Tiga anggota keluarga kecil itu menikmati makan siang bersama. Terasa canggung. Hanya dentingan alat makan yang terdengar. Bahkan sang anak tak berselera menyendokkan makanannya.
"Agi, kenapa nggak dimakan? Mama suapin ya? " tanya Rani kepada putranya.
"Agi nggak lapar ma. "
"Gi. Dimakan dong! Jadi lelaki itu harus kuat!" kata Juna sebagai kepala keluarga. "Papa mencari kalian sampai ke sini karena papa sayang sama kalian! "
"Juna! " tegur Rani. Dia tak mau membahas apa yang terjadi diantara mereka di depan putranya. Cukuplah hanya urusan dewasa.
"Kenapa Ma? " tanya Juna manis sekali. Lelaki ini sedang memulai dramanya dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sikapnya tersebut berbeda seratus delapan puluh derajat ketika di Jakarta.
Ponsel Rani berbunyi. Menandakan notifikasi pesan masuk. Juna melirik layar yang berkelip terang itu. Membaca sekilas nama yang tertera.
"Siapa itu Rani? " tanya Juna selidik.
"Bukan siapa-siapa!"
Juna tak percaya dengan jawaban Rani. Ia merebut ponsel milik istrinya dan mengecek pesan masuk.
"Juna! Jangan kurang ajar kamu ya?!" kata Rani dengan kesal dan suara meninggi.
"Diam kamu Ran! Kamu itu istriku! Jadi tindakan ini masih hakku! " omel Juna tak kalah keras.
"Iqbal? " Juna tertawa melihat nama yang tertera. "Gebetan barumu Ran? Mau apa dia? Minta jatah? " ledek Juna.
"Disini ada anak kita! Bersikaplah dewasa Jun! "
"Dewasa? Kamu sendiri gimana? Masiiih saja nyari si busuk Panji! "
"Itu semua karena sikap kasar kamu! "
"Kasar? " bentak Juna. "Kau sendiri wanita jalang! "
Brakkk.. Rani menggebrak meja marah seraya berdiri. "Cukup Juna! Omonganmu kelewatan! "
Plakk "Berani kamu marah di sini? Wanita sepertimu bahkan masih aku pertahankan. Kamu tidak bersyukur juga ha?? " Juna berkata dengan intonasi keras.
Agi menyaksikan pertengkaran orangtuanya, lagi. Dia meninggalkan meja makan karena sudah tidak tahan lagi sembari membanting sendoknya diatas piring. Dia benci melihat keributan seperti itu. Dia benci kedua orangtuanya yang selalu bertengkar.
"Agi! " panggil Rani kemudian mengejar putranya.
"Hei, mau menghindar Ran? Ran!" teriak Juna.
Ponsel Rani masih di genggaman Juna. Tertera pesan WA dari Iqbal berisi 'OTW'. Dia sudah menduga dengan jelas bahwa Rani ingin menemui Iqbal. Pasti ini menyangkut tentang Panji. Makhluk satu itu! Dia sudah lenyap selama bertahun-tahun ini. Jika orang bernama Iqbal ini mempunyai informasi tentang Panji, tentu saja Rani ingin menemuinya.
"Dimana pertemuannya? " bisik Juna. Sial. Pasti mereka berhubungan lewat telepon sebelum ini.
Juna menelepon sebuah nomor. Seorang disebrang Mengangkatnya.
"Arga. Bisa kau lacak nomor telepon untuk gue? " kata Juna kepada pemilik nama Arga.
Arga adalah hacker andal yang sudah mampu menjebol wall keamanan dari bank-bank atau akun rekening pribadi seseorang. Atau untuk menyadap perusahaan telkom untuk melacak seseorang melalui nomor telefon yang masih aktif.
"Ok. Lakukan panggilan sekarang! " perintah Arga kepada Juna.
Juna memanggil nomor Iqbal. Sambungan tersambung. Tapi tak ada suara yang terdengar.

KAMU SEDANG MEMBACA
PANJI (Completed)
SpiritualBagaimana rasanya saat hidup hanya dihantui dosa besar? Dosa itu bahkan menjadi penyebab ia harus putus kuliah. Dosa itulah yang membuat ia pergi jauh dari keluarganya, dan menjalani kehidupan di jalan dengan terlunta-lunta. Dosa itu tak terhapuskan...