Perihal Haechan
Kata seorang Mark Lee, Haechan itu beribaratkan pelataran pantai lepas. Layaknya sebuah destinasi tanpa sangsi. Mark rasa-rasanya tidak akan pernah merasa bosan untuk berucap, "Kita semua butuh sosok Haechan dalam hidup kita."
Ya, memangnya siapa yang menolak keberadaan seorang Haechan? Kita semua perlu akan Haechan.
Haechan, Haechan, Haechan Lee.
Tentang Haechan, ia pemuda yang kerap menggunakan kata-kata sebagai senjata.
Ah, Mark tertawa kecil mengingatnya. Ia menyandingkan rindu dengan kata teramat untuk Haechan. Mark ingin mendengar ocehan tidak masuk akal seorang Haechan yang anehnya kerap ia percayai.
Konyol.
Bahkan jika Haechan berkata bumi itu berbentuk segitiga, Mark tidak sedikitpun dibuat ragu. Ia akan percaya seutuhnya, "Dasar bodoh! Bumi itu segitiga, Jeno!"
Bisa dibayangkan Markk beradu mulut dengan Jeno si maniak fisika. Lalu jika ditanyai sumber apa yang ia jadikan acuan.
Akan Mark kumandangkan nama Haechan dengan lantang, berbangga diri. Sebab menurut Mark, ia punya sumber terpercaya di dunia: Haechan namanya.
Mark, Mark, Mark Lee,
ialah pria menginjak dewasa yang mengaku segala isi dari kesehariannya berubah abu-abu sejak seminggu lalu. Semuanya semu, membuat Mark kembali ragu kemudian melayu.
Mark rindu. Tetapi Haechan tidak ada niat mengajaknya bertemu.
Kejam, Si Kejam Haechan.
Mark merapalkan kalimat itu sudah puluhan kali untuk malam ini. Meski begitu, ia sedikit menyesal.
Jika saja Sabtu malam minggu lalu bisa ia genggam balik tangan Haechan guna menahan, semuanya akan berbeda dari sekarang ini.
Jika. Ya, hanya jika.
Mark pikir membiarkan Haechan meninggalkan rumah adalah keputusan paling tolol dari segala ketololan yang pernah ada setelah 20 tahun ia lahir di Bumi.
Akan Mark ulang waktu kalau itu memang mampu.
"Haechan tidak jauh dari sini, Mark."
Kalimat sampah. Mark ingin ibunya berhenti. Ya, Mark juga harap semua orang akan ikut berhenti berceloteh sialan. Lagi pula, apa sih yang mereka mengerti?
Hentikanlah. Mark bosan. Kalian semua bukan Haechan yang mampu mengubah pemikiran.
Baiklah, Haechan lagi dan Haechan lagi.
Tipikal Mark sekali. Menawarkan diri untuk hidup mengitari pemuda bernama Haechan yang ia jadikan poros berotasi.
Pernah sekali seorang Jeno mengutarakan hasil tiga harinya berobservasi.
"Haechan, kurasa si konyol ini akan mati kalau kau tinggal pergi."
Siang itu sedang ribut-ributnya air membasahi Bumi, ditambah gelegar dari langit pun seolah menyetujui apa yang Jeno keluarkan. Atau mungkin malah mengamini.
Paha Haechan berubah fungsi menjadi bantal dengan kepala Mark berada di atas pangkuan. Asik mengeratkan pegangan melingkari pinggang Haechan dengan kedua tangan tanpa peduli ucapan Jeno lebih banyak menjadi kenyataan. Sebab dua minggu setelahnya, Haechan pergi.
Ingin sekali Mark bertanya, seberapa malang hidup Si Jeno-Jeno itu? Sekali berucap langsung menyisakan jejak, kalimat yang sialannya tak mau menguap.
Haechan pergi, benar-benar pergi.
Tidak, Mark tidak mati. Hanya saja kini ia berubah sendiri.
Tak lagi nampak pria dewasa yang dengan tidak tahu malunya menempel di punggung Mark semacam anak koala.
Tak lagi ada pemuda tan yang menghujani kata maaf setelah mengejek habis alis camar kepunyaan Mark.
Padahal Mark mengaku tak apa jika saja Haechan ingin menghabiskan tiap harinya dengan mengatai sesuka hati. Mark hanya butuh Haechan untuk menetap. Di sana, bersamanya.
Namun rupanya Haechan tidak mau, ya?
Sekarang, Mark butuh pegangan. Dimana bisa ia temukan seseorang seperti Haechan?
Mark—pria hendak dewasa ini mengaku sekarat. Merindu sampai semuanya terasa buntu. Tetapi untuk mengajak bertemu lebih dulu, Mark mengadu belum mampu. Mark tak ada nyali menatap sekotak abu bertuliskan nama si kesayangan.
Seperti malam sebelumnya, tak ada yang bisa Mark lakukan selain menahan bibirnya untuk mengatup berhenti gemetar. Lalu menunggu waktu tiba dimana ia mulai bisa terbiasa, berdiri sendiri tanpa Haechan di sampingnya yang mengeratkan genggaman. Tanpa Haechan sebab Haechan tak lagi mau menemaninya. Mark tahu betul akan itu.
Haechan tak ingin diganggu.Menghampirinya dimimpi saja ia tak mau. Bagaimana mungkin Mark percaya diri untuk menyusul ke sana, mendatangi Haechan di jauh sana?
Ah, Mark jadi ingin menemui Jeno di lain waktu.Untuk sekadar mengabari, bahwa pria yang disebutnya Si Konyol waktu itu belum juga mati. Meski Haechan telah pergi.
Dan tidak akan kembali.

KAMU SEDANG MEMBACA
MONO ㅡ markhyuck
FanfictionMark dan Haechan pada satu cerita yang berbungkus di tiap satu bagiannya. [tiap cerita memuat topik yg mungkin sensitif bagi sebagian orang seperti trauma, kematian, kecelakaan, dll.] 2020©606DRAFT