01: jauh sebelum itu

1K 89 5
                                    

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

senin, 10 februari


i; jeritan

pemuda itu berkali-kali menaruh pandang pada arloji. pukul setengah enam sore. lima belas menit telah berlalu dengan cepat dan ia hanya duduk di salah satu bangku dekat parkiran sekolahnya, menunggu seorang pemuda lain yang tengah mengambil kunci motornya yang tertinggal di laci meja. setengah bagian dari diri eunwoo sebenarnya tak tahan untuk merutuk namun tak dapat dipungkiri lagi, eunwoo memang sabar dalam menunggu.

"maaf ya bro!" seokmin berucap parau, dengan napas yang masih tersengal karena kecapekan telah berlari dari kelas sampai kemari. 

eunwoo mengangguk pelan kemudian bangkit dan melangkah menuju parkiran. namun sebelum itu, diliriknya wajah seokmin yang basah akan peluh itu. masih sama terengah-engah seperti tadi bahkan deru napasnya dapat eunwoo dengar dengan jelas. helaan napas yang dapat eunwoo pastikan penyebabnya bukanlah karena seokmin terlalu lelah habis berlari.

seokmin merapatkan bibirnya, pemuda itu sedang menguasai dirinya, menahan amarah agar tidak meledak lagi.

"masih rame juga ya?" seokmin terkejut melihat masih ada beberapa kendaraan yang berada di parkiran sore itu padahal ia kira hanya tinggal ia dan eunwoo yang tersisa.

"iya, masih ber... lima?" seokmin menghitung motor yang tersisa di sana, lima motor dengan jarak yang renggang terparkir rapi—termasuk miliknya dan eunwoo. motor-motor yang tersisa itu lumayan familiar baginya. oh iya, milik seseorang yang ia kenal.

eunwoo menyalakan mesin motornya. motor barunya. ya, ini hari pertama eunwoo pulang dengan motor sendiri karena biasanya pemuda itu berangkat dan pulang sekolah bersama kakak sepupunya yang sudah pindah sekolah.

seokmin menyalakan mesin motornya dan tepat ketika itu teriakan seseorang terdengar mengudara setelah debuman keras lebih dulu masuk ke telinga. seseorang yang... jatuh? hanya sekejap namun cukup keras, meskipun ia yakin lokasinya jauh dari parkiran. kedua pemuda itu mematung kemudian menoleh saling tatap.

eunwoo membuka kaca helmnya, "lo denger yang barusan?" pemuda itu bertanya dengan nada rendahnya.

seokmin membulatkan matanya. menarik napasnya dalam. bulu kuduknya meremang seketika.

"dari arah tangga ke kelas dua belas gak sih?" balas seokmin dengan pandangan menelisik. eunwoo mengangkat bahu, tanda tidak tahu.

"apa penunggu sini kali ya? pernah denger gak lo kalo sekolah kita ada hantunya?"

"hEH GAK USAH NAKUT-NAKUTIN YA LO" seokmin berteriak memerotes. memang dirinya sensitif dan sangat membenci hal-hal yang tak kasatmata seperti hantu dan rekan-rekannya alias nyalinya kecil. sementara eunwoo yang mendengarnya malah terkekeh menyebalkan.

[1] WE DON'T KNOW WHOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang