AKU tahu kalau ekspresi yang kutampilkan sekarang sudah seperti anak kecil yang mendapatkan pujian dari orangtua mereka kala mendapat nilai ujian 100, tapi aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi senangku tiap kali melihat Myungsoo yang nampak menikmati masakan buatanku.
Hari ini aku memasak sup ikan untuk menu makan paginya, err dan aku. Myungsoo memaksaku harus ikut sarapan bersamanya, katanya mulai sekarang aku tidak boleh meninggalkan sarapan pagi—padahal jelas ia yang sering meninggalkan sarapan pagi. Sudah kukatakan kalau aku tidak boleh kelebihan kalori, tapi Myungsoo mengatakan kalau aku tidak akan gemuk hanya karena rutin sarapan pagi.
"Ekspresimu benar-benar membuatku ngeri. Kau kenapa?" tanya Myungsoo tiba-tiba.
Aku membungkus senyumanku dan menggeleng. Mengambil gelas air minum dan menegak isinya dalam sekali tandas. "Kenapa apanya?"
"Kau sejak tadi senyum-senyum sendiri." Myungsoo meletakkan sumpitnya, sudah selesai makan. Lalu, mengelap mulut menggunakan serbet.
"Aku hanya senang melihat orang lain menyukai masakanku. Ini sudah lama tak terjadi." Kataku jujur.
"Masakanmu memang enak," puji Myungsoo.
"Aku tahu itu." Aku menganggukan kepala. Aku tidak meragukan soal keahlian memasakku seperti aku tidak meragukan kemampuan aktingku.
Myungsoo mengulum senyum. Ia bergerak menggulung kemeja biru langitnya hingga ke siku. Sementara aku meletakkan mangkuk-mangkuk bekas makan kami ke atas nampan agar Myungsoo bawa ke wastafel untuk dicuci—sudah kukatakan kan mencuci piring adalah previlege Myungsoo.
"Suzy, kau mau datang ke acara pernikahan Yoongi dan Seolhyun bersamaku?" tanya Myungsoo sambil mengangkat nampan dan membawanya ke wastafel.
Kuembuskan napas. Dan menjawab tanpa berpikir panjang. "Tidak."
"Kenapa?"
"Kau masih perlu bertanya soal itu?" kataku, memutar bola mata. Kusandarkan tubuhku pada kepala kursi yang kududuki, kedua mataku fokus pada bunga artifisial yang ada di atas meja makan ini dengan minat berlebih, lalu kembali melanjutkan. "Aku tidak suka mereka berdua."
"Seolhyun meminta maaf soal yang kemarin dan—"
"Dan kalau dia benar-benar ingin meminta maaf, harusnya wanita itu mengatakannya langsung padaku." Potongku.
Aku tahu wanita itu tidak punya sopan santun dan tatakrama. Previlege tidak bisa membohongi atitut seseorang. Sampah tetap saja sampah meskipun ada di rumah keluarga kaya sekalipun.
Myungsoo diam, dan aku membiarkannya. Bukan karena aku berbaik hati padanya, lantas aku bisa berbaik hati pada dua orang penting dalam hidupnya juga. Kedua orang itu sudah membuatku pusing dan aku tidak ingin berurusan lagi. Sama sekali.
Sampai Myungsoo telah selesai dengan cucian piring ia tak juga bicara—aku bisa menduga kalau Myungsoo mengerti ucapanku. Baiklah, kulirik jam yang menggantung, lalu berdiri.
"Mau kemana?" tanya Myungsoo cepat.
Aku membawa ibu jari menunjuk ke arah belakang. "Pulang. Kau sudah mau berangkat ke Kimsung, dan aku tidak mungkin berada di apartemenmu 'kan?"
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
Aku berpikir sejenak, lalu menjawab. "Gym di lantai bawah. Lusa ada pemotretan majalah dan interview membahas soal dramaku yang ratingnya tembus 20,6%."
Aku semalam dapat kabar di group, bahwa rating drama terbaruku yang syutingnya lama sekali itu menembus dua digit di depan koma. Ya walaupun ini bukan kali pertama, tapi rasanya pengorbananku tak sia-sia.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Celebrity And Her Perfect Match | MYUNGZY COUPLE
FanfictionDISCLAIMER: Cerita ini hanya fiksi belaka. Author hanya meminjam nama tokoh, tempat, dan merek untuk kebutuhan cerita. Cerita milik author, sedangkan Idol milik orang tua dan agensinya.🧡 Judul sebelumnya: Hello, "Bagaimana kalau kita berkencan?" "A...