"Alea, bisa bantu bapak?"
Alea mendongak ketika mendengar seruan guru didepan kelasnya, "Iya kenapa pak?" Tanyanya.
"Kamu bisa antarkan buku ini ke perpus? Bapak langsung ke kelas sebelah soalnya."
Guru di depannya mengangkat buku yang sempat dipelajari tadi.
"Iya pak," Usai mengucapkan itu Alea berjalan menghampiri guru yang tadi meminta bantuannya.
"Kamu taruh di perpus ya," Katanya. "Saya duluan." Setelahnya Alea berjalan mengikuti dibelakang dan berpisah ketika ia hendak turun kebawah sedangkan guru tadi berbelok ke kelas yang dekat tangga, tepatnya kelas 12 IPA 3.
Baru saja Alea berjalan beberapa langkah menjauh dari perpustakaan, terdengar teriakan menggema di seluruh penjuru lorong lantai bawah.
"Le."
Alea berhenti di tempat, perlahan ia membalikan tubuhnya ketika ia merasa dirinya yang di panggil.
Alea menyipitkan mata kala ia melihat kearah lapangan yang lumayan terik, padahal baru jam sepuluh pagi.
Orang tersebut melambai-lambaikan tangannya kala merasa Alea melihatnya.
"Alea, woy." Teriaknya lagi dengan sebelah tangan ia taruh di sekitar mulutnya membentuk sebuah stengah lingkaran.
Karena penasaran Alea menghampiri orang tersebut, setelah sampai Alea mendengus merasa menyesal karena sudah penasaran tadi.
"Tumben telat." Alea berkata menutupi penyesalan nya.
Keenan malah nyengir gaje, "Ehehe biasa." jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang terasa merinding mendengar perkataan Alea.
Reyhan datang dan langsung melempar botol minum isotonik yang ia beli di kantin tadi, "Nih, nyusahin aja jadi orang. Untung temen." gerutu Reyhan.
Pandanganya beralih menatap Alea, "Lo ngapain Le?" tanya Reyhan.
"Nggak" balas Alea cuek.
Reyhan menggeleng pelan, si Alea emang rada aneh kalo diajak ngobrol sama orang lain tapi kalo udah kumpul sama gengnya kayak orang kerasukan, gak pernah jaga imej sama sekali pikirnya.
"Si Bima mana?" Rey mengalihkan pandangannya kala Ken bertanya.
"Dah balik dia ke kelas." jawabnya.
“Yaudah, balik sono lo ke kelas.” dengan tak tau diri Ken mengusir Rey.
Rey mendelik pada Ken, “Gak tau diri emang udah nyuruh ngusir lagi. Sabar sabar.” Rey mengusap dadanya pelan, mendramatis keadaan.
Alea berdiri seperti orang bingung, hanya menatap pada dua orang yang berdebat tak penting.
“Lo ngapain tadi teriak?” tanya Alea kesal karena keberadaanya seperti makhluk halus yang tak kasat mata. Alias tak di anggap.
Keduanya menoleh bersamaan, Rey mendengus menarik tangan Alea mengajaknya pergi tanpa menjawab pertanyanya.
Ken melotot melihat itu sedangkan Alea mengibaskan tangannya yang di genggam Rey agar terlepas.
“Apaan sih lo narik-narik orang sembarangan, lo kira gue kambing.” Alea melotot garang pada Rey yang di balas senyum lebar Rey.
“Sory Le.” ungkap Rey seperti orang tidak punya salah.
“Modus aja lo, sono lo kelas gue mau ngomong sama Lea.” Ken datang menghampiri keduanya dan mengusir Rey lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Teluk Alaska [On Going]
Teen Fiction[VOTE SEBELUM MEMBACA] [On Going] "Lo tau kenapa kita dipertemukan?" "Kenapa?" "Karena tuhan pengen tau, kita lebih memilih umatnya atau penciptanya." -Alea Cassandra -Keenan Kavindra ****** PS:Cerita ini murni dari hasil mikir aku sendiri. Mohon ma...