eight

2.2K 380 44
                                    

Satu hari, dua hari, tidak terasa sudah satu minggu jeongin lewati tanpa menjadi baby sitter kakaknya, hyunjin. Ada rasa senang dan juga sedih, senang karena merasa tidak ada beban lagi, tetapi semakin sedih jika rasa cemas mulai menyerang jeongin, tetapi untungnya jika jeongin chat, hyunjin selalu membalasnya, ia sedang belajar, terapi lah, jalan-jalan lah, makan, menonton tv, dan lain-lain.

Jeongin terkadang bingung, sejak kapan ia menyimpan rasa lebih terhadap kakaknya? Sedari kecil atau setelah kakaknya berhasil menjalani terapi? Yang pasti jeongin sayang sekali pada hyunjin, hanya saja terkadang rasa terlalu lelah berubah menjadi tidak suka, namun jeongin tersadar, ini bukan salah hyunjin, bukan salah tuhan, bukan salah ibu, dan bukan salah siapa-siapa.

Sebagai seorang saudara, memang seharusnya menjaga satu sama lain, dan betapa senangnya jeongin saat terapi yang di jalankan kakaknya berjalan dengan lancar walaupun ada masalah di sekolah, membuat ia sadar, mengeluh dan merasa benci pada hyunjin tidak akan merubah segalanya melainkan malah memperburuk situasi.

Tetapi ... Menyukai hingga sampai menyimpan rasa lebih seperti ini malah semakin memperburuk suasana hatinya, bagaimana bisa ia menyukai saudara sendiri?!

Notifikasi dari hyunjin adalah hal favorite jeongin sekarang, setiap hari tiada hari tanpa bertukar kabar, hyunjin sangat talk active di chat, berbagai macam topik obrolan di bincang kan. Perang stiker dan meme pun mereka lakukan, fix dia bukan convo killer, batin jeongin.

"Sayang, ayo cepat sarapan dulu, nanti kesiangan."

"Dan berhenti senyum-senyum depan ponsel sendiri, itu menakutkan." Lanjut sang ibu sambil tersenyum mencurigai lalu pergi begitu saja.

Pagi, siang, malam, di sekolah, di rumah, 24/7 hidup jeongin sekarang di habiskan dengan bermain ponsel, bahkan teman-teman kelasnya berpikir bahwa jeongin sekarang tengah menjalin hubungan spesial dengan seseorang, tidak tahu saja mereka kalau kakak tirinya sendiri yang membuat jeongin seperti ini.

Buk ...

Kegiatan bermain ponsel jeongin terganggu. "Eh, beomgyu?" Kepalanya ia toleh kan sedikit untuk mengetahui siapa orang yang menepuk pundaknya kemudian lanjut bermain ponsel.

"Tidak cerita ya punya pacar?" Kursi depan jeongin ditarik, duduk disana lalu menatap jeongin penuh binar dengan kedua tangan di tumpu di dagu.

"Pacar apa? Ini kakak ku astaga ..." Sahut jeongin, ponsel nya diarahkan tepat di wajah beomgyu.

"Kakak atau kakak? Ini kali pertama ku lihat orang chat an dengan kakak sendiri tetapi seperti sedang kasmaran." Goda beomgyu, beomgyu tahu semua tentang hyunjin, dari cerita ah- lebih tepatnya keluhan jeongin tetapi pemuda ber mata rubah itu sudah jarang cerita apapun perihal kakak ataupun keluhannya menjadi baby sitter sang kakak akhir-akhir ini.

"Benaaar, aku belum sempat cerita ya kalau kak hyunjin sudah pindah ke jepang? Coba kau lihat, dia lucu sekali sih ... Salah masuk kelas, malah masuk kelas pengetahuan alam terus ikutin pelajarannya sampai akhir, hahaha." Jeongin tertawa renyah di ikuti beomgyu.

"Hm, terapinya berjalan dengan sangat lancar ya jeong? Aku ikut senang." Seingat beomgyu, beberapa bulan yang lalu temannya itu masih sering masuk kelas dengan wajah kusut, di tanya kenapa, kakaknya rewel lah, nangis minta bebek baru, mandi tidak bisa diam dan lihat sekarang jeongin tengah senyam-senyum, ketawa-ketiwi depan ponsel tahunya sedang chat an bersama kakak nya, makanya beomgyu tidak percaya, masa iya? dan memang benar itu hwang hyunjin, kakak tiri jeongin.

Convivencia ❲ hyunjin ft jeongin ❳Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang