Hanya sekumpulan short stories yang dipakai sebagai sarana belajar nulis. Haha.
Mainly oneshoot, only about Yocat. Mungkin akan ditambah karakter lainnya sesuai kebutuhan masing-masing chapter.
Please enjoy and don't hesitate to leave your comment :)
Hallo yeorobun. Hehehe. Hari ini mau update one-shot, tapi nulisnya mendadak banget dan cepet-cepet. Jadi maaf kalau pendek ya.. Dalam waktu dekat rencananya mau nulis cerita yang agak panjang lagi, semoga masih ada yang baca, dan betah sama Yocat.
Oh ya, dalam cerita ini aku juga nyantumin Kim Ddadda dan Kim Dduddu. Mereka itu anak-anaknya Yocat (fiksi) yang terkenal di antara shipper koreanya Yocat (pasti diantara kalian udah ada yang tau juga hehehe). Ini salah satu contoh gambarnya yang dibuat sama Lalla-nim (twitternya: @19_10c). SIlahkan kalau mau follow untuk ngeliat gambar gemes lainnya. Yang mau mutualan sama aku juga ayo aja, kajja!! (@yocatfrvr)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Mau komentar silahkan, kalo dirasa pantas di vote juga makasih banget. Pokoknya makasih banyak buat kalian yang masih baca book ini. Luv youuuu..
#######
"Yang, masih marah?"
Suara lembut Yohan menyapa indera pendengaran Wooseok, setelah sekitar 30 menit lamanya pria yang lebih mungil itu pamit dari ruang tengah untuk menyiapkan makan malam di dapur sendirian. Wooseok yang berdiri tepat di sebelah kanan kompor sambil sibuk memotong wortel hanya berdehem pelan, enggan untuk berbalik agar bisa bertemu pandang dengan Yohan.
"Nggak kok..." Wooseok berucap singkat. Ekspresinya yang tampak datar saat ini tidak bisa ditangkap oleh Yohan yang tengah berdiri di belakangnya, bersandar pada meja makan.
"Kalo ngomongnya ketus gitu, artinya masih marah..." Yohan menghela nafas pelan, lalu beranjak mendekat. Dipeluknya pinggang ramping milik Wooseok dari belakang, dagunya ia sandarkan pada bahu kanan suaminya itu.
"Han, aku lagi masak. Lepas dulu," ucapan ketus itu hanya dijawab dengan pelukan yang semakin mengerat. Raut wajah Yohan perlahan berubah sendu, sama seperti pria yang ada dalam pelukannya.
"Kamu mending main sama anak-anak dulu deh, biar mereka sekalian beres-beres legonya sampai selesai," Wooseok kembali angkat bicara. Ia melepaskan tangan Yohan yang melingkar di pinggangnya dengan cukup kasar, lalu beranjak mengambil beberapa bahan makanan lain di kulkas. Yohan masih berdiri mematung, memandangi irisan wortel yang ditinggalkan Wooseok dihadapannya.
Wooseok tampak menyibukkan diri dengan masakannya, tidak menghiraukan Yohan yang masih saja berdiri di dekatnya sambil mengikuti gerak geriknya dengan tatapan memelas. Raut wajah Wooseok memang tampak datar, tapi bisa Yohan lihat matanya berkaca-kaca, seperti biasanya ketika pria itu bersusah payah menahan tangis.
"Sayang..."
"Yohan, please......" Wooseok menghentikan kegiatannya sebentar dan memandang Yohan tepat di matanya. Suaranya terdengar bergetar dan parau.
Hati Yohan mencelos ketika melihat raut Wooseok saat ini, sepertinya memang benar-benar sedang marah dan tidak ingin bicara sedikitpun dengannya. Yohan kembali menghela nafas, bingung karena ia tidak ingin membiarkan Wooseok marah seperti ini terlalu lama. Tapi jika Wooseok sudah berkata ingin sendiri, Yohan pun tidak punya pilihan selain memberikan waktu, lagi dan lagi.