#1 Banyak Jalan Menuju Seoul

458 32 42
                                    

Aku menatap satu persatu temanku dengan tatapan penuh tanya. Ya, hari ini masih saja sama–membahas cara untuk pergi trip ke Korea dan menonton pembukaan world tour BTS. Tapi bukankah ini malah terdengar berlebihan sekarang? aku bukanlah tipe penggemar fanatik. Jadi aku tak terlalu berambisi untuk pergi ke sana.

"Ish, masa nyerah gitu aja?" keluh Fira. Aku tahu ide gila ini cukup membuat kami semua terbebani. Bagaimana tidak? ini sudah seperti secercah harapan. Tapi sayangnya kami masih belum bisa menemukan solusi untuk menggapainya.

"Gini aja, aku udah cari beberapa brosur yang nawarin undian trip ke Korea. Walaupun kemungkinan yang dapet cuman salah satu dari kita, itu lebih baik. Seenggaknya bakal ada yang berangkat ke sana. Masalah yang lainnya? kita bisa titip salam 'kan?" tanya Nafa yang kemudian meletakan ponselnya di atas meja yang kami kelilingi. Aku bisa melihat ekspresi menimang dari Cici dan Fira. Sepertinya mereka akan menolak saran Nafa yang satu ini.

"Kayaknya aku bakal pake uang tabunganku aja."

"Wa, kamu serius?"

"Kapan lagi aku bisa trip kesana dan sebagai bonusnya bisa ketemu mereka?"

Aku sungguh tak menyangka dia bisa memutuskan hal besar hanya dalam waktu sekejap sedangkan yang lainnya bahkan masih bingung harus melakukan apa untuk bisa berangkat ke sana. Apa aku juga perlu menggunakan uang tabunganku juga? rasanya tidak mungkin. Meskipun orang tuaku tak pernah melarangku soal menggunakan tabunganku untuk hal seperti ini, tapi tetap saja sangat disayangkan jika aku menggunakannya hanya untuk menemui Kookie oppa di Korea.

"Kayaknya kita harus coba yang satu ini," Fira mengangguk untuk meyakinkan semuanya jika mengambil kesempatan itu bukanlah hal yang salah.

"Oke, kita coba."

Kini kami semua mengeluarkan ponsel masing-masing kemudian mengikuti syarat dan ketentuan untuk mengikuti undian trip ke Korea gratis. Semoga saja kami semua bisa mendapatkannya. Jika tidak semuanya, setidaknya salah satu saja. Itu lebih baik dibanding tak ada satupun dari kami yang mendapatkannya.

Kami semua saling memandang sesaat setelah pengisian syarat dan ketentuan itu rampung kami lengkapi. Aku masih berharap akan ada harapan dari undian ini.

Aku bisa melihat wajah pasrah dari Salwaa dan Fira. Sepertinya mereka berdua sudah hilang harapan terhadap undian ini.

"Gimana kalo kita kerja sambilan? mungkin aja sekarang lagi banyak dibutuhin karyawan magang," usulku sambil menatap mereka satu persatu menunggu persetujuan dari mereka. Mungkin saja opsi ini akan lebih efektif dibanding undian, "Kalian gak percaya?"

"Itu juga bisa, tapi gimana kalo–"

"Aku duluan ya, takut ketinggalan kelas," ujar Salfa yang membuat kami mengangguk.

"Eh iya, Nafa juga. Sal, tungguin!"

"Tinggal kita berempat. Kenapa aku jadi ngerasa semua ini adalah beban berat? padahal masalahnya gak rumit-rumit amat," kataku yang membuat Fira berdecak.

"Well, ini bukan beban berat lagi. Ini udah kayak apa ya? mikirin ujian mungkin."

"Eh, tapi kalo misalnya kita nonton di Jakarta juga bisa 'kan?" tanya Cici yang kemudian menyeruput minumannya.

"Moga salah satu dari kita dapet undian itu. Syifa sebenernya ada sih tabungan. Tapi masa iya Syifa pake semuanya buat biaya nonton konser?"

"Jual ginjal," celetuk Salwaa yang langsung membuat Fira memukulnya pelan. Aku tidak tahu jika pembahasan soal rencana pergi ke Korea ini bisa membuat otaknya berhenti berfungsi.

"Kalo gitu entar kamu ketemu Tae sambil megang infusan," kesal Fira yang tentu saja membuatku dan juga Cici saling tatap. Aku yakin Cici juga sedang menahan tawanya saat ini.

"Ish, aku kan cuma bercanda. Fira mah nganggep serius mulu. Nih, palaku sakit," gerutunya sambil menunjuk kepalanya sendiri.

"Udah udah, gak usah berantem."

"Dia tuh yang bikin esmosi."

"Emosi, Fir, emosi," sahut Salwaa yang membuat Fira sedikit mendelik.

"Iya, tau!"

*
*
*

"Syifa? lagi ada masalah?" tanya Risa, sahabatku. Aku yakin sejak tadi dia memperhatikanku saat sedang melamun. Aku juga tak tahu kenapa aku bisa memikirkan pembukaan world tour itu sedalam ini. Biasanya aku akan bersikap masa bodoh. Bahkan saat BTS mengadakan konsernya di Jakarta, aku lebih sering tak menghadirinya.

"Gak ada," jawabku berbohong.

"Jadi gak mau cerita nih?"

"Menurut kamu, mending Syifa nonton konser di Jakarta? atau Korea?" aku benar-benar merutuki kebodohanku setelah menanyakannya. Sudah jelas Risa tidak akan mau memberikan saran apapun. Syifa, seharusnya kau tidak menanyakan itu.

"Kpop lagi? Syifa, sampe kapan sih kamu ngidolain mereka? udah aku jelasin kan so–"

"Iya iya, Syifa tau. Maaf," pungkasku agar pembicaraan ini tak berlanjut sampai perdebatan. Asal kalian tahu, Risa adalah orang yang anti kpop. Dia selalu mengatakan teori-teori yang bersangkut paut antara dunia perkpopan dengan berbagai macam hal. Ya, aku juga tak pernah bisa menampik teori-teori logis yang dia katakan. Tapi mau bagaimana lagi? aku sudah terlanjur menyayangi Kookie kesayanganku. Tenang saja, aku masih tahu batasan. Bahkan aku tak pernah mengikuti mereka. Mengidolakan bukan berarti menyembah, bukan?

"Mending uangnya kamu pake buat yang lebih bermanfaat. Kasih ke panti asuhan misalnya, atau buat pembangunan masjid. Daripada kamu pake buat nonton konser."

Hufft. Mendengar saran dari Risa membuat niatku menciut lagi. Tadinya aku ingin mengikuti cara Salwaa dengan menggunakan uang tabungan. Tapi kali ini rasanya semakin berat saja aku menggunakan uang itu.

Tling!

Selingkuhan JK
Syifaaa
Aku dapet kerja sambilan yang cocok
Aku kirim brosurnya ntar

Aku menghela napas kemudian tersenyum. Aku pasti menemukan cara untuk mendapatkan uangnya. Setidaknya aku tidak akan menggunakan semua uang tabunganku, bukan? aku tak masalah jika uang tabunganku menjadi tambahannya jika kurang.

*
*
*

"Assalamualaikum, Syifa pulang!" aku sedikit bingung saat rumah benar-benar sepi. Apa semuanya sedang pergi?

Aku melangkahkan kakiku menuju kamarku. Mungkin semua orang rumah sedang pergi sekarang. Aku memutuskan meraih laptopku. Untung saja hari ini tak ada tugas sama sekali. Sehingga aku bisa menonton siaran langsung.

Dengan berbekal earphone, aku langsung membawa laptopku ke atas kasur dan mulai mencari channel milik BTS. Yang ku tahu hari ini Kookie akan melakukan siaran langsungnya. Benar saja, dia sedang melakukan siaran langsungnya. Namun saat aku baru saja akan mengklik video siaran langsung tersebut, ponselku sudah berdering. Hufft, ini sungguh menyebalkan.

Selingkuhan JK is Calling...

Itulah kira-kira tulisan yang kini muncul di layar ponselku. Tanpa pikir panjang aku langsung saja mengangkatnya.

"Iya, Ci?"

"Kamu udah liat brosurnya 'kan? entar besok kita kesana."

"Eh iya, Syifa lupa liat."

"Eh. Kirain udah diliat. Fira sama Salwaa juga katanya mau ikut. Kalo Salfa sama Nafa masih gak ada kabar."

"Oke, oke, nanti Syifa liat brosurnya."

"Udah ya, aku tutup."

Dengan rasa penasaran yang memenuhi pikiranku, aku langsung saja membuka foto brosur yang Cici kirimkan. Aku menatap foto itu dengan seksama. Aku seperti mengenal desain brosur itu.

"Ini kan...."













TBC🖤

30 May 2020

Paper Hearts✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang