Part 31

1.2K 61 0
                                    

Semenjak hari di mana mereka berbaikan, mereka selalu menyempatkan waktu di sela sela kesibukan Jimin sebagai mahasiswa dan juga menejer cafe. Jimin selalu memprioritaskan Yura sebagai tanda terimakasihnya kepada mantan istri, yang sebentar lagi akan menjadi calon istri.

Seperti hari ini mendadak Yura pengen di temani Jimin seharian, untungnya juga Hadi ini Jimin tidak ada kegiatan kampus dan jadwal kerjanya masuk sore. Sebelum pergi Menemui Yura, Jimin sempat mampir ke minimarket dekat apartemen Yoongi untuk membelikan buah dan susu Ibu hamil.

Setelah selesai dengan urusannya di minimarket, Jimin beranjak menuju kediaman Yura lalu di sambut dengan sebuah pelukan hangat dari nona Min yang sebentar lagi berganti marga menjadi Park.

"Astaga sayang, kaget aku" ucap Jimin, meskipun begitu Jimin tetap membalas pelukan Yura tak kalah eratnya.

"Kangen" rengeknya manja.

Jimin yang gemas dengan tingkah Yura pun lantas menggendong tubuh Yura dan di letakkan di sofa.

"Apa yang kamu bawa?" tanyanya saat bokongnya sudah mendarat sempura di sofa.

"Aku beliin kamu buah sama susu Ibu hamil rasa mocha" jawab Jimin sambil menyerahkan kresek berisikan belanjaannya tadi.

"Hmm, gomawo" ucapnya senang.

Jimin masih tidak menyangka jika dirinya kini telah jatuh sejatuhnya pada Yura, gadis yang pernah di sia-siakannya, gadis yang selalu di kasari dan gadis yang pernah di jadikannya bahan fitanahan. Jimin menatap nanar wajah bahagia Yura sekarang, Jimin sangat merutuki kebodohannya di masa lalu yang tidak bisa melihat kesempurnaan di diri gadis yang sedang duduk di sampingnya ini.

Seandainya dulu Jimin tidak menyia-nyiakannya, dan menerima pernikahan itu sedari awal, sudah di pastikan jika anak mereka telah lahir dan kini mungkin sudah berusia 1 tahun. Semua penyesalan yang di rasakan Jimin dulu, sudah membawa dampak positif bagi dirinya yang sekarang.

Sekarang Jimin semakin dewasa, semakin bisa menghargai sesuatu yang kapan saja bisa pergi dari kita. Jimin tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan Dia tak ingin menjadi bodoh untuk yang kedua kalinya.

"Kenapa kamu natap aku gitu?" tanya Yura membuyarkan lamunan Jimin tentang masa lalunya.

"Hmm, aku seneng aja liat wajah bahagia kamu. Kamu bahagia gak sih kembali sama aku?" tanya Jimin, sambil menyelipkan rambut Yura ke balik telinganya agar tak menghalangi pandangan.

"Aku? Sudah pasti aku bahagia Jim. Aku senang karena sebentar lagi kita akan punya dua malaikat, dan di saat itu pula hubungan kita membaik. Kenapa kamu tanya begitu? Apa jangan jangan kamu yang tidak senang pada hubungan kita ini?" Yura membalikan pertanyaan yang di ajukan Jimin sebelumnya.

"Kau tahu? Tidak ada yang paling membahagiakan bagiku selain kalian. Maaf aku terlambat menyadarinya hingga terlalu dalam menyakitimu" sendu Jimin.

"Sudahlah, intinya sekarang kita sudah bahagia dan sebentar lagi mereka akan menambah level kebahagiaan kita" ucap Yura agar Jimin tidak terus merasa bersalah.

"Yura" panggil Jimin sambil menggenggam kedua tangan Yura.

"Hmm"

"Apa kamu mau terima aku dengan kondisi aku yang lagi di bawah ini? Kamu tahu kan, aku tidak lagi tinggal di rumah mewah, tidak lagi punya mobil, dan kerjaan aku hanya di cafe. Aku takut aku tidak bisa bahagiain kamu dan anak anak" ungkapnya.

"Jim, apa kamu fikir dengan semua itu menjamin kebahagiaanku? Apa dengan rumah mewah dan mobil yang keren akan menjamin hidup kita bahagia? Aku akan terima kamu apa adanya Jim. Aku tidak perduli walaupun kamu tinggal di gubuk kecil sekalipun, dan aku juga tidak masalah jika harus berdesak*an di bus. Aku hanya mau kamu! Kebagagiaan aku itu kamu! Sudah cukup, tidak ada yang lain" balas Yura.

Setelah mendapat penuturan dari Yura, tanpa ragu lagi Jimin akhirnya memeluk Yura dengan sangat erat, tapi walaupun begitu Dia tetap memberi ruang bagi si kecil yang masih di dalam perut calon istrinya itu.

"Jangan pernah lagi kamu menganggap kebahagiaan ku di ukur dengan harta yang kamu punya Jim, cukup kamu berada di sisiku saja aku bahagia. Hmm dan pekerjaan kamu, aku bangga sama kamu, di tengah jadwal kuliah kamu bisa membagi waktu dengan bekerja bahkan tidak lama langsung naik jabatan hehe" kekeh Yura di akhir kalimatnya.

"Hmm itu semua berkat kamu sayang, kalau begitu. Aku akan menghubungi Ayah dan Ibu supaya mereka datang di acara kita nanti, dan maaf sekali lagi jika pernikahan kita kali ini tidak ada pesta mewah" sesal Jimin.

"Tidak masalah, aku juga sudah menghubungi Eomma dan Appa. Mereka setuju saja karena mereka ingin aku bahagia" tenang Yura akan keresahan Jimin.

"Aku jadi tidak sabar, ternyata aku manjur juga ya?" kekeh Jimin.

"Manjur?" tanya Yura bingung, sambil menguraikan pelukannya.

"Iya, padahal kita cuma tidur sekali malam itu. Tapi langsung jadi dua" tawa Jimin menggoda Yura, Yura yang mengerti pun langsung melayangkan pukulannya pada bahu Jimin.

"Auuh sayang, kenapa kau memukul calon suamimu ini" keluh Jimin.

"Siapa suruh bicara begitu, tidak malu apa pada anak. Dasar mesum!" ketus Yura.

"Mereka kan belum bisa mendengar Park Yura" kekeh Jimin.

"Park Yura? Hey jangan seenaknya mengganti marga orang ya tuan Park Jimin!" kesal Yura.

"Tapi kan sebentar lagi margamu akan jadi Park" goda Jimin yang belum mau berhenti membuat Yura kesal.

"Terserah!" amuk Yura, yang ingin pergi beranjak dari sofa.

"Ya ya ya sayang, jangan marah marah. Aku kan hanya bercanda, hmm. Bagaimana kalau kita makan? Kamu belum makan kan?" tanya Jimin, Yura hanya menggeleng.

"Aku mau nasi goreng kimchi, tapi kamu yang buat ya? Ya ya?" pinta Yura dengan aegyonya, dasar Ibu hamil padahal baru saja Dia merasa kesal tapi sudah dengan cepat dirinya beraegyo pada Jimin.

"Hmm, baiklah. Apapun untuk kesayanganku" final Jimin.

"Uh jadi sayang deh" ucap Yura sambil memeluk lengan Jimin.

"Baiklah, sayangnya Jimin. Kamu di sini saja ya, aku mau buat nasi gorengnya dulu" titah Jimin.

"Gak mau, aku maunya temenin kamu. Gendong ya Jim" lagi, Yura memerintah Jimin.

"Aku akan gendong, tapi kamu harus panggil aku Jimin oppa" ucap Jimin mengajukan syarat.

"Baiklah, Jimin oppa gendong aku" manjanya, Jimin semakin gemas di buat Yura dan langsung saja dirinya menggendong Yura.

Setelah membuatkan nasi goreng kimchi sesuai apa yang di inginkan Yura. Jimin langsung menyajikannya dan menyuapi Yura. Baru kali ini dirinya merasa di repotkan oleh Yura, bukannya mengeluh malahan Jimin senang jika Yura merepotkannya seperti ini.

'Aku bahagia, sungguh! Tuhan jangan lagi kau ambil bahagiaku ini, aku tidak akan sanggup tanpanya' bathin Jimin sambil menatap wajah gemas Yura yang sedang menguyah makanannya.

Bersambung..

I Love You My HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang