"AKU bertemu dengan ibumu tak sengaja, dia sedang berada diluar dengan baju pasien dan selang infus. Bersama seorang pria yang menemaninya. Beliau terkejut, namun mengajakku mengobrol. Saat itu aku sudah berniat untuk meminta izin mendekatimu, namun kupikir bukan waktunya untuk membahas soal itu. Akhirnya kami mengobrol, lumayan lama," cerita Myungsoo. Aku mendengarkannya, perasaanku tak karuan—tidak jelas sedang berjalan di jalan kebencian atau malah kepanikan. Tapi aku akan terus mendengarkan cerita Myungsoo ini. "Dan saat itu aku tahu kalau ibumu sedang di rawat, kanker usus besar. Ibumu menjelaskan penyebabnya mungkin karena dulu beliau sering mabuk, dan kau tahu? wajahnya murung saat membahas soal kau, beliau menyesal dan ingin meminta maaf, namun ibumu takut kalau kau semakin membencinya. Lalu, ibumu mengatakan kalau kita cocok, dan mungkin aku bisa membuatmu bahagia. Kukatakan kalau beliau salah, kalau kaulah yang bisa membuatku bahagia. Kemudian akhirnya aku secara resmi 'meminta'-mu pada beliau."
Ucapan Myungsoo beberapa menit yang lalu dibenarkan oleh apa yang saat ini mataku lihat. Kacamata hitam bertengger di wajah, menutupi kedua mata-ku yang kini buram karena airmata yang kutekan keras agar tidak terjatuh. Aku membiarkan airmata itu abadi di ujung pelupuk mataku. Sudah ya, ini benar-benar diluar kendaliku, aku bahkan hampir tidak percaya kalau aku bisa menjatuhkan airmata untuk ibuku setelah segala hal yang kami lalui—yang kebanyakan bukan hal baik dan kenangan baik—ternyata aku tidak sedurhaka itu.
Pyo Sul duduk di sebelah Myungsoo, dia menyapaku sebentar dan aku balas dengan sebuah senyuman. Tujuh menit berlalu sejak cerita Pyo Sul yang secara garis besar sama seperti apa yang diceritakan Myungsoo padaku, dan sejak itu tidak ada yang bersuara satu pun di antara kami bertiga.
Kepalaku menunduk, mengikuti arah tanganku yang sejak tadi berada di genggaman Myungsoo dalam pangkuannya. Tak pernah dilepasnya barang sedetikpun sejak kami sampai di sini. Aku menghela napas pelan, lalu kembali membawa pandanganku pada pintu ruang operasi yang tertutup tak jauh dari tempat kami duduk. Keheningan memeluk, jarum jam terus berpindah, waktu terus berjalan, aku diam-diam resah. Jelas.
Seharusnya perasaan ini tak terjadi, bahkan dari sekian banyak hal yang kupikirkan tentang ibu, aku tidak pernah berpikir kalau ini yang akan terjadi. Kupikir lebih baik terus merasa kesal karena diporoti oleh ibu daripada aku merasa resah karena penyakit yang di derita ibu. Menurut cerita Pyo Sul ahjussi yang omong-omong ternyata tidak se-muda yang kupikirkan, ibu sudah lama melakukan konsultasi dan melakukan kemo. Kanker usus besar ini disebabkan kerena pola hidup yang tidak sehat—dan aku langsung menduga jika penyebabnya adalah karena ibu yang suka mabuk dan pernah merokok—dan uang yang di minta ibu berulang kali setiap ada kesempatan itu bukan untuk bisnis seperti yang ibu ceritakan padaku, itu untuk biaya pengobatannya. Untuk alasan kenapa ibu tak menceritakan penyakitnya padaku, Pyo Sul ahjussi menyuruhku bersabar karena itu bukan porsinya untuk bercerita.
Hidupku sungguh menyedihkan, bahkan ketika semua orang berpikir aku memiliki segalanya.
Tiba-tiba dering ponsel Myungsoo terdengar, terasa memekik di keheningan koridor ini. Mataku otomatis melirik—ini diluar kendaliku, you know?—ke arah Myungsoo yang sudah mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Kuputar bola mata ketika melihat siapa si penelepon itu, tolong ya sekarang aku sedang dalam suasana kelabu seperti ini perlu sekali wanita itu menelepon? Mau apa? mau bertanya apakah Myungsoo sudah sampai di apartemen atau belum? Atau, mau bertanya soal lamaran Myungsoo padaku tadi? gadis batinku berdecak, pasti Myungsoo akan mengangkat panggilan itu dan meninggalkanku dalam suasana canggung ini sendirian.
Semua orang tentu saja sama. Karena pada dasarnya laki-laki hanya ada dua tipe; playboy atau hom—
Sial, apa jangan-jangan Myungsoo homo?
Kedua kelopak mataku berkedip dua kali saat melihat Myungsoo yang alih-alih menjawab panggilan itu, ia malah mematikan ponsel dan kembali menaruhnya di dalam saku. Tanpa melepas genggaman tangannya padaku.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Celebrity And Her Perfect Match | MYUNGZY COUPLE
FanfictionDISCLAIMER: Cerita ini hanya fiksi belaka. Author hanya meminjam nama tokoh, tempat, dan merek untuk kebutuhan cerita. Cerita milik author, sedangkan Idol milik orang tua dan agensinya.🧡 Judul sebelumnya: Hello, "Bagaimana kalau kita berkencan?" "A...