Menerima dia tidak akan membuat semuanya berubah menjadi lebih baik—
***
"Ada hubungan apa lo sama Senjana?"
"Lo ngajak gue kesini berdua, cuma buat nanyain hal itu?"
"Lo mau gue nanya itu didepan Kevin?" Mata cowok itu menajam. "Jawab aja, gue tau lo bukan tipe orang yang suka bertele-tele"
Dengan santai Dhanis memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Menurut lo?"
"Jangan main-main, ini menyangkut persahabatan kita. "
Ya, jelas ini tentang persahabatan mereka. Bisa kalian bayangkan dua orang sahabat menyukai orang yang sama. Ghibson tidak dapat menampikkan bahwa kedepannya bisa saja akan terjadi hal yang tidak diinginkan diantara mereka. Diantara persahabatan mereka.
Entah itu Kevin dan Dhanis yang bertengkar hingga memecah belah persahabatan mereka. Atau akan berakhir damai-damai saja. Semua tergantung dari dua pribadi bajingan itu. Karena bagi Ghibson persahabatan mereka jauh diatas perasaan cinta monyet yang sedang mereka rasakan.
Persahabatan tidak dapat ditukar dengan cinta begitu saja. Tidak, itu terlalu sensitif. Jika cinta itu masuk dan semakin mendamaikan persahabatan yang sudah terjalin sebelumnya, maka itu adalah anugerah untuk mereka. Tapi, jika cinta justru datang dan memporak-porandakan persahabatan mereka, maka tidak akan ada sisa sedikit pun yang akan tersisa diantara hubungan mereka.
Antara persahabatan dan cinta. Keduanya atau bahkan tidak sama sekali.
"Persahabatan kita gak ada hubungannya sama Senjana" balas Dhanis, memandang sinis pada sahabatnya itu. "Gak usah banyak berasumsi, gue tau arah ucapan lo kemana"
Ghibson hanya tersenyum geram pada Dhanis. Inilah yang Ia tidak sukai pada cowok itu, selalu saja menjawab dan mengelak saat diberi nasehat. Apalagi soal meremehkan dan menyepelekan sesuatu, Dhanis lah juaranya.
"Kalo begitu lo harus bisa jaga sikap"
"Secara gak langsung lo nyuruh gue untuk menjauh dari Senjana" Ia semakin menajamkan matanya pada Ghibson. Ia benar-benar seakan menantang Ghibson dalam pertaruhan cinta ini.
"Lo mau ngapain kalo gue gak mau jauhin dia?"
Penuturan itu membuat Ghibson mendesis pelan. Entah sejak kapan cowok dingin tak berperasaan itu memendam perasaannya.
Ia senang ternyata cowok itu masih mempunyai rasa suka. Dhanis masih normal. Tapi kenapa harus Senjana? Kenapa tidak pada wanita lain? Seperti tidak ada lagi saja wanita di Sekolah sebesar ini."Sejak kapan lo suka sama dia?" Tanya Ghibson lagi, dengan suara yang tertahan.
"Semua orang bebas buat suka sama siapa aja. Lo juga begitu kan? Kenapa lo begitu mempermasalahkan ini? Sebelumnya gue cuma diem dan gak ada diantara kalian yang perduli. Karena gue masih menghargai ketua kalian itu."
Meski sudah menatap lekat cowok itu, Ghibson masih belum bisa membaca ekspresi yang ditunjukkan oleh wajah Dhanis. Rencana apa yang akan dilakukannya?
"Sekarang giliran lo yang diem, itupun kalo lo emang mau semuanya baik-baik aja" Dhanis lalu menepuk pundak sahabatnya. Melenggangkan kakinya, pergi dari sana.
***
Senjana duduk di meja riasnya, Ia memoleskan bedak tipis pada wajahnya, tak lupa dengan mengoleskan lip cream yang berwarna senada dengan bibirnya.
Untuk sejenak Ia memperhatikan pantulan dirinya dikaca itu. Lalu, pandangannya jatuh pada sebuah foto seorang wanita yang tengah menggendong bayi. Dengan rahang yang mengeras, rasa sesak mulai menyeruak di dadanya. Kedua matanya mulai memanas, hingga setetes bulir bening terjatuh. Mengalir begitu saja di pipinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
SENJANA [Re-Publish] REVISI !!
Teen Fictionkisah pertama, cerita pertama. [ Alangkah baik nya untuk follow dulu yah gaes] Bagaimana perasaan kalian jika harus ditimpa berbagai masalah setiap saat? Dikhianati orang-orang terdekat. Bahkan rela mengorbankan segala hal agar bisa menikmati kehidu...