☁ chapter vii ;bubbly martini

58 11 0
                                    

Pagi ini pukul 8, sama seperti kemarin, aku sudah sampai di tempat pameran pendidikan untuk menjadi representatif ekstrakulikuler band sekolahku bersama dengan Wonwoo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi ini pukul 8, sama seperti kemarin, aku sudah sampai di tempat pameran pendidikan untuk menjadi representatif ekstrakulikuler band sekolahku bersama dengan Wonwoo. Untungnya tugas kami tidak terlalu sulit, hanya tinggal berdiri saja di depan stand dan membagikan brosur kepada pengunjung yang lewat. Tapi, kegiatan seperti ini seharusnya dilakukan oleh ketua ekstra band, bukannya murid random seperti aku dan Wonwoo yang bahkan tidak mengikuti ekstra itu. Kalau begini, kan, aku jadi ketinggalan pelajaran, apalagi hari ini ada mata pelajaran yang tidak aku kuasai dengan baik, yaitu Matematika. Pokoknya kalau sampai nilai Matematikaku jelek, berarti ini salah Lee-seonsaengnim.



Hari ini ada 3 SMA lain, yang juga terletak di Seoul, mengisi acara pentas seni. Aku tidak terlalu memperhatikan SMA mana saja yang hari ini sedang pentas seni karena banyak sekali orang yang berlalu-lalang, sehingga aku harus fokus membagikan brosur. Sementara aku merasa kewalahan dengan pekerjaan yang simpel ini, di sebelahku, yaitu stand ekstra dance, Dino dan teman-temannya tampak antusias. Beberapa kali mereka menunjukkan teknik dance untuk menarik perhatian pengunjung, tidak jarang ada siswi dari sekolah lain yang mengajak mereka untuk berfoto. Tapi, walaupun begitu, stand yang ada di seberangku juga tidak pernah sepi pengunjung. Ya, itu karena Seokmin yang menjadi representatif-nya, jadi banyak penggemarnya yang berkunjung dan mengajak berfoto juga.



Kemudian 15 menit sebelum istirahat, ada seorang siswi dari SMA yang tidak kuketahui, menghampiri stand kami. Ternyata dia malah menghampiri Wonwoo saja dan mencoba untuk mengajaknya berbicara. Dia bahkan berani memeluk lengan Wonwoo dan entah mengapa aku merasa tidak nyaman melihatnya. Wonwoo sudah berkali-kali melepaskan tangannya, tapi siswi itu akan meraih tangannya kembali. Aku melihat Wonwoo yang menatap kearahku dengan tatapan memelas, seperti minta di tolong. Terlihat jelas sekali kalau dia juga merasa tidak nyaman. Dengan begitu aku menepuk pundak siswi yang sedang memegang tangan Wonwoo dan angkat bicara.



"Maaf, bisakah kau melepaskan tangannya? Dia tidak nyaman dengan perlakuanmu sekarang."



Siswi berambut cokelat panjang itu nampak tidak senang dengan perkataanku barusan dan menatap kearahku dengan sinis. Kemudian dia melepaskan tangan Wonwoo dan menatap kearahku. Bibirnya yang dipoles lipstick berwarna pink itu menanggapiku, "Eoh, memangnya kau siapa berani menyuruh-nyuruhku? Kau pacarnya?"



"Dia ini temanku, dan aku tahu dia terlihat tidak nyaman dengan orang asing yang menyentuhnya seperti itu tanpa ijinnya."



"Baiklah, jadi kau bukan pacarnya, kan? Jadi kau tidak punya hak atasnya. Pergilah, kau mengganggu."



"Lalu memangnya kau siapa sampai kau berhak menyentuhnya tanpa ijin? Pergilah jika kau hanya ingin mengangganggu kami saja."



Siswi itu terlihat kaget dan hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi tentu saja dia tidak bisa menanggap karena dia berada di posisi yang salah, jadi mau bagaimana pun, hasil akhirnya tetap dia yang kalah. Dengan kesal dan menginjakkan salah satu kakinya di tanah, dia pergi meninggalkan kami. Aku tersenyum puas dan melihat Wonwoo yang membuat isyarat 'Gomawo' kepadaku. Aku menyentuh daguku dengan jari kelingkingku sebanyak 3 kali, isyarat 'Gwaenchanha'. Kemudian waktu istirahat datang dan Lee-seonsaengnim memperbolehkan kami meninggalkan stand selama 20 menit untuk pergi ke toilet atau hanya sekedar duduk saja.

𝐘𝐔𝐀𝐍𝐅𝐄𝐍'ʲʷʷˊTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang