Shera tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar tendanya. Lala sudah terlelap hingga tidak bisa dibangunkan oleh Shera untuk menemaninya. Shera mengambil sweaternya dan keluar dari tendanya. Ia melihat proyek masih berjalan. Shera bersyukur, karena setidknya tempat ini tidak terlalu sepi.
"Bu Shera, kenapa belum istirahat?" tanya salah satu mandor di proyek itu, Pak Andra.
"Belum, Pak. Saya nggak bisa tidur, mau nyari udara segar." Shera tersenyum ramah. Pria paruh baya itu mengangguk dan pamit dari hadapan Shera untuk melanjutkan pekerjaannya.
Shera memandang laut lepas di hadapannya. Tempatnya berdiri memang cukup jauh dari garis pantai. Ia memiliki thalassophobia. Ketakutan berlebihan pada laut atau lebih kepada kedalaman yang tidaj ada batasnya. Ia tidak akan pernah mau diajak menyelam sekalipun dibayar berapapun harganya. Ia sangat takut, membayangkannya saja membuatnya merinding, apalagi imajinasi liarnya yang bisa beranggapan ada hiu atau paus yang bisa melahapnya saat berenang di laut. Ia heran dengan pecinta laut yang mampu menyelam hingga kedalaman sekian, bagaimana jika ada hiu yang menerkam? Gurita? Megalodon? Aduh, pikirannya melantur kemana-mana.
Shera memejamkan matanya. Merasakan angin laut malam menerpa wajahnya dan membuat rambutnya berseliweran.
"Sheravina!"
"Ra!"
Shera tidak sadar dengan apa yang akan terjadi. Sebuah tiang besi yang baru ditegakkan terjatuh ke belakang tubuhnya. Shera tidak bisa menghindar.
BRUK!
Ia hanya merasakan tubuhnya sakit. Sangat sakit. Ia tidak bisa bergerak dan ketika menengadah, pandangannya tertutup dengan cairan kental berwarna merah.
"Genta....tolong..."
***
Genta memiliki perasaan asing yang membuat hatinya tidak nyaman. Entah apa ini, yang pasti, ia memikirkan Shera sekarang. Genta tidak beristirahat malam itu, ia memutuskan mengecek pembangunan yang berjalan malam hari. Beberapa alat berat dipakai untuk membangun tiang fondasi.
"Estimasi pengerjaan 8 bulan, Pak?"
Genta mengangguk. "Tapi, dilihat dari pengerjaannya, sepertinya 6 bulan sudah cukup."
Genta melihat pekerja-pekerja yang memasanh patokan dari besi besar untuk fondasi. Ia mengeryit. Besinya ditanamkan tidak cukup kuat. Tidak, besi itu akan roboh.
"Pak, itu..."
Genta langsung membelalakan matanya ketika melihat wanita yang berdiri di tepi garis proyek. Shera...
"Sheravina!"
"Ra!"
Genta berlari. Waktu terasa berjalan lambat. Tidak, Shera tidak boleh terluka.
BRUK!
Genta melihat tiang besi itu mengenai kaki Shera. Ia hnya sempat menarik tangannya. Genta tidak sempat menyangga kepala Shera. Kepala wanita itu terhentak ke bebatuan.
Shera...
***
Shera hanya melihat cahaya putih dan bau obat-obatan yang menyengat. Ia merasakan pusing yang amat sangat di kepalanya.
"Shera? Nak?" Suara ibunya terdengar sayup-sayup di telinganya. Oh God, apakah ia sudah di alam baka? Kenapa ibunya ikut dengannya?
"Shera, dengar Mama kan, Nak?" Bayangan Ibunya semakin jelas. Oh, ternyata Shera masih di dunia fana ini.
"Ma..." Shera memejamkan matanya sebentar. Bayangan Ibunya jelas ketika ia membuka matanya lagi.
"Bu Sheravina, apa yang Anda rasakan sekarang?" Pria yang berpakaian jas putih dan stetoskop di hadapannya, membuat Shera mengerti sedang ada di mana ia sekarang.

KAMU SEDANG MEMBACA
L'amour L'emporte [Complete]
General Fiction"I don't see any reason why we have to be together, still." "But, i still want you. That's the only reason." *** Sheravina Anjani Sanjaya tidak percaya lagi pada suaminya--Gentahardja Revan Subroto setelah semua hal yang telah dilakukan oleh pria it...