BAGIAN [2]

37 3 0
                                    

Dihari yang sama ditempat berbeda Vani baru saja selesai bertemu klien dan keluar kantor dengan Ryan dibelakangnya.

"Sudah jam makan siang bu mau langsung makan atau gimana?" Ryan membuka percakapan.

"Kita langsung makan" jawabnya sambil berhenti dan menghadap Ryan.

"Makan di tempat biasa ya"tambahnya.

"Iya" setelah itu mereka masuk mobil yang disupiri pak Broto dan berhenti di salah satu rumah makan Padang. Setelah melepas sepatu high heels dan mengganti dengan sendal jepit Vani turun dari mobil yang diikuti Ryan dan memesan makanan.

"Setelah ini apa ada jadwal ?" Tanya Vani.

"Tidak ada bu setelah makan siang kita ke kantor dan sampai sore tidak ada pertemuan dengan klien" Ryan menjelaskan.

Vani hanya mengangguk "kamu Minggu besok senggang atau tidak"

"Saya kosong bu" jawab Ryan dan Vani hanya mengangguk.

"Kalo gitu kamu kerumah jam sepuluh, bisa tidak?"

"Iya Minggu saya kerumah ibu" ucap Ryan setelah itu makanan datang.

Setelah selesai makan mereka kembali kekantor dengan Vani yang memasuki ruangannya dan Ryan yang berada di meja depan ruangan Vani.

Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam tapi Ryan tidak menemukan tanda tanda bahwa Vani akan pulang padahal Kantor bubar pukul lima sore dan hanya beberapa karyawan yang mengambil lembur yang masih di kantor. Akhirnya ia mengetuk pintu Vani.

Tokk
Tokk

"Masuk" sahut orang dari dalam.

Ryan masuk dan membungkuk sopan. "Sudah pukul sepuluh bu" bodoh pikirnya dalam hati sudah pasti bosnya ini tau jika sekarang pukul sepuluh malam.

"Iya saya tau" Vani menjawab dengan mata yang masih fokus dengan laptop dihadapan nya.

"Ibu gak berniat pulang tadi juga pak Broto tanya sama saya kapan ibu pulang"

Vani melepas tatapannya dari laptop dan beralih menatap Ryan "ya ampun saya lupa bilang pak Broto kalo saya pulang sedikit telat"

"Jadi sekarang gimana bu" tanya Ryan.

"Tolong kamu bilang pak Broto siapkan mobil, sebentar lagi saya selesai"

"Baik bu" setelah itu Ryan pamit dan menemui pak Broto.

Vani keluar ruangan dan melihat Ryan sedikit berlari ke arahnya

"Sudah siap bu"

"Yasudah, makasih ya kamu juga langsung pulang"

"Sampai bertemu besok ya" setelah itu Vani pergi dengan senyum di bibirnya. Sedangkan Ryan mengutuk kecantikan bosnya itu, jika jujur Ryan sebenernya memiliki rasa terhadap bosnya itu bekerja selama 7 tahun membuatnya mengetahui baik buruk dan luar dalamnya Vani sehingga sulit untuk melirik perempuan lain karena Vani lah yang setiap hari ia lihat, namun hingga sekarang pun ia tidak pernah berani untuk berbicara dengan Vani mengenai perasaannya ia hanya berbicara dengan Vani jika ada urusan pekerjaan atau saat Vani butuh bantuan selebihnya ia terlalu grogi bila berdekatan dengan Vani.

πππππ

Pukul sebelas malam Vani sampai dirumah setelah membersihkan diri ia menunju kamar sang anak terlihat Shasa sudah terlelap di alam mimpinya. Vani tahu selama ini bukan dirinya yang menjadi korban atas perceraian dengan mantan suaminya melainkan Shasa, Shasa tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.

Mungkin, kasih sayang seorang ibu juga Shasa tidak mendapatkannya karena Vani terlalu sibuk untuk membuat pembuktian bahwa seorang janda bisa menjadi pemimpin perusahaan dan mampu hidup tanpa bantuan dari mantan suami ataupun orang lain.

Dan pada akhirnya ambisinya sendiri yang membuatnya seolah jauh dengan sang anak. Shasa yang merasa bisa hidup tanpa kasih sayang, sedangkan Vani yang harus bekerja hingga larut untuk memenuhi kebutuhan Shasa dengan pemikiran Shasa akan bahagia jika semuanya bisa terpenuhi.

Vani akui dirinya egois melarang Shasa untuk bertemu papanya namun dirinya juga punya alasan mengapa Shasa tidak boleh bertemu papanya padahal dirinya sendiri tidak bisa selalu ada untuk Shasa.

Vani tersenyum samar sebelum membelai rambut hitam Shasa "Maafin mami ya" setelah mengecup kening anaknya Vani menutup pintu kamarnya Vani masuk ke dalam kamarnya dan mulai tertidur.

πππππ

Hari ini adalah hari Minggu perusahaan tutup sekolah Shasa juga libur jadi dia berniat untuk mengajak besprennya untuk lari pagi tapi gagal karena mereka udah punya janji dengan keluarga masing masing sedangkan Shasa cuma luntang Lantung dirumah bingung mau ngapain.

Sedangkan Vani sudah tidak ada sejak pagi tapi mas Jo bilang Minggu perusahaan tutup tapi ibunya itu benar benar gila kerja sampe pagi pagi buta udah berangkat kerja.

"AAAAAAARGHHH" Shasa menggeram kesal.

"Gabut bangettt gue"

Shasa tengkurap sambil memeluk guling kemudian muter ke kanan muter ke kiri hingga akhirnya telentang sambil menatap langit langit kamar, hingga tiba tiba teringat ayahnya. Dulu neneknya pernah menunjukan foto ayah dan ibunya di pelaminan dan juga foto ketika kedua orang tuanya sedang memeluk dirinya, hanya gambarnya sedikit goyang sehingga sedikit berbayang.

Saat Shasa tanya mengapa orang tuanya memilih untuk bercerai neneknya selalu menjawab 'kamu tanya langsung sama ibu mu'.

Namun ketika Shasa bertanya pada maminya pasti maminya itu akan mengalihkan pembicaraan atau berpura pura tidak tahu, seperti tidak suka. Shasa mengerjapkan mata tersadar dari lamunannya. hingganya akhirnya ia pun menelpon Ryan.

"Halo"

"Iya mba kenapa" Jawab orang dari sebrang sana.

"Mami di kantor mas"

"Iya ini lagi sama saya ngambil berkas kenapa mba?"

"Gak papa cuma nanya doang"

"Ya udah saya matiin ya mba"

" Iya mas"

Tuttt

Sambungan terputus. Dengan terpaksa hari libur ini ia isi dengan menonton drama di handphone.

Drama teross sampe mabok katanya dalam hati.

TBC

dua duniaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang