Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Noona, kau mau kemana?!" Teriak Dino kepadaku yang sedang berlari kearah lain dari arah menuju tempat les Matematika kami.
Aku berhenti berlari dan membalikkan badanku untuk menatap kearah Dino, kemudian berteriak balik, tidak mempedulikan siswa-siswa lain yang melemparkan pandangan mereka kepadaku, "Aku ingin menjenguk Wonwoo! Kau pergi les sendiri saja hari ini! Dan jangan ikuti aku!"
Kemudian aku membalikkan badanku lagi untuk melanjutkan berlari dengan sekuat tenagaku sambil memegangi kedua tali tas sekolahku yang bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, yang isinya pasti sudah tercampur aduk sekarang. Tapi aku tidak peduli. Yang kupedulikan sekarang adalah aku harus segera sampai ke Nutty Nuaght secepatnya. Aku hampir terjatuh saat aku berbelok dengan tergesa-gesa. Nafasku mulai tersengal-sengal dan keringat bercucuran dari wajahku, walaupun saat ini udaranya lumayan dingin. Ugh, tinggal sedikit lagi aku akan sampai!
Kemudian aku berbelok lagi dan menyenggol tong sampah yang berada di sudut belokan trotoar, sehingga aku harus berhenti sejenak untuk membenarkan posisinya dan mencegah tong sampahnya terjatuh atau menumpahkan isinya. Aku melanjutkan berlari lagi setelahnya dan melihat post sign Nutty Nuaght yang lampunya sudah dimatikan. Aku semakin mempercepat lariku dan akhirnya sampai di depan bakery tersebut. Aku menormalkan nafasku kembali, merasa lega karena tokonya masih buka. Tanpa membuang waktu lagi aku masuk ke dalam dan membeli kue yang aku cari. Setelah itu, aku keluar dari toko yang sudah hendak tutup itu dan menuju halte bus terdekat untuk pergi ke rumah sakit.
Di dalam bus aku mengelap keringatku dari wajahku menggunakan sapu tangan dan memasukkan box kue tadi ke dalam tasku. Aku menutup kedua mataku dan memeluk tasku. Aku berusaha mati-matian untuk tidak merapalkan kata-kata kotor dari mulutku sekarang. Hh, coba saja kalau tadi aku bisa menyelesaikan tugas Sosialnya lebih cepat, maka aku bisa keluar dari sekolah lebih duluan dan tidak perlu berlari-lari layaknya orang gila seperti tadi. Tidak terasa, bus sudah berhenti di halte yang berada di depan gedung rumah sakit.
Kedua kakiku sudah membawaku berjalan menuju ke dalam gedung rumah sakit yang lumayan ramai itu setelah turun dari bus. Aku masuk ke dalam lift dan memencet tombol berangka 10, lantai dimana kamar Wonwoo berada. Aku menunggu dengan tidak sabar saat lift-nya membawaku naik menuju ke lantai yang kutuju. Aku bermain dengan kakiku dan menyenandungkan lagu random yang muncul di dalam pikiranku sekarang. Suara dentingan lift membuatku tersadar, dan aku berjalan keluar dari lift setelah pintu lift terbuka.
Sebelum masuk ke kamar Wonwoo, aku melihat dari jendela yang terdapat di pintu untuk mengecek apakah sedang ada orang yang mengunjungi Wonwoo sekarang. Melihat ruangan yang kosong dan hanya ada Wonwoo saja yang terduduk diatas ranjangnya sembari membaca buku, aku masuk ke dalam. Suara pintu yang terbuka membuat Wonwoo mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya. Melihatku yang berdiri di depan pintu, Wonwoo terlihat terkejut dan membenarkan kacamatanya. Aku melambaikan telapak tanganku sambil tersenyum kecil dan berkata, "Hai."