Klien

38 7 0
                                    

Setelah mendapat pesan dadakan dari seroang Zavier dua hari yang lalu, kini mereka tak pernah absen komunikasi hanya untuk membahas soal desain interior dan sebagainya.
Dari dulu, Jenn tak pernah suka dengan orang asing yang terus mengganggunya seperti ini. Tapi, dengan Zavier, Jenn merasa mereka pernah kenal dekat sebelumnya. Jenn juga heran orang sesibuk Zavier bisa mengiriminya pesan setiap detik dan anehnya ia tak pernah mengabaikan pesan itu. Seakan ia berharap pria asing itu selalu mengiriminya pesan. Seperti hal nya saat ini, Jenn sedang duduk di Restoran keluarganya dengan di temani secangkir Cappucino. Ia duduk dengan gelisah menunggu balasan dari seseorang.

Tadi mereka membahas soal warna desain yang pas untuk ruangan skala besar. Tapi, sudah setengah jam lebih belum ada balasan.

" Mbak Jenn, itu di bawah ada yang nyariin, katanya teman mbak Jenn.", Ucap seorang karyawan padanya. Jenn sedikit menimang siapa gerangan teman yang di maksud karyawannya itu.

" Mas Luthfi katanya.", Lanjut karyawan itu membuat Jenn mengerti.

" Suruh aja dia ke atas, sekalian pesan makan untuk dua orang.", Suruhnya.

Tak lama seorang pria lengkap dengan setelan jas nya berjalan mendekat. Pria itu tersenyum simpul menampilkan lesung pipinya. Di belakangnya dua orang pelayan membawakan pesanannya.

" Duduk, fi!", Pria itu pun duduk di hadapan Jenn sambil meletakkan ponselnya yang Jenn ketahui adalah ponsel keluaran terbaru dengan harga fantastis.

" Ngapain Lo kesini? Ganggu waktu gue aja.", Sapa Jenn.

" Yaelah, bukannya di tawarin makan - minum dulu kek malah di todong begituan?", Omel Luthfi.

Ponselnya berdering menampilkan nama yang sedari tadi ia tunggu. Sepersekian detik matanya mengerjai, tak tahu apa yang harus ia lakukan.

" Lo makan aja dulu. Gue angkat telpon bentar."

" Ya, hallo?", Sapanya lembut mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Luthfi di buat heran dengan sikap sahabatnya itu.

" Maaf, tadi saya ada urusan sebentar dengan teman saya. Apa saya mengganggu?", Tanya pria di seberang sana.

" Ti- tidak sama sekali. Ada urusan apa anda menelpon saya, Zavier?", Tanyanya ragu. Baru kali pertama ia berbicara langsung dengan sosok Zavier ini meskipun lewat telepon.

Tak jauh dengan Jenn, Luthfi mendengar nama yang tak asing di telinganya sontak menoleh ke arahnya.

" Begini, saya suka dengan rekomendasi - rekomendasi yang Zareen tunjukkan ke saya. Kalo bisa secepatnya bisa kita mulai renovasinya. Bagaimana?", Jenn tentu kaget. Semudah itukah pria itu menyetujui usulannya. Biasanya mereka akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk memikirkan apakah desain yang ia buat cocok atau tidak yang berujung pembatalan kontrak. Tapi, kini.....

" Bisa. Bisa. Kalo begitu Minggu depan saya kirimkan pekerja untuk memulai renovasi di tempat anda. Mungkin, sesekali saya akan melihat progress nya seperti apa.", Ucap Jenn senang. Ia tak mampu lagi berkata-kata.

Baginya, sulit untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Ini adalah klien besar pertamanya dan ini patut di rayakan. Ya, ia memang mahasiswi semester 4 tapi ia sudah memiliki usaha kecil - kecilan dan beberapa pegawai di bidang desain interior.

" Baik, besok saya kirimkan berkas - berkasnya ke kantor anda. Bisa anda kirimkan alamat nya?"

" Nanti, saya kirim via Line. Terima kasih, pak Zavier!", Ucapnya antusias.

" Zavier saja, saya masih muda. Kalo begitu sampai nanti, Zareen.", Wajahnya sedikit merona mendengar perkataan itu .

Luthfi yang merasa penasaran sejak tadi menanyakan kebenarannya.

The Power of Destiny 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang