Genta melihat Shera dan temannya, Lala memasuki restoran tempat mereka makan siang. Restorannya cukup ramai, untungnya tim mereka sudah reservasi sehingga tidak takut kehabisan meja. "Pak, mari." Salah satu karyawannya mendahului Genta untuk masuk ke restoran itu. Genta mengangguk, ia berjalan namun matanya tidak lepas dari Shera. Wanita itu kini mengambil makanannya dan duduk di depan meja mereka.
Shera cantik. Sangat cantik, menurutnya. Tidak ada perbedaan antara Shera delapan tahun yang lalu ketika ia ajak untuk nikah muda, dengan Shera yang sudah menjadi ibu untuk anaknya. Shera terlihat semakin cantik di matanya. Sayang, wanita cantik yang selalu ia puja-puja kini bukan lagi miliknya. Ketololan dan kebrengsekannya memang patut menjadi alasan mengapa Shera meninggalkannya.
Genta sudah mengambil makannya, ia memilih duduk di samping Shera. "Hai, Ra," sapanya. Shera yang awalnya mengobrol dengan Lala, berbalik dan menatap Genta. Tidak ingin ada kecanggungan di antara mereka, Shera mengangguk. "Pak Genta," sapanya balik.
"Pak, sepertinya warga di sana juga sudah tidak ada masalah dengan proyek kita. Secara, ini juga program pemerintah untuk mengembangkan daerah mereka." Mereka mulai membahas proyek yang akan mereka jalani.
Genta mengangguk. "Dari pihak investor, gimana? Ada yang tidak setuju?"
Irvan, salah satu tim Genta menimpali. "Mereka akan kemari besok, Pak Genta. Kita bakalan tau apa kata mereka nanti." Genta mengangguk. Proyek ini terbilang cukup besar, banyak investor yang ikut andil di dalamnya. Keinginan dan saran mereka pun tidak bisa dianggap angin lalu.
"Kalau dari pihak Pak Ravael, gimana?" Pertanyaan itu tidak langsung merujuk pada shera. Wanita itu langsung mengangguk.
"Kita nggak ada hambatan dengan lokasinya. Pak Ravael juga akan kemari besok." Tim mereka mengangguk. Sepertinya akan ada rapat besar besok.
Ketika semua orang kembali.membicarakan topik yang agak santai, Shera merasakan ponselnya bergetar. Ia mengambil benda itu dan melihat Mamanya yang menelepon. Shera bangkit dari duduknya dan pamit sebentar dari sana. Melihat itu, Genta menuruti impulsnya untuk mengikuti Shera.
"Tuh liat, La. Keliatan banget nggak sih sama kamu? Pak Genta masih stuck sama Mbak Shera, ya?" ucap Tandra memulai gosip dengan Lala. Dari luarnya saja pria itu terlihat macho dan keren, sebenarnya mulut Tandra lemes juga.
Lala di sampingnya hanya terkekeh geli. "Sayang ya, mereka malah cerai." Tandra mengangguk setuju. Jika ada nominasi pasangan ter-couple goals sepanjang masa, maka Tandra yakin itu adalah Gentahardja dan Sheravina. Semua orang tau seberapa cintanya Genta pada Shera, hanya dengan menatapnya saja, pancaran memuja Genta sudah terlihat.
"Iya, Vi. Jangan nakal, ya? Avi udah makan belum?" Sayup-sayup Genta mendengar pembicaraan Shera dengan anak mereka. Genta tersenyum simpul mendengarnya.
"Makan dong, kan Mama udah bilang--" Ucapan Shera terhenti ketika Genta menoel bahunya.
"Avi?" tanyanya tanpa suara. Shera mengangguk. "Vi, Papa mau ngomong." Shera memberikan ponselnya pada mantan suaminya.
"Halo princess," sapa Genta yang dibalas ceria oleh anaknya di seberang sana. Shera membiarkan ayah dan ank itu saling berbicara di telepon. Ia tidak terlalu menyimak pembicaraan mereka.
"Ini, Ra." Genta mengembalikan ponsel milik mantan istrinya. Shera mengangguk. "Avi pengen tas kecil manik-manik oleh-oleh dari sini katanya."
Shera mengerutkan dahinya.Kenapa anaknya itu tiba-tibs meminta oleh-oleh? Lagipula, tau darimana anak itu tas kecil dengan manik-manik? "Kamu yang nawarin dia?" Genta mengangguk.
Shera berdecak. "Jangan ditawarin lagi, Ta. Nanti kebiasaan, aku nggak mau anak saya manja." Jika Genta selalu memperlakukan anaknya bak putri, Shera sebaliknya. Ia bersikap tegas pada Avi, bukan dalam artian ia memiliki perilaku ibu tiri, ia hanya tidak ingin memanjakan anaknya saja.
"Kali-kali, Ra. Udah jarang banget saya ngasih dia barang yang dia pengen." Genta memulai perang dengan Shera. Oke, Shera tidak akan kalah.
Shera mendengus. "Aku nggak mau ya kalau kamu kayak gitu lagi ke Avi tanpa pemberitahuan ke saya dulu." Shera mengancam. Genta terkekeh kecil. "Iya, maaf, Ra."
***
Mereka sampai di hotel sore hari menjelang malam. Karena tidak terlalu lelah, Genta mengajak Shera untuk berdiskusi tentang proyek mereka. Bukan bermaksud modus, hanya saja, posisi Genta dan Shera sama, ketua dari tim dan proyek ini. Alangkah baiknya jika mereka membicarakannya lebih dulu berdua, sebelum membicarakannya di rapat besok. Sementara Shera, ia tidak mungkin menolak ajakan Genta sekarang. Bagaimanapun, ia menjunjung tinggi profesionalitasnya dan loyalitas pada perusahaannya. Tidak peduli sekalipun ia akan meeting berdua dengan Genta, ia harus melakukannya untuk kelangsungan pekerjaannya.
"Menurut kamu gimana, Ra? Lebih baik menghadap ke lautnya, atau tempat wisatanya?" Sama seperti dalam hubungan pernikahan mereka dulu, Genta selalu mendengarkan sarannya terlebih dahulu sebelum mengambil langkah selanjutnya. Oke, kenapa Shera jadi membahas hal itu?
"Menurut saya, laut di sini kan jadi objek utamanya, Pak. Jadi, lebih baik menghadap ke sana. Maksud saya, pemandangan yang akan diliat pengunjung adalah itu. Tapi, nggak ada salahnya juga kalau sisi lain bangunannya menghadap tempat wisata itu." Genta mangut-mangut mendengarnya. Mereka mengetik poin-poin yang sudah mereka diskusikan di laptop masing-masing.
"Untuk desain bangunannya, kamu udah memutuskan?" Genta menyeruput kopi hangatnya. Ia melihat Shera memeriksa ponsrlnya terlebih dahulu. Wanita itu mengggeleng. "Pak Ravael belum diskusi sama saya. Saya takut dianggap gegabah kalau ambil keputusan desain lebih dulu."
Genta menyatukan alisnya heran. "Tapi setahu saya, Ravael tetap setuju sama apapun keputusan kamu, kan? Dia nggak akan protes."
Shera menggeleng. "Saya tetap akan diskusi dengan beliau dulu, Pak." Shera membiarkan Genta mengerjakan pekerjaannya lagi sebelum kembali mendiskusikan hal lain dengannya. Shera hanya tidak tahu sebenarnya Genta memperhatikannya menggosok kedua tangannya dan merapatkan kembali sweater merah maroonnya.
"Kamu mau pesen teh anget?" Shera mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Kamu kedinginan. Saya pesenin teh anget dulu, ya." Tanpa menunggu persetujuan Shera lagi, Genta melangkah untuk mengambil apa yang ia mau. Aduh, Shera tidak ingin Genta besar kepala dan menganggap Shera sudah terbiasa melihat keberadaan pria itu di sini. Tidak, Shera sangat dongkol pada pria itu. Ia masih takut, sakit, dan cemas setiap berada di sampingnya. Ia tidak mau Gentahardja beranggapan Shera menerima kembali kedekatan mereka. Tentu tidak sama sekali.
"Nih. Langsung diminum." Genta memberikan secangkir teh hangat.
"Nggak usah, Pak. Makasih. Habis ini juga saya mau langsung ke kamar--"
"Minum dulu, Ra." Genta mendekatkan cangkir itu. Shera menghela napas. Ia mendelik ke arah Genta. Kesal setengah mati dengan mantan suaminya itu. Ia meminum teh hangatnya.
"Pinter." Genta mungkin reflek mengelus puncak kepala Shera seraya tersenyum. Tapi, Shera juga reflek menjauhkan dirinya dan menatap Genta dengan dongkol dan kesal. Tanpa berpamitan dan tidak mengacuhkan tugas yang belum mereka selesaikan, Shera memilih pergi dari sana sebelum amarahnya sampai ubun-ubun.
***
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
L'amour L'emporte [Complete]
General Fiction"I don't see any reason why we have to be together, still." "But, i still want you. That's the only reason." *** Sheravina Anjani Sanjaya tidak percaya lagi pada suaminya--Gentahardja Revan Subroto setelah semua hal yang telah dilakukan oleh pria it...