"Kami turut berduka!" seru salah seorang gadis di ambang pintu. Ia membungkukkan tubuhnya dihadapan ibu dari gadis yang memiliki acara pemakaman pada hari ini.
Hampir tiga puluh menit lamanya aku menatap kosong ke arah jasad yang saat ini terbaring tenang di dalam peti. Ia sangat cantik, senyumnya begitu manis, matanya meski tertutup terasa teduh. Masih terlihat bekas merah dari lehernya meski telah dipercantik sedemikian rupa.
Adikku, Akira bunuh diri.
Selama aku mengenalnya, ia adalah gadis yang baik. Ia gadis yang kuat dan tahu bagaimana harus bersikap. Ia cerdas, tentu saja. Akan tetapi ia tidak memiliki banyak teman. Bahkan aku tidak tahu apakah ia memiliki sahabat atau tidak.
Orang yang hadir dengan seragam sekolah yang sama dengan adikku pada hari ini, apakah mereka teman baiknya? Atau apakah mereka datang untuk menertawakan kematian adikku? Tertawa di atas kemenangan?
Aku tidak tahu.
Tepukan pelan dari ibu menyadarkan ku dari lamunan yang panjang. Ibuku mulai naik ke atas mimbar, mengucapkan sepatah dua patah kata yang menyatakan betapa ia mencintai Akira sebagai anak perempuan satu-satunya. Mengatakan bahwa ia merasa gagal dalam menjaga Akira, dan seterusnya.
Aku juga diberi kesempatan untuk berbicara di atas mimbar tersebut. Tidak banyak yang aku katakan, aku hanya memberitahu kepada setiap orang yang hadir untuk memaafkan Akira atas kesalahan yang telah ia lakukan. Dan ikut memanjatkan doa untuknya pada hari ini.
Kemudian jasad Akira di kremasi dan bersama-sama kami membuang abunya di sungai. Aku duduk diam di salah satu bangku yang ada di bantaran pinggir sungai. Ayah dan ibuku sudah pulang lebih dulu sejak dua puluh menit yang lalu.
Berita ini sangat mengguncang, aku tidak tahu bahwa aku akan menghadiri pemakaman adikku secepat ini.
Apa yang terjadi padanya selama ini?
Siapa yang membuatnya melakukan hal itu?
Kenapa dia melakukan hal ini?
Aku mengakui bahwa aku memiliki banyak kesibukan dalam membangun sebuah imperium bisnis, sehingga aku jarang berada di rumah. Kesibukan ini yang membuatku jarang menanyakan kabar tentang Akira.
Aku membuka ponsel, membuka email, berharap Akira mengirimkan pesan-pesan yang akan menjawab ribuan pertanyaan yang memenuhi kepalaku saat ini.
Ternyata benar, ada delapan email tak terbaca dari Akira.
Akira Nihora :
Nii-san, kapan kau akan pulang? Aku ingin merayakan kelulusanku bersamamu.
Akira Nihora :
Aku berharap kau selalu menjaga dirimu dimana pun kau berada, jangan terus menerus mengganjal perutmu hanya dengan keripik, itu akan membunuhmu!
Akira Nihora :
Nii-san, aku tidak percaya bahwa masa SMA akan semenyenangkan ini! aku sangat berharap kau pulang :(
Akira Nihora :
Ayah dan ibu sepertinya tidak baik-baik saja, Nii-san. Mereka saling berteriak satu sama lain, aku takut.
Akira Nohara :
Nii-san, aku takut. Aku mendengar suara yang sangat kuat dibawah sana dan diikuti oleh tangisan. Aku sungguh tidak percaya jika yang melakukannya adalah ayah atau ibu. Sepertinya rumah kita telah dikuasai monster, HAHAHA. Bercanda, cepatlah pulang!
