tahu bahwa gadis di depannya ini tidak suka kebohongan dan buang-buang waktu.

Gue pastiin, perasaan gue ke lo bukan omong kosong.















To be continue

MATSA

Ramein komentar yuukk, seneng banget tau gue kalo kalian rame di kolom komentar :(

MATSA [ Tamat ] 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang