'Anak anjing? Ku? Apa mereka—' Pikiran Wonwoo terhenti ketika Mingyu menghentakkan kakinya karena kesal.
"Sungguh. Kau masih saja membuatku naik darah, noona."
"Heh?! Harusnya aku yang naik darah karena setiap kau pulang, kau tidak mengabari, dasar bocah!"Ngegaslah sudah perempuan itu.
"Jadi ada apa kau pulang, hah?"
"Kenapa kau peduli sekali tentang itu, noona?"
"Dasar kurang ajar. Belum pernah tahu rasa dipukul talenan, hah?"
"Dan kau masih saja kasar. Benar-benar merepotkan."Mereka berdua tertawa.
Mungkin ini pertama kali bagi Wonwoo melihat Mingyu tertawa tulus. Ia bahkan bisa menikmati candaan antara Mingyu dan tetangganya itu.
"Oh iya. Ini teman sekamarku di asrama. Kalian berkenalan sana." Mingyu menunjukkan Wonwoo pada perempuan itu.
"Halo. Namaku Ryu Shinjoo."
"Halo, noona. Aku Jeon Wonwoo."
"Noona Ryu ketua gengnya kampung ini." Ucap Mingyu pada Wonwoo.
"Eh? Benarkah?"
"Dasar kau bocah! Tidak. Tidak. Memang bocah ini adalah bocah yang paling menyebalkan yang pernah aku temui."
"Temui? Memangnya aku benda apa hingga kau menemuiku, noona?"Wonwoo terkekeh melihat pertengkaran mereka berdua.
"Ah.. Tuhkan. Jika aku bertemu denganmu, kita pasti bertengkar. Jadi ada apa kalian kesini? Atau jika kau tidak mau memberitahuku alasanmu kembali ke Anyang, maka beritahu aku kenapa kau ke rumahku, wahai Kim Mingyu yang mulia."
"Apa kau masih menjual bahan makanan?"
"Oh, tentu saja, Jeon. Aku masih menjualnya. Pasti Si Kim yang memberitahukanmu."
"Kau benar, noona. Siapa lagi kalau bukan dia? Haha."
"Benar juga kau. Iya aku masih menjualnya. Mari masuk!"Shinjoo mempersilakan mereka masuk dan memperlihatkan bagian rumahnya yang seperti bagian bahan-bahan makanan di sebuah super market.
Wonwoo dapat melihat wajah Mingyu yang perlahan menjadi merekah karena melihat semua bahan makanan itu.
"Hyung. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa cari saja sendiri. Aku akan mencari bahan untuk sup. Karena malam ini bisa menjadi cukup dingin."
"Baiklah, Gyu. Aku mengerti."Mingyu meninggalkan Wonwoo. Lalu Shinjoo menghampiri Wonwoo.
"Bahan makanan apa yang kalian butuhkan?"
"Aku tidak tahu. Mingyu yang akan masak."
"Wah. Tentu saja. Ah. Aku merindukan masakannya. Dari kecil dia pandai memasak."
"Benarkah?"
"Ya. Tadinya aku tidak suka sayur. Tapi dulu dia memasakkan berbagai macam sayur untukku setiap beberapa hari sekali. Dan akhirnya aku jadi doyan makan sayur."
"Dia pintar."
"Ya. Aku setuju. Haha. Oh, ya. Sudah berapa lama kau menjadi teman sekamarnya?"
"Hm.. Mungkin baru beberapa bulan. Ini juga pertama kalinya aku tinggal di asrama."
"Oh? Apa kau mahasiswa baru?"
"Bukan. Aku mahasiswa tahun ketiga."
"Tapi ku pikir Kim memanggilmu Hyung? Dan sepemahamanku, seharusnya dia sudah di tahun ke... empat?"
"Kau benar, noona. Aku memang lebih tua darinya. Setahun. Tapi, dia sudah lebih dulu masuk."
"Aku mengerti. Jadi, kupikir, kau sudah cukup tau tentangnya?"Wonwoo memberi tatapan 'Apa yang kau maksud?'
"Kau tentu paham maksudku. Sepertinya itu menjawab kepulangannya kesini, bukan?"
Wonwoo hanya merespon dengan anggukan kepala.
"Hyung. Aku sudah mengumpulkan bahan-bahannya. Yakin kau tidak akan membeli yang lain?"
"Ya. Ini saja, Gyu. Lagipula, kau pasti masak cukup banyak."

KAMU SEDANG MEMBACA
⏸️The Boy || MEANIE (WONGYU) | IDN ver.
ParanormalWonwoo bersinggungan bahu dengan seorang laki-laki. Tanpa ada maaf, laki-laki itu meninggalkannya. "Tatapannya mengintimidasi."-Jeon Wonwoo Wonwoo hanya tidak tahu jika laki-laki itu mampu melihat "segala" hal. Cerita ini dapat mengandung: - Wonwoox...